Angga Arifka Alumnus Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya, tinggal di anggaarifka[dot]com

Islam Tidaklah Mengajarkan Merendahkan atau Menghina Sesama Manusia

2 min read

Islam, sebagai agama yang damai dan penuh rahmat, pada dasarnya menekankan pentingnya akhlak yang baik, berperilaku etis, dan memperlakukan orang lain dengan hormat. Ajaran Islam mengedepankan kebaikan, empati, dan pengertian; bukan malah menganjurkan hinaan, makian, dan merendahkan terhadap sesama muslim maupun orang yang berbeda keyakinan.

Sari pati ajaran Islam ada pada konsep tauhid, yaitu keyakinan akan keesaan Tuhan. Keyakinan ini menggarisbawahi kesatuan umat manusia dan menjunjung tinggi martabat setiap individu, tak peduli perbedaan latar belakang dan keyakinan agamanya.

Secara tegas Al-Qur’an mengafirmasi keragaman umat manusia dengan menyatakan, “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal” (QS. al-Hujurat [49]: 13).

Islam sangat mementingkan adab, sebuah istilah yang mencakup etiket, tata krama, dan perilaku hormat. Di dalam Al-Qur’an, Nabi Muhammad digambarkan memiliki budi pekerti yang agung serta sebagai manifestasi akhlak mulia: “Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang luhur” (QS. al-Qalam [68]:4). Maka, tindakan dan ucapan Nabi menjadi panduan komprehensif bagi umat Islam saat berinteraksi dan bersosialisasi dengan orang lain.

Rasa hormat dan sopan santun tidak terbatas pada interaksi pada sesama muslim saja, melainkan merengkuh dan merangkul ke seluruh umat manusia. Al-Qur’an dalam hal  ini mengingatkan dengan gamblang sifat universal dari misi Nabi: “Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam” (QS. al-Anbiya’ [21]: 107).

Rahmat bagi seluruh alam tersebut jelas-jelas berlaku bagi semua umat manusia tak pandang bulu, dan oleh karenanya setiap muslim seyogianya merasa terdorong untuk terlibat dalam dialog yang sehat dan hidup berdampingan secara damai dengan individu dari berbagai latar belakang—apa pun keyakinannya.

Baca Juga  Menanamkan Sikap Moderat kepada Anak sejak Dini

Selain itu, Islam melarang penggunaan bahasa yang menyinggung dan mendorong seorang mukmin untuk menanggapi bahkan kata-kata kasar dengan kebaikan. Al-Qur’an menasihati, “Dan tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, sehingga orang yang ada rasa permusuhan antara kamu dan dia akan seperti teman yang setia.” (QS. Fussilat [41]: 34).

Dengan jelas, Al-Qur’an memberi pedoman perihal bagaimana seyogianya seseorang merespons dan membalas hal-hal negatif dengan hal-hal positif, menganjurkan rekonsiliasi, tepa salira, saling pengertian, dan bahkan memupuk kebaikan atas kejahatan yang telah menimpanya.

Konsep umat (ummah) menekankan solidaritas di antara umat Islam tanpa memandang latar belakang budaya, etnis, dan termasuk mazhab mereka. Umat Islam didorong untuk saling mendukung dan membantu satu sama lain, membangun lingkungan yang saling menghormati dan berbalut welas asih.

Nabi Muhammad bersabda, “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga (tidak bisa tidur) dan panas (turut merasakan sakitnya).”

Dalam hal keadilan sosial, Islam sangat menekankan perlakuan adil terhadap semua individu yang didasarkan pada ajaran welas asih. Berkenaan dengan ini, Nabi Muhammad bersabda, “Barang siapa tidak mau berbelas kasih, maka ia tidak akan mendapatkan belas kasih.” Sabda Nabi ini menuntun umat Islam untuk memperluas kasih sayang dan pengertian kepada orang-orang di sekitar mereka, menumbuhkan suasana toleransi dan penerimaan.

Dalam konteks ini, konsep jihad, yang akhir-akhir ini sering disalahpahami, sebetulnya lebih tertuju pada perjuangan perbaikan diri dan pembelaan keadilan. Jihad bermakna perjuangan melawan keburukan atau kejahatan dalam diri sendiri, melawan ketidakadilan sosial, serta meningkatkan kesejahteraan umat manusia secara keseluruhan.

Baca Juga  Pelan-Pelan Asal Selamat dalam Menjalani Kehidupan

Maka dari itu, tak bisa dielak lagi, Islam adalah agama yang mengedepankan budaya hormat, kebaikan, dan pengertian. Ajarannya yang menekankan rahmat bagi seluruh alam, yang artinya juga seluruh manusia, memberi kompas bagi umat Islam untuk memperlakukan orang lain dengan bermartabat dan penuh kasih sayang.

Sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Muhammad, yakni sebagai suri teladan akhlak mulia, dan juga dibabarkan di dalam Al-Qur’an, umat Islam mesti mengacu pada panduan tentang perilaku berbudi luhur dan perilaku etis bagi sesama manusia.

Prinsip-prinsip Islam tentang adab, rahmat, welas asih, dan keadilan menciptakan jalan hidup berdampingan yang harmonis, menggamblangkan bahwa hinaan, kutukan, atau merendahkan orang lain tidak mendapat tempat. Umat Islam dipanggil untuk mewujudkan prinsip-prinsip ini dalam interaksi sosial mereka, agar dapat membentuk dunia yang penuh dengan nilai-nilai saling menghormati serta hidup berdampingan secara damai dan rukun.

Angga Arifka Alumnus Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya, tinggal di anggaarifka[dot]com