



Di tengah maraknya media sosial dan budaya mengidolakan seseorang karena popularitas semata, kita dituntut lebih selektif dalam memilih guru, dan panutan yang diikuti. Khutbah Jumat ini mengingatkan pentingnya menjadikan ilmu, akhlak, istiqamah, serta kepatuhan terhadap syariat sebagai ukuran utama dalam mengidolakan seseorang, bukan sekadar penampilan, atau klaim spiritual semata.
اَلْحَمْدُ لِلّهِ، نَحْمَدُكَ اللَّهُمَّ عَلَى مَا هَدَيْتَنَا لِطَرِيْقِكَ القَوِيمِ وَفَقَّهْتَنَا فِي دِيْنِكَ الْمُسْتَقِيْمِ، نُصَلِّى وَنُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ المـصْطَفَى، وَأَلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ الصِّدْقِ وَالوَفَاء. أَمَّا بَعْدُ، يَا أَيُّهَا المُسْلِمِينَ أُصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الـمُـتَّقُوْنَ. قَالَ تَعَالَى فِى كِتَابِهِ الكَرِيِمِ: وَمَآ أَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ إِلَّا رِجَالٗا نُّوحِيٓ إِلَيۡهِمۡۖ فَسَۡٔلُوٓاْ أَهۡلَ ٱلذِّكۡرِ إِن كُنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ
Ayat ini mengajarkan kepada kita pentingnya bertanya dan merujuk kepada orang-orang yang benar-benar memiliki ilmu.
Jemaah salat Jumat dirahmati Allah,
Mungkin di antara kita ada yang pernah mendengar orang yang mengaku memiliki ‘keramat’ atau ‘kesaktian’. Maka dalam hal ini kita perlu berhati-hati.
Hadirin yang dimuliakan Allah, karamah bukanlah semata-mata kemampuan luar biasa seperti terbang di udara atau berjalan di atas air. Hakikat karamah adalah istiqamah dalam menjalankan ketaatan kepada Allah dan menjauhi larangan-Nya
.الاِسْتِقَامَةُ خَيرٌ مِنْ أَلْفِ كَرَامَةٍ
“Istikamah itu lebih baik dari seribu kekeramatan!”
Atau maqalah ulama lainnya,
الاِسْتِقَامَةُ عَينُ الكَرَامَةِ
“Istikamah adalah bentuk kekeramatan itu sendiri!”
Nasihat ini menunjukkan bahwa ukuran kemuliaan seseorang dalam Islam bukanlah hal-hal menakjubkan yang tampak di mata manusia, melainkan sejauh mana ia menjaga syariat Allah.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Dahulu, Syekh Junaidi Al-Bagdadi (w. 910 H.) sudah mengingatkan kita agar tidak mudah kagum, percaya, atau sampai mengikuti orang-orang yang memiliki kekeramatan atau kesaktian tanpa mengerti detail bagaimana ia dalam jalankan syariat.
لَوْ رَأَيتُمْ رَجُلًا قَدْ تَرَبَّعَ فِى الهَوَاءِ فَلَا تَقْتَدُوا بِهِ، حَتَّى تَرَوْا صُنْعَهُ عِنْدَ الأَمْرِ وَالنَهيِ، فَإِن رَأَيتُمُوهُ مُتَمَثِّلًا لِجَمِيعِ الأَوامِرِ الإلَهِيَّةِ مُجْتَنِبًا لِجَمِيعِ الـمَنَاهِي فَاقْتَدُوا بِهِ، وَإِنْ رَأَيتُمُوهُ يَخُلُّ بِالأَوَامِرِ وَلَا يَجْتَنِبُ الـمَنَاهِى فَاجْتَنِبُوهُ
“Andai kalian melihat orang yang bisa duduk di atas angin janganlah kalian ikuti mereka! Silakan ikuti dia jika kalian benar-benar melihat bahwa perbuatan orang tersebut (selalu) amar makruf dan nahi munkar, bahwa orang itu menjalankan semua perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan Allah. Andai kalian melihat orang tersebut tidak mengajak dalam kebaikan dan meninggalkan larangan-larangan, maka jauhilah ia!”
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Memang, sentimen agama itu kerap dijadikan alat untuk menggiring orang-orang tidak paham atau bodoh. Sehingga kita perlu waspada, jangan sampai orang-orang yang katanya punya keramat mudah kita ikuti begitu saja, tanpa mengetahui bagaimana hubungannya dengan Tuhannya.
Apakah ia salat, mengerti tata cara wudu dengan benar, apakah ia berguru kepada guru yang benar, dan berbagai ukuran syariat harus kita jadikan barometer, layak atau tidak kita ikuti orang tersebut.
Ini penting, hadirin! Jangan sampai klaim kekeramatan atau pengakuan spiritual tertentu membuat kita lengah terhadap pentingnya berpegang pada Al-Qur’an dan sunah.
Jemaah salat Jumat yang berbahagia,
Syekh Sha’rani dalam kitab Tanbihul Ghafilin bercerita, bahwa beliau juga pernah menghadapi orang yang ngaku “keramat” atau “sakti”, nahasnya orang tersebut pun banyak pengikutnya kala itu.
Orang yang ngaku keramat ini nampak seperti ulama, menggunakan pakaian ala ulama. Syekh Sha’rani pun melemparkan pertanyaan sederhana, “Coba jelaskan kepadaku tentang sarat-sarat wudu dan salat!”. Orang ini malah menjawab dengan dalih, “Saya ini tidak pernah membaca ilmu satu pun!”
Syekh Sha’rani pun dengan bijak menasehatinya,
“Wahai saudaraku! Sungguh sahnya ibadah-ibadah kita harus berdasarkan Al-Qur’an dan sunah, dan itu perkara yang wajib dipelajari secara ijmak para ulama. Orang yang tidak bisa membedakan mana yang wajib, mana yang sunah, mana yang makruh, dan mana yang haram berarti ia bodoh.”
Orang tersebut pun terdiam dan tidak mampu menjawab pertanyaan itu di hadapan para pengikutnya. Syekh Sha’rani pun melanjutkan, “Dan orang bodoh itu tidak bisa diikuti baik dalam laku zahir atau batinnya.”
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Kita pun diingatkan oleh Syekh Sha’rani agar tidak mudah percaya dengan orang yang memiliki kekeramatan, atau menganggap dirinya sufi tapi tidak berlandaskan Al-Qur’an dan hadis.
Kita perlu selektif dalam memilih guru, teman, dan idola. Ya, agar kita tidak terjerumus dalam kubangan kesesatan! Bagaimanapun, kita mudah terbentuk berkat dorongan orang yang kita idolakan, bukan! Kalau kita salah mengidolakan sosok, apa jadinya.
Di zaman media sosial saat ini, seseorang bisa dengan mudah menjadi panutan hanya karena popularitas, penampilan, atau konten-konten yang menarik perhatian. Padahal belum tentu ia memiliki akhlak, ilmu, dan ketakwaan yang layak dijadikan teladan.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Semoga kita selalu diberi hidayah Allah agar mengidolakan orang-orang yang tepat dan benar.
هَدَانِي اللهُ وَاِيَّاكُمْ
أَقُوْلُ قوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتغْفِرُ اللهَ ُ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khotbah II
اَلْحَمْدُ للّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعدُ.
فَيا أَيُّها الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفسِيْ بِتقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّها الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبرَاهِيْمَ وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِنَا إِبرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبرَاهِيْمَ وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِنَا إِبرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغيَ وَالسُّيوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً وَمِنْ بلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ. عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
Alumni Ponpes Mambaus Sholihin, Gresik.