Angga Arifka Alumnus Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya, tinggal di anggaarifka[dot]com

Segitiga Cinta kepada Tuhan, Manusia, dan Alam Perspektif Ibn Arabi dan Rumi

2 min read

Cinta, dalam berbagai bentuknya, telah menjadi topik penting yang dieksplorasi oleh para filsuf dan sufi dalam tradisi intelektual Islam. Hakikat cinta ini mencakup cinta spiritual kepada Tuhan, kepada manusia, dan kepada alam semesta. Di antara banyak sarjawanan dan mistikus yang bersumbangsih terhadap wacana ini, Ibn Arabi dan Rumi adalah yang paling menonjol sebagai contoh serius tentang segitiga dimensi cinta ini.

Ibn Arabi, dijuluki sebagai Shaykh al-Akbar dalam dunia tasawuf, memulai perjalanan spiritual yang membawanya pada pemahaman mendalam tentang segitiga cinta kepada Tuhan, manusia, dan alam semesta.

Inti dari pengalaman kesufiannya adalah bahwa segala maujud merupakan manifestasi dari sifat-sifat Tuhan. Pandangan Ibn Arabi ini mengajak kita untuk melihat alam tidak hanya sebagai penampakan fisik, melainkan juga sebagai alam spiritual. Dalam pandangan Ibn Arabi, alam sendiri menjadi ekspresi kasih Tuhan.

Cinta yang digambarkan Ibn Arabi adalah kekuatan menyeluruh yang melampaui emosi individu, menghubungkan umat manusia dan alam semesta dengan Tuhan. Ini adalah cinta yang mendalam, menyatukan, dan transformatif. Ketika seseorang benar-benar mencintai Tuhan, hatinya terbuka siap mendekap seluruh alam ciptaan. Ini adalah cinta yang cenderung pada kesatuan, mengakui bahwa percikan ilahi yang bersemayam dalam jiwa manusia juga ada di seluruh alam.

Rumi, penyair sufi paling kondang hingga kini, membawa sisi berbeda dalam eksplorasi cinta. Puisinya penuh dengan tema cinta ilahi, dan kata-kata Rumi merupakan bukti bahwa cinta kepada Tuhan secara alami mencakup cinta terhadap manusia dan alam. Dalam gazal-gazalnya, ia mengajak para pembaca untuk “secara diam-diam terpesona oleh tarikan aneh dari apa yang benar-benar dicintai”.

Rumi menandaskan bahwa cinta kepada Tuhan adalah kekuatan tak tertahankan yang membimbing seseorang menuju samudra rahmat, banjir empati, dan hubungan mendalam dengan sesama manusia.

Baca Juga  Potret Koeksistensi Islam-Kristen

Bagi Rumi, keterhubungan cinta semacam itu terejawantahkan dalam tindak kebaikan, kemurahan hati, dan pengertian yang mendalam. Ini adalah cinta yang meneguhkan benang merah kemanusiaan, melampaui golongan dan perbedaan.

Sebagaimana Rumi menyerukan kepada setiap individu untuk mencintai Tuhan, ia sendiri juga mendorong umat manusia untuk saling mencintai, melihat kehadiran ilahi dalam hati semua orang. Perasaan yang sama juga berlaku pada alam, karena metafora Rumi sering menggambarkan alam sebagai cerminan keindahan ilahi dan sumber inspirasi bagi jiwa manusia.

Ibn Arabi dan Rumi, meskipun berbeda gaya dan pendekatan, sepakat dalam pernyataan mereka bahwa cinta kepada Tuhan adalah katalisator cinta yang mengikat umat manusia dan alam. Ini bukan sekadar kebetulan, melainkan ialah aspek mendasar dari jalan sufi, jalan kesunyian di mana cinta bermukim.

Sumirnya, dalam tasawuf, cinta kepada Tuhan bukanlah sebuah perjalanan tersendiri, tetapi ia sebuah ajakan menuju cinta inklusif yang menyelimuti seluruh ciptaan. Ketika seseorang mencintai Tuhan, cinta tersebut secara alami mengalir keluar, merangkul seluruh yang ada.

Cinta yang saling berkelindan ini membawa implikasi besar pada cara kita memandang dan berinteraksi dengan sesama manusia. Menumbuhkan rasa kasih sayang, empati, dan rasa persatuan di antara individu, melampaui batas-batas kebangsaan, etnis, dan bahkan keyakinan.

Dengan demikian, kita dapat hidup berdampingan secara harmonis dengan menonjolkan rasa kemanusiaan bersama tanpa memandang perbedaan identitas. Dalam tradisi sufi, cinta terhadap manusia atau rasa kemanusiaan merupakan perwujudan cinta terhadap Tuhan, dan tindak kebaikan atau amal yang baik kepada sesama manusia dipandang sebagai ekspresi cinta ilahi ini.

Demikian pula, cinta ini meluas pada hubungan kita dengan alam. Pandangan Ibn Arabi tentang alam sebagai cerminan sifat-sifat Tuhan mengingatkan kita akan tanggung jawab kita sebagai penjaga bumi. Mencintai Tuhan dalam konteks ini berarti mencintai dan melestarikan alam, karena alam merupakan bagian integral dari ciptaan Tuhan. Tindakan peduli terhadap alam menjadi sebuah tindakan ibadah dan cerminan rasa cinta kita kepada Tuhan.

Baca Juga  Ibadah Hablum Minannas yang Berpahala Besar

Ringkasnya, pandangan Ibn Arabi dan Rumi tentang cinta terhadap Tuhan, manusia, dan alam menyingkapkan adanya keberkelindanan mendalam yang menjadi inti pengalaman sufi. Ajaran mereka mengingatkan kita bahwa cinta manusia kepada Tuhan bukanlah emosi yang terisolasi, melainkan malah juga kekuatan transformatif yang mengikat kita dengan alam dan sesama manusia.

Melalui pemahaman perihal cinta semacam ini, kita menemukan jalan menuju persatuan, kasih sayang, dan pelestarian yang bertanggung jawab, merawat kehidupan secara berdampingan dan lebih harmonis baik dengan sesama manusia maupun alam.

Angga Arifka Alumnus Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya, tinggal di anggaarifka[dot]com