Filter, Feed, dan Fitnah: Menghadapi Dunia Palsu dengan Hati yang Tulus

Di era di mana segalanya bisa diedit, dipoles, atau dihapus, keaslian telah menjadi permata amat langka. Kita menelusuri feed yang dikurasi penuh untuk menampilkan mulai dari sarapan, wajah, ibadah, hingga kehidupan yang teramat indah dan sempurna. Batas antara inspirasi dan ilusi pun tampak kabur. Di balik semua polesan itu, banyak dari kita diam-diam bertanya-tanya: Apakah kini masih ada yang riil? Dan yang lebih penting, apakah saya juga riil?

Medsos dulunya adalah tempat untuk terhubung. Namun, medsos kini sering kali terasa seperti panggung di mana kita menjalani hidup, mengedit perjuangan kita, dan menampilkan sisi terbaik dari diri kita. Dengan beberapa usapan dan filter, kita dapat membentuk ulang realitas.

Bahkan aspek-aspek religius dan spiritual pun tak luput dari kinerja polesan digital ini. Orang-orang mengunggah bacaan Al-Quran yang melodis, menampilkan sujud mereka dalam cahaya keemasan, atau mencuit kalimat-kalimat spiritual yang mungkin mencerminkan atau tidak mencerminkan keadaan batin mereka.

Ini bukan tentang menghakimi siapa pun. Ini tentang mengajukan pertanyaan yang lebih mendalam. Apa yang terjadi ketika hati kita dipenuhi dengan keinginan untuk tampil, alih-alih keinginan untuk menjadi? Berapa harga yang harus dibayar untuk terus-menerus “memfilter” hidup kita dan bahkan jiwa kita?

Algoritma Tidak Mengetahui Niat Manusia

Salah satu ajaran terdalam dalam Islam adalah bahwa niat lebih penting daripada penampilan. “Amal itu tergantung niat,” kata Nabi Muhammad. Namun, media sosial menilai bergantung pada suka (likes), tayangan (views), dan interaksi. Algoritma tidak mengenali ketulusan. Algoritma menghargai tontonan, bukan tuntunan. Jika kita tidak berhati-hati, kita mungkin mulai mengejar bagan metrik, alih-alih makna.

Fitnah, dalam istilah Islam klasik, sering merujuk pada cobaan, kebingungan, atau pergolakan moral. Era digital adalah sebuah fitnah besar. Bukan karena teknologi pada dasarnya jahat, melainkan karena ia mengajak kita untuk hidup di luar diri kita sendiri, mengukur nilai kita melalui komponen medsos seperti berapa banyak disukai dan dibagikan.

Parahnya, medsos bahkan membawa kita untuk dapat mulai iri pada orang yang bahkan tidak kita kenal. Kita membandingkan kegiatan di balik layar kita dengan cuplikan sorotan milik orang lain. Dalam prosesnya, hati kita menjadi gelisah, tidak aman, dan lelah. Inilah fitnah dari feed medsos.

Maka dari itu, amat penting untuk menerapkan penyucian (tazkiyah) di dunia medsos. Tazkiyah dalam spiritualitas Islam tradisional adalah tentang penyucian hati. Prosesnya mencakup ketenangan dan kesabaran. Akan tetapi, budaya digital melatih kita untuk hal yang sebaliknya, yaitu instanisme, viralitas, dan reaksi cepat. Kita terus-menerus dibombardir dengan informasi, opini, dan kontroversi: kemarahan laku dan viralitas menggoda.

Lalu, bagaimana kita melindungi ketulusan dan keikhlasan kita? Bagaimana kita mempraktikkan ihsan, yaitu menyembah Tuhan seolah-olah kita melihat-Nya, ketika kita terus-menerus—ingin—dilihat oleh orang lain?

Mungkin kita mesti mulai dengan mengarahkan lensa ke dalam diri. Tidak semua hal perlu diunggah: tidak semua tindakan kebaikan, tidak semua renungan mendalam, tidak semua doa. Beberapa momen memang dimaksudkan untuk tetap khidmat, tak terlihat oleh dunia tetapi sepenuhnya diketahui oleh Tuhan.

Hal itu bukan ajakan untuk menghilang dari medsos, melainkan menjadi panggilan untuk kembali menjadi diri kita sendiri: apa adanya, tanpa filter, dan dengan indahnya kekurangan. Kekurangan dan ketidaksempurnaan bukanlah kelemahan, melainkan tanah tempat ketulusan bertumbuh.

Mengembalikan Hati yang Ikhlas

Keikhlasan sering diremehkan dalam ekonomi perhatian di medsos saat ini. Ia tidak menjadi tren, sebab ia tidak menghasilkan uang, tak menghasilkan apa-apa. Namun, ia merupakan fondasi jiwa yang benar-benar hidup.

Di dunia yang berkata “virallah”, ikhlas berkata “terpendamlah”. Dalam budaya yang berkata “tunjukkan lebih banyak”, keikhlasan menukas “rasakan lebih dalam”. Tuhan tidak membutuhkan unggahan kita. Dia meminta hati kita.

Al-Qur’an mengingatkan kita, “Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu menampakkannya, Allah pasti mengetahuinya” (QS. Ali Imran [3]: 29).

Ayat itu saja bisa menjadi detoks harian. Apa yang akan terjadi jika kita berhenti sejenak sebelum berbagi atau memosting, dan bertanya pada diri sendiri: Apakah aku mengunggah ini untuk mencari pengakuan atau untuk membagikan kebenaran? Apakah aku memamerkan kesalehan atau mengamalkannya? Apakah aku memuaskan egoku atau jiwaku?

Jawabannya mungkin tak selalu nyaman. Namun, jawabannya akan selalu membebaskan. Kita harus ingat: iman tak selalu estetis, sebab terkadang berantakan. Iman bisa berupa masa-masa kering, keraguan, tangisan di malam hari, melewatkan fajar, dan mencoba lagi. Iman adalah pertobatan setelah rasa malu. Iman kembali, lagi dan lagi.

Perjalanan Islam yang sesungguhnya bukanlah perjalanan yang pas di Instagram. Perjalanan itu seyogianya pengembaraan batin yang hanya sedikit orang akan pernah melihatnya, tetapi Tuhan sepenuhnya menyaksikan dan membersamainya.

Maka, marilah kita berani untuk menjadi riil. Kita memulai menyampaikan kebenaran bahkan ketika itu tidak akan menjadi populer dan viral. Kita seyogianya menjalani iman kita bukan hanya daring, tetapi terutama ketika tidak ada yang memperhatikan. Mari kita kembali ke inti etika Islam: kerendahan hati, keikhlasan, ketulusan, dan kehadiran.

Sebetulnya tak ada filter yang dapat memperindah hati yang tidak jujur, dan takkan pernah ada algoritma yang dapat mengangkat derajat kita seperti rahmat Tuhan. Nilai diri kita bukan pada seberapa banyak orang melihat kita, tetapi pada seberapa dalam kita dilihat oleh Tuhan.

0

Mahasiswa Program Studi Agama dan Lintas Budaya (CRCS), Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada—tinggal di anggaarifka.blogspot.com

Post Lainnya

Arrahim.id merupakan portal keislaman yang dihadirkan untuk mendiseminasikan ide, gagasan dan informasi keislaman untuk menyemai moderasi berislam dan beragama.