Jika Tuhan Maha Baik, Mengapa Ada Penderitaan?

Dalam perjalanan sejarah manusia, terdapat pertanyaan yang terus menyeruak, dibisikkan pelan kala putus asa atau diteriakkan saat menghadapi tragedi: “Jika Tuhan itu baik, mengapa ada penderitaan?” Pertanyaan ini tidak terbatas pada para teolog atau filsuf. Ini merupakan pertanyaan yang menghinggapi kamar-kamar rumah sakit, daerah bencana, dan malam-malam sunyi penuh kegundahan.

Tradisi keagamaan di seluruh dunia telah mencoba menawarkan jawaban: ada yang teologis, ada yang eksistensial, ada yang ancaman. Namun, mungkin pertanyaan ini bukan sekadar pertanyaan yang harus dijawab; mungkin justru pertanyaan yang harus dipikul, sebuah ketegangan yang harus dijalani, alih-alih diselesaikan.

Paradoks Kebaikan Ilahi

Dalam teologi Islam, Tuhan dikenal dengan banyak nama, di antaranya, al-Rahman (Yang Maha Pengasih), al-Rahim (Yang Maha Penyayang), al-‘Adl (Yang Maha Adil). Asmaulhusna ini menggambarkan Tuhan yang tidak hanya menciptakan, tetapi juga sangat peduli.

Kendati demikian, realitas dunia tampaknya berbicara dalam nada yang berbeda: gempa bumi yang mengubur ribuan orang dan bahkan balita, penyakit yang menyerang tanpa peringatan, kekejaman yang dilakukan oleh satu manusia terhadap manusia lainnya.

Paradoks ini tidak hanya terjadi dalam Islam. Dalam filsafat agama Kristen, hal ini disebut “teodisi”, yaitu upaya untuk mendamaikan kemahakuasaan, kemahatahuan, dan kemahamurahhatian Tuhan dengan kehadiran kejahatan dan penderitaan yang tak terbantahkan. Dalam refleksi Buddhisme, penderitaan (dukkha) tidak selalu merupakan kontradiksi terhadap tatanan ilahi, melainkan merupakan fakta sentral keberadaan yang harus dilampaui.

Terlepas dari itu, tradisi Islam, khususnya, menawarkan hubungan yang rumit antara kehendak Ilahi (iradah), kehendak manusia, dan tujuan penciptaan yang lebih besar. Al-Qur’an sendiri tidak menyangkal penderitaan. Sebaliknya, Al-Qur’an sering menempatkannya dalam cakrawala kebijaksanaan ilahi, sebuah cobaan, ujian, sebuah wadah peleburan yang melaluinya jiwa dimurnikan.

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kamu” (QS. al-Baqarah [2]: 214).

Penderitaan sebagai Cermin, Bukan Hukuman

Salah satu penafsiran yang paling negatif tentang penderitaan adalah gagasan bahwa rasa sakit selalu merupakan hukuman. Meskipun Al-Qur’an menggambarkan konsekuensi atas ketidakadilan dan kesalahan, Al-Qur’an juga menekankan bahwa cobaan datang kepada orang-orang yang saleh, yang tidak bersalah, dan bahkan yang dicintai.

Kita tahu bahwa para nabi—mereka yang paling dekat dengan Tuhan—menghadapi cobaan yang sangat besar. Nabi Yusuf dikhianati; Nabi Ayub diuji dengan kehilangan dan penyakit; dan Nabi Muhammad sendiri mengalami penganiayaan, pengasingan, dan kesedihan.

Maka, penderitaan bukanlah ukuran hukuman atau penolakan ilahi. Paradoksnya, penderitaan adalah tempat di mana keintiman dengan Tuhan dapat diintensifkan. Bagi para mistikus, rasa sakit menjadi cermin di mana ego hancur dan jiwa tersingkap. Dalam kehilangan, kesombongan memberi jalan kepada kerendahan hati untuk muncul. Dalam kesedihan, hati belajar untuk berdoa.

“Di mana pun ada kehancuran,” kata Rumi, “di situ ada harapan untuk harta karun.” Mungkin masalahnya bukan pada penderitaan itu sendiri, melainkan pada asumsi bahwa hidup seharusnya nyaman, aman, dan tenteram. Ekspektasi modern akan kebahagiaan sebagai keadaan yang konstan—yang dipasarkan melalui industri kesehatan dan kutipan Instagram—mungkin hanya menyisakan sedikit ruang untuk ketidaknyamanan eksistensial.

Penting dicatat bahwa tidak semua penderitaan berasal dari takdir Tuhan. Sebagian besar muncul dari tindakan manusia. Keserakahan menyebabkan kemiskinan. Kekerasan melahirkan trauma. Pengabaian lingkungan mengakibatkan bencana ekologis. Al-Qur’an menjelaskan dengan gamblang: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia” (QS. al-Rum [30]: 41).

Tuhan mungkin mengizinkan penderitaan, tetapi manusia sering kali menjadi instrumennya. Dalam hal ini, pertanyaannya bukan lagi tentang kebaikan Tuhan, melainkan tentang tanggung jawab manusia. Rahmat Tuhan bersifat konstan, tetapi refleksinya di dunia sebagian bergantung pada keadilan manusia.

Misteri dan Makna

Meskipun begitu, masih tersisa sisa-sisa rasa sakit yang tak dapat ditelusuri hingga kausalitas manusia atau ditafsirkan secara jelas melalui logika moral: kematian mendadak seorang anak tak berdosa, penderitaan akibat penyakit tak terobati, dan semisalnya. Untuk momen-momen ini, teologi mungkin hanya menawarkan respons parsial. Sisanya adalah misteri.

Namun, misteri bukan berarti ketiadaan makna. Misteri berarti maknanya mungkin tak langsung terlihat, atau sepenuhnya tak dapat dipahami dalam kerangka logika linear. Dalam pemikiran Islam, hikmah atau kebijaksanaan ilahi terkadang tersembunyi. Tuhan tidak acuh, melainkan subtil, bukan absen.

Al-Qur’an menyajikan kisah Nabi Khidir, seorang hamba Tuhan misterius yang melakukan tindakan-tindakan yang tampaknya tidak adil: menenggelamkan perahu, membunuh seorang anak laki-laki, dan membangun kembali tembok yang runtuh. Setiap tindakan, ketika dijelaskan, mengungkapkan kebijaksanaan yang tak terjangkau oleh persepsi biasa.

Mungkin kisah tersebut merupakan ajakan untuk percaya, bukan penyerahan diri buta, melainkan penyerahan diri yang mendalam terhadap kemungkinan bahwa rasa sakit mungkin menyimpan kebenaran yang belum terungkap.

Pada akhirnya, penderitaan tidak perlu dipandang hanya sebagai kutukan atau kesalahan. Penderitaan bisa menjadi ambang, yaitu sebuah pintu menuju kesadaran yang lebih dalam, menuju kasih sayang, menuju Tuhan. Tradisi Islam tidak mengagungkan rasa sakit, tetapi justru menyucikan potensinya.

Daripada bertanya, “Mengapa Tuhan mengizinkan penderitaan?”; pertanyaan yang lebih transformatif mungkin adalah, “Apa yang dibangkitkan dengan adanya penderitaan?”

0

Mahasiswa Program Studi Agama dan Lintas Budaya (CRCS), Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada—tinggal di anggaarifka.blogspot.com

Post Lainnya

Arrahim.id merupakan portal keislaman yang dihadirkan untuk mendiseminasikan ide, gagasan dan informasi keislaman untuk menyemai moderasi berislam dan beragama.