Abd. Aziz Faiz Dosen UIN Sunan Kalijaga

Toleransi dan Transformasi Sosial Keberagamaan (2)

2 min read

pengajar.co.id

Sebelumnya: Toleransi dan Transformasi Sosial  … (1)

Selain membuka diri pada kemungkinan penafsiran yang lebih humble pada teks suci, juga perlu melakukan dialog aksi yang lebih konkret. Dengan cara yang demikian sesuatu yang mengumpal dan membeku dalam pergaulan antar agama itu dapat mencair. Tawaran Ignatius L Madya Utama (2001) patut dipertimbangkan; Pertama, dialog kehidupan, di mana orang berjuang untuk hidup dalam semangat keterbukaan dan bertetangga. Dalam konteks ini manusia beragama saling membagi pengalaman kegembiraan dan kedukaan, permasalahan-permasalahan serta keprihatinan-keprihatinan manusia.

Kedua, dialog tindakan, di mana orang-orang beragama satu sama lain saling bekerja sama bagi terwujudnya kemajuan dan pembebasan secara utuh. Ketiga, dialog pengalaman religius, di mana orang-orang yang berakar pada tradisi keagamaan mereka masing-masing berbagi kekayaan rohani mereka. Misalnya hal-hal yang berhubungan dengan do’a dan kontemplasi, iman dan cara-cara mencari Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang. Keempat, dialog dalam pembicaraan teologis, di mana para spesialis berusaha memperdalam pemahaman mereka mengenai warisan-warisan religius mereka, serta saling menghargai nilai-nilai kerohanian yang dimiliki oleh masing-masing pihak.

Diana L. Eck dalam tulisannya “Is Our God Listening?: Eksklusivist, Inklusivist and Pluralism” (2005) mengatakan bahwa isolasi dan dogmatisasi dari ekslusifis tidak terbuka pada dialog. Kalaupun terbuka, ia tidak terbuka dan mendengar pada apa yang disebut dengan self understanding atau saling memahami kepada yang lain. Padahal, dasar dari dialog keagamaan ini adalah ada sesuatu yang harus kita ketahui di antara kita sendiri dan kepada yang lain.

Masuk dalam sebuah dialog bukan berarti kita bermimpi bahwa kita semua akan setuju pada kebenaran masing-masing atau kita melakukan dialog antar agama tidak untuk membuat persetujuan, tetapi untuk membuat relasi atau hubungan yang murni dan sesungguhnya. Bahkan, membuat persahabatan yang didasarkan pada saling mengerti dan memahami, bukan sebaliknya.

Baca Juga  Lockdown Kampung: Siasat Budaya Mengatasi Wabah Covid-19

Proses saling menyapa antara umat beragama dalam suasana cair dan bersahabat akan mengantarkan kita pada pencarian kebenaran dan transformasi kehidupan bersama yang lebih indah. Dalam suasana itu umat agama satu sama lain memahami kebenarannya masing-masing tanpa harus saling menjatuhkan. Dengan demikian, apa yang disebut dengan mutual understanding mengarah pada cooperative transformation demi kehidupan bersama yang harmoni, tenang dan damai. Yang susah adalah jika kita dari awal tidak mau menerima kenyataan akan keberbedaan ini sehingga transformasi sosial bersama bagi kehidupan umat beragama susah dicapai.

Pertanyaannya apakah toleransi keberagamaan bagi transformasi sosial memungkinkan untuk dicapai? Jawaban tegas yang bisa diberikan adalah ia sangat mungkin dan optimis tercapai. Saat ini telah berdiri perguruan tinggi pelopor yang bergerak dalam proses membangun tolerasi keberagamaan bagi transformasi sosial. Sebut saja UKDW, UKSW, UIN Yogyakarta dan PTKIN yang lain, Paramadina dan perguruan tinggi berbasis agama. Begitu juga lembaga-lembaga, NGO-NGO yang bergerak dalam dialog agama.

Sebutnya JIL (Jaringan Islam Liberal)-terlepas dari berbagai kontroversi yang mengitarinya, Lembaga Studi Agama dan Filsafat (LSAF), International Center For Islam and Pluralism (ICIP), Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M), The Wahid Foundation (TWF), Ma’arif Institute for Cultural and Humanity, dan Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (LAKPESDAM) NU, serta Kajian Islam dan Sosial (LKiS) hingga Gusdurian. Paling tidak lembaga-lembaga ini mewakili kelompok pluralis dan progresif.

Selain itu, ormas besar seperti Muhammadiyah dan Nahdhatul Ulama telah memprakarsai transformasi sosial keberagamaan secara lebih  intensif. Dalam konteks ini nasib toleransi keberagamaan ke depan akan semakin cerah. Gerakan religion and peacebuilding begitu intensif dilakukan baik dalam konteks pemahaman dan tafsir keagamaan, diseminasi penelitian terkait moderasi keberagamaan sudah mulai digalakkan.

Baca Juga  Masjid Sebagai Sumbu Gerakan Kemandirian Umat, Sebuah Resensi

Fikih baru yang mengatur hubungan kemanusiaan juga sudah begitu tampak, sebut saja hak asasi manusia, etika hubungan internasional dan berbagai perjanjian hubungan yang baik telah dilakukan. Dalam Islam sendiri sudah muncul fiqh al-aqaliyyât atau fikih minoritas yang lebih responsif dan akomodatif. Semua ini yang akan mengarahkan masa depan toleransi keagamaan bagi kemanusiaan di masa yang akan datang. (mmsm)

*) Artikel ini adalah hasil kerja sama arrahim.id dan Jaringan GUSDURian untuk kampanye #IndonesiaRumahBersama

Abd. Aziz Faiz Dosen UIN Sunan Kalijaga