



Dalam beberapa tahun terakhir, kata hijrah telah menemukan makna baru. Tak lagi sekadar momen bersejarah hijrahnya Nabi Muhammad dari Makkah ke Madinah, hijrah telah menjadi kata kunci untuk transformasi pribadi, sebuah perubahan dalam beragama, kesederhanaan, dan kejernihan moral.
Bagi banyak orang, hijrah adalah perjalanan yang indah. Kembali kepada ajaran agama, tujuan hidup, dan kedamaian batin. Seseorang meninggalkan kebiasaan buruk, membuang apa yang tidak bermanfaat bagi jiwa, dan mulai berjalan menuju Allah dengan langkah gemetar dan hati penuh harap.
Namun terkadang, di tengah hiruk pikuk penemuan kembali diri, kita lupa mengajukan pertanyaan penting: “Apakah saya benar-benar bertransformasi atau hanya melarikan diri?”
Daya Tarik dari Awal yang Baru
Ada sesuatu yang sangat menarik tentang awal yang baru. Seseorang mengubah pakaian, bahasa, teman, dan daftar putar musiknya. Ia berhenti mengikuti akun lama dan mulai mengutip Al-Qur’an di Instagram. Ia mengucapkan selamat tinggal pada “diri yang jahiliah” dan menyambut “diri yang baru”.
Namun, di balik pencerahan itu, apa yang sebenarnya terjadi? Terkadang, hijrah menjadi kostum yang kita kenakan untuk menutupi luka yang belum sembuh. Kita salah mengartikan rebranding sebagai pertobatan. Kita menyamakan bahasa spiritual dengan represi emosional.
Kita tidak benar-benar berjalan menuju Tuhan, melainkan kita hanya lari dari rasa malu, patah hati, kegagalan, atau kenyataan pahit tentang diri kita. Jadi, alih-alih bertemu diri kita sendiri, kita justru meninggalkan diri kita sendiri.
Hijrah sejati bukanlah pemotretan. Ini bukan tentang kesalehan estetika atau teks yang dikurasi di medsos. Hijrah itu apa adanya. Hijrah itu berantakan. Hijrah itu sering kali tak terlihat. Hijrah membutuhkan kejujuran yang mendalam, bukan hanya perubahan eksternal.
Jika seseorang mendapati dirinya “menjadi religius” tetapi merasa lebih kaku, marah, atau merasa benar sendiri, ia mestinya bertanya pada dirinya sendiri: apa yang sebenarnya ingin dihindari?
Apakah ia membiarkan dirinya berduka atas apa yang ia tinggalkan? Apakah ia sudah cukup lama berdamai dengan luka-lukanya dan memahaminya? Atau apakah ia menutupinya dengan frasa-frasa religius dan berharap luka-luka itu akan hilang?
Ada perbedaan besar antara penyembuhan dan persembunyian. Hijrah sejati mengajak seseorang untuk menghadapi diri sendiri, yakni egonya, traumanya, kontradiksinya, dan membawanya kepada Allah, bukan menguburnya di bawah performa atau penampilan di medsos.
Medsos sama sekali tidak membantu. Di dunia maya, hijrah sering digambarkan sebagai narasi yang dramatis dan terpoles. Suatu hari seseorang tersesat; hari berikutnya, ia bersinar dalam balutan abaya dan kutipan-kutipan Islam. Hal ini menciptakan tekanan untuk menjadi sempurna dengan cara instan.
Seseorang mungkin merasa setelah “memilih Islam”, ia tidak lagi diizinkan untuk berbuat salah. Ia mengenakan jilbab dan tiba-tiba menjadi representasi dari seluruh agama; ia menumbuhkan jenggot dan merasa diawasi atas setiap kesalahan.
Akan tetapi, Allah tidak pernah meminta kesempurnaan. Dia meminta ketulusan. Dan ketulusan mencakup berjuang, jatuh, dan bangkit kembali, berulang-ulang kali. Kita tidak perlu berpura-pura. Kita tidak perlu tahu semua jawabannya. Seseorang hanya perlu jujur.
Hijrah sebagai Kembali, Bukan Melarikan Diri
Mari kita renungkan kembali hijrah. Alih-alih melihatnya sebagai perpisahan dari masa lalu, bagaimana jika hijrah adalah kembali ke hakikat diri? Kepada fitrah, kodrat murni pemberian Tuhan yang terkubur di bawah kebisingan dan luka?
Hijrah, dalam arti terdalamnya, bukanlah tentang melarikan diri dari dunia, masa lalu, atau diri kita yang dulu. Hijrah adalah tentang kembali ke rumah, ke bagian diri yang selalu tahu bahwa ada lebih banyak.
Faktanya, hijrah Nabi tidak berakhir dalam isolasi. Hijrah tersebut mengarah ke Madinah, sebuah ruang komunitas, keadilan, penyembuhan, dan pertumbuhan. Hijrah sejati bukanlah mundur ke dalam kemurnian, melainkan hijrah adalah keterlibatan kembali dengan kehidupan, tetapi dari tempat keselarasan spiritual. Hijrah bukan tentang menghapus kegembiraan atau menekan kepribadian. Hijrah adalah tentang menyelaraskan seluruh diri kita dengan jalan menuju Tuhan.
Salah satu hal paling ampuh yang dapat kita lakukan dalam perjalanan hijrah adalah berdamai dengan diri kita yang dulu. Hijrah sejati adalah perjalanan batin sebelum menjadi pertunjukan lahiriah. Ia mengajukan pertanyaan-pertanyaan sulit. Ia menghadapi penyangkalan. Ia duduk dalam keheningan. Ia merangkul suka dan duka. Ia tidak menghapus masa lalu, melainkan mengintegrasikannya ke dalam diri yang lebih bijaksana dan lebih utuh.
Jadi, lain kali kita tergoda untuk mengubah segalanya dalam hidup kita dalam semalam, mari berhenti sejenak, dan bertanya pada diri sendiri: Apakah aku sedang bergerak mendekati Tuhan atau hanya menjauh dari ketidaknyamanan?
Transformasi membutuhkan waktu, dan Tuhan tidak pernah terburu-buru. Dia bersama mereka yang patah hati, yang bertanya-tanya, yang mencoba, bukan hanya bersama mereka yang telah matang dan percaya diri. Kita tak perlu berlari dan terburu-buru mengejar instanisme.
“Sesungguhnya, barangsiapa datang kepada-Ku dengan berjalan, Aku akan datang kepadanya dengan berlari” (Hadis Qudsi).
Mahasiswa Program Studi Agama dan Lintas Budaya (CRCS), Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada—tinggal di anggaarifka.blogspot.com