

![[Khutbah Idul Adha] Pengorbanan Nabi Ibrahim dan Perjuangan Kita Melawan Covid-19](https://arrahim.id/wp-content/uploads/2020/07/ezgif-2-87baa0d7cffb-825x510.png)
![[Khutbah Idul Adha] Pengorbanan Nabi Ibrahim dan Perjuangan Kita Melawan Covid-19](https://arrahim.id/wp-content/uploads/2020/07/ezgif-2-87baa0d7cffb-825x510.png)
اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ
اَللهُ أَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لَاإِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لاَإِلهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ اْلحَمْدُ
اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَمَاتَ وَ أَحْيَى. اَلْحَمْدُ للهِ الًّذِيْ أَمَرَنَا بِالتَّقْوَى وَ نَهَانَا عَنِ اتِّبَاعِ الْهَوَى. اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ جَعَلَ لَنَا عِيْدَ الْفِطْرِ وَ اْلأَضْحَى. أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ نِعْمَ الْوَكِيل وَنِعْمَ الْمَوْلَى، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَ مَنْ يُنْكِرْهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلاَلاً بَعِيدًا. وَ صَلَّ اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا وَ حَبِيْبِنَا الْمُصْطَفَى، مُحَمَّدٍ نَبِيِّ الْهُدَى، الَّذِيْ لاَ يَنْطِقُ عَنْ الْهَوَى، إِنْ هُوَ إِلاَّ وَحْيٌ يُوْحَى، وَ عَلَى اَلِهِ وَ أَصْحَابِهِ أَهْلِ الصِّدقِ وَ الْوَفَا. اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِمَنْ اِتَّبَعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْجَزَا
أَمَّا بَعْدُ: فَيَاأيُّهَا الإِخْوَان، أوْصُيْكُمْ وَ نَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنْ، قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي اْلقُرْانِ اْلكَرِيمْ: أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الَّشيْطَانِ الرَّجِيْم، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمْ وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ. وقَالَ أَيْضاً إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ. فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ. إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ. صَدَقَ اللهُ العَظِيمْ
Jamaah shalat Idul Adha yang dirahmati oleh Allah..
Pada setiap 10 Zulhijah, umat Islam sedunia memperingati hari raya Qurban atau hari raya Haji. Kedua kata tersebut merujuk pada perjalanan hidup nabi besar Ibrahim alaihi salam. Disebut dengan hari raya Qurban karena pada saat itu nabi Ibrahim diuji dengan cobaan yang paling berat yaitu mengorbankan anak yang sangat dicintai Ismail dengan menyembelihnya. Sementara disebut dengan hari raya Haji karena pada saat itu di tanah Haram rangkaian agenda ibadah Haji dilaksanakan. Ia adalah ringkasan perjalanan hidup nabi Ibrahim yang berisi kepatuhan kepada Allah, perlawanan terhadap godaan setan dan ibadah di Masjidil Haram sebagai pusat bumi, rumah Allah yang pertama di muka bumi.
Allahu Akbar 3X..
Dalam surah as-Saaffat: 102, Allah berfirman:
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعۡیَ قَالَ یَـٰبُنَیَّ إِنِّیۤ أَرَىٰ فِی ٱلۡمَنَامِ أَنِّیۤ أَذۡبَحُكَ فَٱنظُرۡ مَاذَا تَرَىٰۚ قَالَ یَـٰۤأَبَتِ ٱفۡعَلۡ مَا تُؤۡمَرُۖ سَتَجِدُنِیۤ إِن شَاۤءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّـٰبِرِینَ
Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.
Dalam Surah as-Saaffat: 103-107:
فَلَمَّاۤ أَسۡلَمَا وَتَلَّهُۥ لِلۡجَبِینِ وَنَـٰدَیۡنَـٰهُ أَن یَـٰۤإِبۡرَ ٰهِیمُ قَدۡ صَدَّقۡتَ ٱلرُّءۡیَاۤۚ إِنَّا كَذَ ٰلِكَ نَجۡزِی ٱلۡمُحۡسِنِینَ إِنَّ هَـٰذَا لَهُوَ ٱلۡبَلَـٰۤؤُا۟ ٱلۡمُبِینُ وَفَدَیۡنَـٰهُ بِذِبۡحٍ عَظِیمࣲ
Maka ketika keduanya telah berserah diri dan dia (Ibrahim) membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (untuk melaksanakan perintah Allah). Lalu Kami panggil dia, “Wahai Ibrahim! sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu.” Sungguh, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.
Ujian menyembelih Ismail dan kepatuhan nabi Ibrahim serta tebusan domba oleh Allah atas kepatuhan nabi Ibrahim, mengandung makna kepatuhan yang luar biasa atas perintah yang luar biasa dan balasan yang luar biasa. semakin tinggi derajat seseorang maka semakin berat ujian dari Allah yang harus dihadapinya. Menyembelih anak kandung adalah sesuatu yang terberat yang tidak bisa diterima oleh akal siapa pun sehingga tidak mungkin orang patuh terhadap perintah semacam itu. Tapi, Ibrahim dengan kepatuhan yang melebihi rerata manusia mengikutinya hingga dia diangkat derajatnya menjadi pemimpin bagi sekalian manusia.
Dalam Albaqarah: 124, Allah berfirman:
وَإِذِ ٱبۡتَلَىٰۤ إِبۡرَ ٰهِـۧمَ رَبُّهُۥ بِكَلِمَـٰتࣲ فَأَتَمَّهُنَّۖ قَالَ إِنِّی جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامࣰاۖ قَالَ وَمِن ذُرِّیَّتِیۖ قَالَ لَا یَنَالُ عَهۡدِی ٱلظَّـٰلِمِینَ
Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat, lalu dia melaksanakannya dengan sempurna. Dia (Allah) berfirman, “Sesungguhnya Aku menjadikan engkau sebagai pemimpin bagi seluruh manusia.” Dia (Ibrahim) berkata, “Dan (juga) dari anak cucuku?” Allah berfirman, “(Benar, tetapi) janji-Ku tidak berlaku bagi orang-orang zhalim.
Dalam tafsir al-Waseet, Muhammad Sayyid Tantawi, mantan Syekh al-Azhar Mesir, mengutip dari Ibn Jarir mengatakan bahwa yang dimaksud dengan ‘beberapa kalaimat’ dalam “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat”, adalah Perintah-perintah Allah.
Setelah lulus dari pelbagai ujian dan Ibrahim melaksanakan perintah Allah betapapun beratnya, Allah mengangkat beliau menjadi imam atau pemimpin bagi sekalian manusia. Mendengar rencana Allah tersebut, apa jawab Ibrahim? beliau menjawab: “dari keturunanku juga” yang berarti bahwa Nabi Ibrahim tidak ingin hanya dirinya yang diangkat tapi beliau berharap agar keturunannya juga demikian. Beliau tidak mengabaikan nasib anak-cucunya hingga berharap agar derajat yang tinggi yang diterimanya juga diterima oleh anak dan keturunannya.
Dari sini, maka orang tua harus selalu tidak berhenti berdoa dan berharap-harap akan kebaikan masa depan anak dan keturunannya. Kebaikan itu tentunya bukan harta yang melimpah tapi kedudukan sebagai pemimpin yang baik bagi orang banyak. Ini juga menunjukkan bahwa orang baik adalah orang yang selalu memikirkan nasib orang lain dan tidak mementingkan diri sendiri saja.
Terhadap permintaan Nabi Ibrahim itu, jawaban Allah sungguh menarik: “(Benar, tetapi) janji-Ku tidak berlaku bagi orang-orang zhalim.” Di sini Allah menjawabnya dengan jawaban positif bahwa Allah akan mengangkat anak dan keturunan Ibrahim sebagai pemimpin manusia, tapi (ada tapinya), janji kedudukan ini tidak berlaku bagi keturunan Ibrahim yang zalim. Yaitu mereka yang mengabaikan seruan Allah dan tidak berbuat sesuai apa yang seharusnya sehingga merugikan orang lain. Pertanyaannya, adakah keturunan Ibrahim yang zalim dan tidak baik?
Allahu Akbar 3X..
Dalam sejarah Rasulullah Muhammad, kita sering mendengar bahwa musuh terbesar rasulullah adalah dari paman-pamannya seperti Abu Jahal, Abu Lahab dan Abu Sufyan (sebelum masuk Islam). Abu Lahab adalah paman dekat di mana dia adalah saudara ayah bersama Abu Talib, Hamzah dan Abbas. Sedangkan Abu Sufyan dengan Rasulullah bertemu silsilah mereka pada nenek moyang Abdul Manaf. Muhammad bin Abdillah bin Abdil Mutallib bin Hasyim bin Abdil Manaf sementara Abu Sufyan bin Umayyah bin Abd Syams bin Abdil Manaf. Baik Rasulullah mau pun paman-paman musuhnya adalah keturunan yang sama.
Jika kita sering menyebut bahwa Nabi Muhammad adalah keturunan nabi Ibrahim maka Abu Jahal dan Abu Lahab bahkan seluruh kafir Quraish Mekkah adalah keturunan nabi Ibrahim juga. Apalagi disebutkan bahwa bangsa Arab adalah keturunan Adnan bin Ismail bin Ibrahim sedang Bani Israel adalah keturunan Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim dari istri beliau Siti Sarah. Maka tidak semua keturunan Ibrahim adalah orang baik, di antara menjadi musuh bagi nabi-nabi yang diutus di kalangan mereka. Hal ini agar menjadi pengingat agar selalu berusaha dan berdoa agar anak dan keturunan kita menjadi anak yang baik. Sebab Allah tidak menjamin semua keturunan kita akan baik seperti halnya baginda nabi besar kita Ibrahim alaihi salam.
Allahu Akbar 3X..
Di masa pandemi Corona ini, kiranya nilai kesabaran dalam menghadapi cobaan seperti yang ditunjukkan oleh Nabi Ibrahim relevan untuk kita tiru. Pandemi yang merupakan bencana ini, apakah terjadi karena ulah manusia atau karena ujian dari Allah bagi sekalian manusia, dalam keduanya kesabaran dan ikhtiar adalah kunci sukses dalam mengatasinya. Tanpa kesabaran manusia akan menjadi tidak patuh dan disiplin terhadap arahan dari pemerintah dalam bentuk protokol kesehatan. Tanpa ikhtiar, apalagi, pandemi akan semakin menyebar dan tidak terkendali sehingga akan memangsa semakin banyak korban baik pasien mau pun tenaga medis.
Hingga kini di negara kita telah mencapai 80.000 jumlah terinfeksi dan 3.700 korban kematian dan kesembuhan kurang lebih separuh. Jumlah yang terus bertambah dan tidak kunjung melandai ini patut menjadi peringatan kita semua agar berusaha lebih keras dalam menghadapi Covid-19. Semoga semangat pengorbanan Idul Adha menjadikan kita mampu mengalahkan pandemi yang setengah tahun menjangkiti dunia dan kita semua umat Islam.
بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم
Khutbah II
اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ
اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِي إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ.
رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ
Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya