Ekonomi Sirkuler dan Paradoks Ekonomi Hijau

Ilustrasi ekonomi sirkuler yang memperlihatkan hubungan antara konsumsi, daur ulang, industri, dan pengelolaan sampah dalam upaya menjaga lingkungan.

Kita sedang belajar menjadi manusia yang lebih ramah lingkungan. Membawa tumbler, menolak sedotan plastik, membawa tas belanja sendiri, memilah sampah, dan menggunakan barang berulang kali kini menjadi bagian dari gaya hidup baru.

Di balik perkembangan tersebut, terdapat persoalan yang tidak selalu terlihat. Sesuatu yang diberi label “hijau” tidak dengan sendirinya bebas dari persoalan ekologis maupun sosial. Ketika kepedulian terhadap lingkungan masuk ke dalam mekanisme pasar, kesadaran ekologis dapat berubah menjadi komoditas, sementara manfaat ekonomi dari gerakan tersebut belum tentu terbagi secara merata.

Persoalan ini menjadi semakin penting ketika ekonomi sirkuler (circular economy) semakin dipromosikan sebagai jawaban atas krisis lingkungan. Gagasan dasarnya sederhana, sebuah produk tidak langsung dibuang namun digunakan kembali, diperbaiki, atau didaur ulang agar material terus berada dalam siklus ekonomi.

Berbeda dengan ekonomi linear yang bekerja dengan pola “ambil–produksi–pakai–buang”, ekonomi sirkuler ingin menciptakan siklus baru: ambil lebih sedikit, gunakan lebih lama, buang lebih sedikit, dan daur ulang sebanyak mungkin. Gagasan ini menawarkan perubahan penting dalam cara manusia memperlakukan sumber daya alam.

Namun, persoalan ekologis tidak berhenti pada bagaimana barang diproduksi, digunakan, dan didaur ulang. Di balik perputaran material terdapat relasi ekonomi: siapa yang menguasai produksi, siapa yang memperoleh keuntungan, dan siapa yang mungkin kehilangan ruang penghidupannya.

Di titik inilah ekonomi sirkuler perlu dibaca bukan hanya sebagai persoalan lingkungan, tetapi juga sebagai persoalan keadilan sosial.

Tumbler dan Paradoks Ekonomi Hijau

Sebagaimana contoh tren penggunaan tumbler yang telah saya singgung di awal, kita membeli tumbler karena ingin mengurangi botol plastik sekali pakai. Namun, pada dasarnya ia juga memiliki jejak ekologis.

Tumbler diproduksi di pabrik yang membutuhkan bahan baku dari alam dan proses produksinya tentu juga membutuhkan energi. Persoalannya menjadi lebih rumit ketika tumbler yang “ramah lingkungan” diproduksi secara massal oleh korporasi besar yang tentunya juga membutuhkan bahan baku dalam jumlah besar.

Dalam hal ini, bisa jadi kita kemudian berada dalam sebuah ironi, alih-alih mengurangi konsumsi, pasar justru menawarkan bentuk konsumsi baru yang diberi label hijau. Tumbler menjadi simbol kepedulian lingkungan, tetapi ketika seseorang membeli model baru setiap tahun sementara tumbler lama masih berfungsi, yang berubah bukan tingkat konsumsi melainkan jenis barang yang dikonsumsi.

Di sisi lain, kepedulian terhadap lingkungan dapat diubah menjadi sebuah komoditas. Kesadaran ekologis dapat dikemas menjadi merek. Bahkan perilaku yang semestinya sederhana, mengurangi konsumsi, dapat berubah menjadi alasan untuk membeli barang baru.

Satu orang bisa memiliki lebih dari satu tumbler, sementara tumbler lama yang masih berfungsi justru tidak lagi digunakan. Padahal, jika seseorang membeli tumbler baru setiap tahun sementara tumbler lamanya masih berfungsi, pertanyaan ekologisnya belum selesai.

Maka, pertanyaan mendasarnya adalah apakah kita sedang mengurangi konsumsi atau hanya mengganti bentuk konsumsi.

Ketika Sampah Menjadi Rezeki

Paradoks ekonomi hijau tidak berhenti pada perilaku konsumen. Ada kelompok lain yang jauh lebih terdampak ketika sampah memperoleh nilai ekonomi baru yakni, pemulung. Bagi sebagian besar masyarakat, botol plastik adalah sampah namun bagi seorang pemulung, ia adalah sumber penghasilan.

Selama bertahun-tahun, para pemulung telah menjalankan praktik ekonomi sirkuler dalam bentuk yang sangat sederhana. Mereka mengumpulkan barang bekas, memilahnya, kemudian menjualnya kepada pengepul. Barang yang oleh satu orang dianggap tidak berguna, oleh orang lain dikembalikan ke dalam rantai ekonomi.

Ironisnya, ketika ekonomi sirkuler berkembang menjadi industri besar dengan teknologi modern dan modal korporasi, kelompok yang sejak lama hidup dari ekonomi sampah justru berpotensi tersingkir.  Sampah yang dahulu menjadi sumber rezeki pemulung berubah menjadi bahan baku industri.

Jika proses modernisasi pengelolaan sampah tidak melibatkan mereka, kita justru berisiko menciptakan pengangguran baru dari kelompok masyarakat yang paling sedikit memiliki pendidikan, modal, dan akses teknologi.

Tentu, hal ini bukan berarti kita harus mempertahankan sistem persampahan yang buruk. Justru sebaliknya. Pengelolaan sampah harus diperbaiki. Tetapi perbaikan itu tidak boleh berarti menggusur orang-orang yang selama ini menggantungkan hidup dari sampah.

Mereka harus diangkat dari sektor informal menjadi bagian dari sistem formal: memperoleh perlindungan, akses teknologi, peningkatan kapasitas, kepastian penghasilan, dan posisi yang lebih bermartabat dalam rantai ekonomi sirkuler.

Nampaknya, kita perlu membedakan antara keberlanjutan ekologis dan sekadar bisnis hijau. Sebuah produk dapat memiliki label ramah lingkungan, tetapi proses produksinya tetap menguras sumber daya alam.

Jika keuntungan terkonsentrasi pada korporasi, sementara kerusakan lingkungan dan kehilangan mata pencaharian ditanggung masyarakat kecil, maka ekonomi sirkuler sedang mengalami masalah keadilan. Ekonomi tidak boleh hanya membuat material berputar. Manfaat ekonomi juga harus berputar.

Di sinilah ekonomi ekologis menawarkan kritik terhadap ekonomi sirkuler versi korporasi. Jika ekonomi sirkuler bertanya bagaimana material dapat terus berputar, ekonomi ekologis bertanya siapa yang menikmati manfaat dari putaran itu dan apakah proses tersebut tetap menghormati batas-batas alam. Dengan kata lain, efisiensi material tidak otomatis menghasilkan keadilan sosial.

Ekonomi yang Menghormati Bumi dan Manusia

Ekonomi ekologis mengingatkan kita pada sesuatu yang sederhana tetapi sering dilupakan yakni, ekonomi sebenarnya merupakan bagian dari lingkungan, bukan sebaliknya. Artinya, kegiatan ekonomi memiliki batas yang harus mempertimbangan kelestarian alam.

Karena itu, ekonomi sirkuler yang benar tidak cukup hanya membuat barang berputar lebih lama. Ia harus mengubah hubungan kita dengan alam sekaligus dengan manusia.

Alam tidak boleh diperlakukan sekadar sebagai gudang bahan baku. Pemulung tidak boleh diperlakukan sekadar sebagai tenaga murah yang sewaktu-waktu dapat digantikan teknologi.

Kita membutuhkan ekonomi yang hijau sekaligus adil dengan pinsip menyelamatkan lingkungan juga harus mempertimbangkan kelangsungan hidup masyarakat ekonomi bawah, pemulung. Sebab keberlanjutan tidak hanya berarti memastikan bumi tetap hidup untuk generasi mendatang.

Keberlanjutan juga berarti memastikan manusia yang hidup hari ini—termasuk pemulung yang setiap pagi mendorong gerobaknya mencari barang bekas—tetap memiliki ruang untuk hidup bermartabat.

Bumi tidak hanya membutuhkan konsumen yang membeli produk hijau. Bumi membutuhkan manusia yang berani mengurangi konsumsi, menghormati batas alam, dan memastikan bahwa tidak ada manusia yang disingkirkan atas nama menyelamatkan lingkungan.

Itulah ekonomi sirkuler yang sesungguhnya: bukan sekadar membuat barang berputar, tetapi membuat kehidupan menjadi lebih berkelanjutan, lebih adil, dan lebih manusiawi.

0

Dekan FEBI, UIN Ponorogo. Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PD. Muhammadiyah Tulungagung

Post Lainnya

Arrahim.id merupakan portal keislaman yang dihadirkan untuk mendiseminasikan ide, gagasan dan informasi keislaman untuk menyemai moderasi berislam dan beragama.