Abd. Aziz Faiz Dosen UIN Sunan Kalijaga

Toleransi dan Transformasi Sosial Keberagamaan (1)

2 min read

pengajar.co.id

Problem hubungan antar agama bukan problem teks Al-Qur’an, Al-Kitab dan atau kitab suci lainnya, namun problem pembaca teks. Pembaca teks sering kali tidak memahami otensitas teks dan mengambil teks demi keegoisan dan kepentingan sendiri. Yang banyak terjadi selama ini adalah mereka berjuang dalam konstruksi teologis sebagaimana keinginan dan dunia yang diinginkannya sendiri. Perjuangannnya fokus pada konstruksi makna teks tanpa memikirkan relevansinya bagi kedamaian, kesejahteraan, dan interaksi manusia yang lebih baik.

Adalah fakta bahwa intolerasi keberagamaan dimulai dari egoisme memahami teks suci. Dalam ruang intoleransi keberagamaan egoisme pemaknaan atas teks suci itu mengambil beberapa bentuk: tekstual. Bentuk ini banyak dipegang oleh pengikut agama yang malas dan takut  menggunakan pikiran dalam memahami teks suci. Ada pula interpretasi apologetic, yaitu pemaknaan atas kitab suci dengan mengunggulkan kelompok sendiri. Eksklusif, yaitu pemaknaan atas kitab suci secara tertutup dan mengambil jarak dari realitas sosial yang beragam. Kalau kita cermati bentuk interpretasi teks keberagamaan di atas didorong oleh egoisme penafsir dan Poor understanding of others.

Produk salah tafsir atas kitab suci yang demikian menumbuhkan tindakan sosial yang kurang bersahabat. Tindakan-tindakan itu berwujud intoleransi, prejudice dan diskriminasi keagamaan. Dalam tiga bentuk tindakan ini egoisme tafsir keagamaan terus direproduksi dan menampak dalam kehiduapn sosial sehari-sehari. Kehidupan antar umat beragama menjadi tidak tenang karena dihantui oleh bayang-bayang konflik. Ketakutan (alkhauf) dan saling curiga menjadi dasar pergaulan sosial. Akibatnya kehidupan sosial keseharian menjadi pengap.

Tindakan tindakan yang menjiwai pergaulan antar agama di atas menyebar dalam ruang apa yang disebut dengan global inequality (ketidaksetaraan global dimana negara adidaya menguasai sekian besar kekayaan dunia), local injustice (ketidakadilan ditingkat lokal atau di internal suatu negara yang ketimpangannya luar biasa), dan social structure (sturuktur sosial dimana distribusi kekuasaan dan wewenang tidak berjalan sebagaimana semestinya). Dalam kondisi dunia yang demikian intolerasi dan tindakan-tindakan yang nir-empati itu terus bertahan dan menyebar luas.

Baca Juga  Beragama di Tengah Populisme Pandemi

Akumulasi dari semua keadaan ini kemudian meledak dalam bentuk radikalisme (paham-paham yang menginginkan pembaharuan sistem secara menyeluruh berdasar pemahaman keagamaan tertentu), ekstremisme (tindakan dan gerakan intolerasi yang bersifat sporadis), dan terorisme (perbuatan ancaman dan kekerasan yang dilakukan dan dipersiapkan secara teorganisasi). Terorisme ini telah menghantui kehidupan bersama. Kasus-kasus terorisme belakangan menggegerkan dunia, termasuk di dalam negeri Indonesia sendiri karena menyasar rumah ibadah agama tertentu.

Harus diakui bahwa ada konstruksi yang berbeda antara agama satu dengan agama yang lain. Metodologi memahami teks pun tidak sama. Begitu juga hasil interpretasi teks juga tidak sama. Konteks historis teks-teks keagaamaan juga berbeda satu dengan yang lain. Namun demikian, benang merah dan relevansi makna teks pada kehidupan sosial demi pergaulan bersama dalam masyarakat beragam bukan tidak mungkin dikonstruksi. Benang merah teologi di mana posisi manusia sebagai hamba Tuhan yang setara di hadapan sang adikodrati tak pernah dieksplorasi secara mendalam. Rumah bersama bernama religiositas di antara agama-agama partikular belum juga ditonjolkan dalam tafsir-tafsir teks keagamaan.

Jika manusia menurunkan egoismenya lalu menafsirkan teks suci yang relevan bagi kehidupan bersama maka umat beragama menghadapi apa yang disebut dengan proses transformasi agama oleh masyarakat dan proses transformasi masyarakat oleh agama. Pemahaman ini tidak berarti dan bermaksud untuk mendekatkan agama-agama secara netral, sebaliknya akan menyadarkan kita semua pada akar-akar keyakinan teologis dari agama yang ada agar bisa tetap membuka diri dan tetap menaruh perhatian pada persoalan kemanusiaan. Selain itu agar terbuka pula kemungkinan untuk memahami bagaimana agama berperan dalam  merumuskan dan menjawab persoalan manusia di masa mendatang. Dengan demikian toleransi keagamaan menjadi strategi dalam mencairkan segala sesuatu yang menggumpal dan membeku.

Baca Juga  Membincang Jaringan Ulama Indonesia dan Makkah (2)

Selanjutnya: Toleransi dan Transformasi Sosial … (2)

 

Abd. Aziz Faiz Dosen UIN Sunan Kalijaga