Apakah Perubahan Itu Bertahap atau Mendadak? Tilikan Ibn Attaillah tentang Pertumbuhan Spiritual dan Ilusi “New Year, New Me”

Tahun baru kerap datang membawa janji yang familiar. Kalender diatur ulang dan media sosial dibanjiri dengan deklarasi penemuan kembali diri. Frasa “new year, new me” (tahun baru, diri baru) beredar seolah-olah waktu itu sendiri memiliki kekuatan moral untuk membentuk kembali manusia dalam semalam.

Dalam narasi ini, perubahan dibayangkan sebgai sesuatu yang mendadak, tegas, dan mulus. Seseorang melintasi ambang batas yang tak terlihat, meningglkan kebiasaan lama, kegagalan lama, dan diri lama. Namun, pengalaman hidup diam-diam menolak fantasi ini.

Sebagian besar transformasi berlangsung tidak merata, ragu-ragu, dan seringkali tak terlihat. Di sinilah refleksi Ibn Attaillah al-Sakandari,seorang sufi masyhur pada Abad Pertengahan, menawarkan tata bahasa perubahan yang sangat berbeda, yang menggoyahkan obsesi modern terhadap pembaruan instan.

Dalam pandangan dunia Ibn Attaillah, pertumbuhan spiritual tidak mengikuti logika grafik kemajuan linier atau slogan-slogan motivasi. Aforismenya dalam al-Hikam berulang kali memperingatkan agar tidak mengukur transformasi melalui tanda-tanda lahiriah atau garis waktu yang dipercepat.

Ibn Attaillah mengingatkan pencari kebenaran bahwa tindakan Tuhan beroperasi di luar ketidaksabaran manusia, membentuk jiwa melalui proses yang menolak pengakuan langsung. Dari perspektif ini, perubahan bukanlah sebuah aksi heroik atau perombakan diri yang dramatis. Ia adalah pengungkapan yang terjadi sesuai dengan kebijaksanaan daripada ambisi.

Kecenderungan modern pada perubahan mendadak sangat terkait dengan budaya produktivitas yang bersifat performatif. Berubah dengan cepat adalah untuk membuktikan keseriusan, disiplin, dan nilai. Sebaliknya, perubahan lambat sering diartikan sebagai kegagalan atau kurangnya komitmen.

Ibn Attaillah dengan tenang membongkar asumsi ini dengan menggeser sumbu transformasi dari  hasil yang terlihat menuju orientasi batin. Yang penting bukanlah kecepatan pergerakan, tetapi arah hati. Seseorang mungkin tampak stagnan sembari mengalami penataan ulang batin yang mendalam, sama seperti orang lain mungkin menunjukkan reformasi lahiriah yang mengesankan sementara batinnya tetap tidak tersentuh.

Salah satu tilikan Ibn Attaillah yang paling menggelisahkan berkaitan dengan bahaya ketidaksabaran dalam perjuangan spiritual. Ia memperingatkan bahwa tergesa-gesa itu sendiri dapat menjadi bentuk ego yang halus, yang disamarkan sebagai kesalehan.

Ketika seorang pencari menuntut hasil yang cepat, diri secara diam-diam menegaskan kembali kendali, mengubah jalan spiritual menjadi proyek ego pribadi. Dalam pengertian ini, keinginan untuk perubahan mendadak mencerminkan logika “tahun baru, diri baru”: ia mengasumsikan bahwa transformasi adalah sesuatu yang dapat direkayasa melalui upaya dan perencanaan yang cukup.

Ibn Attaillah menentang hal itu dengan menegaskan bahwa perubahan nyata terjadi ketika diri melepaskan obsesinya terhadap penguasaan dan tunduk pada ritme yang bukan pilihannya sendiri.

Ini tidak berarti bahwa ikhtiar tidak relevan. Ibn Attaillah tidak pernah menganjurkan kepasifan atau fatalisme. Sebab, ia merekonfigurasi ikhtiar sebagai partisipasi daripada produksi. Para pencari bertanggung jawab atas ketulusan, kehadiran, dan konsistensi, sementara hasil tetap menjadi ranah kebijaksanaan ilahi.

Dengan demikian, perubahan menjadi gradual atau bertahap dalam praktiknya, meskipun dampaknya mungkin tampak tiba-tiba jika dilihat kembali. Apa yang tampak seperti kebangkitan spiritual tiba-tiba seringkali merupakan momen yang terlihat dari proses pematangan yang panjang dan tak terlihat.

Pandangan seperti itu menggoncang narasi kontemporer yang menyamakan transformasi dengan pemutusan dramatis dari masa lalu. Obsesi untuk memulai kembali setiap bulan Januari mengasumsikan bahwa diri dapat dibagi secara bersih menjadi “sebelum” dan “sesudah”. Namun, Ibn Attaillah memahami diri sebagai sesuatu yang berlapis, bertekstur historis, dan resisten terhadap penghapusan.

Penting dicatat bahwa pertumbuhan tidak memusnahkan diri sebelumnya; ia mengonfigurasi ulang maknanya. Kegagalan, pengulangan, dan kemunduran bukanlah anomali yang harus dihilangkan, tetapi materi yang melaluinya kebijaksanaan perlahan-lahan dibentuk.

Ada juga dimensi etis dalam pemahaman perubahan ini. Narasi transformasi yang tiba-tiba sering kali menghasilkan kekerasan diam-diam terhadap diri sendiri. Ketika resolusi gagal—seperti yang sering terjadi—individu tersebut akan merasa bersalah, malu, dan merasa tidak mampu secara moral.

Ibn Attaillah menawarkan alternatif yang lebih lembut, meskipun tidak kalah menuntut. Dengan memisahkan nilai spiritual dari kemajuan yang terlihat, ini memungkinkan pencari kebenaran untuk tetap terlibat secara etis tanpa dihancurkan oleh harapan yang tidak terpenuhi.

Maka, pertanyaannya bergeser dari “apakah saya sudah cukup berubah?” menjadi “apakah saya hadir seutuhnya ​​dalam keterbatasan saya saat ini?” Ibn Attaillah juga mengakui bahwa perubahan memang bisa terasa tiba-tiba.

Momen-momen insaf, pertobatan, atau pencerahan spiritual dapat datang secara tak terduga, mengubah orientasi seseorang dalam sekejap. Namun, bahkan momen-momen semacam itu tidak muncul begitu saja, lantaran itu semua adalah hasil gangguan yang membuat terlihat apa yang telah diam-diam terbentuk di bawah permukaan.

Berkenaan dengan “tahun baru, diri baru”, pemikiran Ibn Attaillah terdengar hampir subversif. Ia mengajak kita untuk tidak memercayai tontonan transformasi instan dan sebaliknya memperhatikan kerja kerasnya yang tenang. Menurutnya, jiwa tumbuh lebih seprti lanskap yang dibentuk oleh cuaca alih-alih produk yang dirakit oleh desain. Beberapa perubahan hampir tidak terlihat dari hari ke hari, tetapi seiring waktu perubahan tersebut mengubah seluruh lanskap.

Mungkin implikasi paling radikal dari ajaran Ibnu Attaillah adalah bahwa perubahan yang bermakna tidak dimulai dengan kalender. Perubahan dimulai ketika diri melepaskan cengkeramannya pada kendali dan belajar untuk hidup dengan setia dalam ketidakpastian.

Oleh sebab itu, perubahan dan pertumbuhan bukanlah sepenuhnya bertahap atau tiba-tiba. Ini adalah ritme kesabaran yang diwarnai oleh rahmat, yang terungkap bukan menurut jadwal kita, tetapi menurut kebijaksanaan yang merentang lebih jauh daripada kita.

Di zaman yang tergila-gila dengan perubahan instan, Ibn Attaillah mengingatkan kita bahwa “menjadi” (becoming) bukan tentang permulaan yang dramatis, melainkan tentang kehadiran yang berkelanjutan. Pertanyaannya bukan lagi apakah kita bisa mnjadi orang baru tahun ini, tetapi apakah kita bisa tetap hadir saat kita dengan perlahan dan tenang mengalami transformasi.

0

Mahasiswa Program Studi Agama dan Lintas Budaya (CRCS), Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada—tinggal di anggaarifka.blogspot.com

Post Lainnya

Arrahim.id merupakan portal keislaman yang dihadirkan untuk mendiseminasikan ide, gagasan dan informasi keislaman untuk menyemai moderasi berislam dan beragama.