



Pernahkah anda menyaksikan ajang perlombaan tetapi tidak semua juara mendapatkan medali, dan/atau mahkota? Memang banyak cara panitia untuk menghargai dan menghormati keikutsertaan dalam lomba. Mereka yang masuk nominator, panitia menghargainya dengan sertifikat. Namun, beberapa nominator juga masuk dalam kategori juara favorit, juara pilihan pemirsa, juara dengan viewer terbanyak, dan atau kriteria lain sebagai bentuk penghormatan.
Mereka juga mendapatkan apresiasi dalam berbagai bentuk mulai slempang, piagam hingga dalam bentuk barang. Namun, juara sesungguhnya disebut dengan kategori juara tiga, dua, satu dan juara umum. Salah satu penghargaan dalam bentuk medali. Ada kalanya medali emas untuk juara satu, perak untuk juara dua dan perak untuk juara tiga.
Ada pula penghargaan dalam bentuk mahkota. Mahkota merupakan simbol tradisional dalam bentuk tutup kepala yang dikenakan oleh raja, ratu atau dewa. Mahkota juga dimaknai sebagai lambang kejayaan, kekuasaan, dan kemakmuran.
Tentang juara tanpa mahkota merupakan ilustrasi dari nilai Ramadan yang sudah kita lewati. Semua muslim ingin memperebutkan mahkota itu sebagai puncak dari perjalanan ibadah selama bulan Ramadan. Semua muslim yang berpuasa merupakan nominator untuk mendapatkan juara. Namun tidak semua mendapatkannya, apalagi mahkota.
Dalam kontestasi, ada kalanya bahagia ada kalanya sedih. Begitu pula dalam puasa. Tidak sedikit yang merasa kehilangan ketika ramadan berlalu. Tangis dan sedih bercampur aduk di saat ramadan akan berlalu.
Seolah tidak ada ruang lagi untuk bermunajat kepada-Nya. Seolah tidak mungkin dapat bertemu dengan ramadan berikutnya untuk berkompetisi memperebutkan mahkota. Seolah kehilangan gadis tercinta yang sejak lama diidamkan. Seolah dunia akan runtuh karena tak mau berpisah begitu saja.
Bahwa begitu berharga nilai ramadan yang tentu saja jauh melebihi harga mahkota. Bagaimana tidak. Semua orang berdoa sejak bulan Rajab hingga Sya’ban agar meraih mahkota pujaannya. “Alllahumma barik lana fi rajaba wa sya’bana waballighna ramadana”, begitu doa dan harapan itu.
Tetapi ketika sudah sampai dan ketemu dengan sang pujaan, ia tinggalkan begitu saja. Ia tanpa kata-kata meninggalkan kita. Mahkota impian yang selalu dipuja-puja belum sempat diraih, apalagi dimiliki. Ia lenyap begitu saja.
Tangisan sedih itu menghentak di aras bumi dan langit. Bukan aku saja bersama teman-temanku. Persis sebagaimana Sabda Nabi saw,
“Ketika datang akhir malam bulan Ramadan, langit-langit dan bumi, para malaikat menangis karena merupakan musibah bagi umat Muhammad. Rasul pun ditanya; musibah apa itu yaa Rasulullah? Rasulullah menjawab ; lenyaplah bulan Ramadan karena sesungguhnya doa-doa di bulan Ramadan dikabulkan, dan sedekah diterima, kebaikan dilipatgandakan, dan adzab (siksa) ditolak.” (Durratun Nasihin, h. 11: Pustaka Islamiyah)
Seperti apakah tangisan Malaikat, langit dan bumi saat akhir bulan ramadlan?
Tak perlu membayangkan karena ketiga itu merupakan makhluk pilihan. Cukuplah dengan membayangkan kehilangan mahkota yang selama ini diimpikan. Cukup lama beriyadhoh dengan lapar dan haus. Cukup panjang waktunya menahan kata-kata agar tidak semua keluar dari mulut.
Begitu berharganya nilai Ramadan, karena pada bulan ini doa-doa dikabulkan dan amalan dilipatgandakan. Dengan menghitung nilai ibadah pada satu malam lailatul qadar saja, sudah dapat membayangkan betapa istimewanya bulan suci ini.
Nilai seribu bulan itu setara dengan beribadah 83 tahun. Jika pada malam itu kita shalat dua rakaat maka nilainya setara dengan sholat 83 tahun. Belum lagi ibadah lain seperti membaca Al-Quran, dan amalan lainnya. Nilai itu tidak termasuk pahala puasa, bacaan Al-Quran, tarawih, zakat dan sadekah di luar malam lailatul qadar.
Begitu tingginya nilai Ramadan karena semua keistimewaan sudah berlalu. Keistimewaan kebersamaan dengan keluarga saat buka dan sahur, serta shalat tarawih tidak akan tampak sebentar lagi. Begitu pula keistimewaan bersedekah mulai luntur saat Ramadan berlalu.
Justru sebaliknya, kehidupan hedonistik, bermewah-mewahan, dan berlebihan saat sesudah Ramadan mulai muncul. Sifat-sifat riya’, hasud dan sombong secara spontan mulai muncul begitu bedug Iedul Fitri ditabuh. Malu rasanya apabila mudik tanpa mobil bagus, merasa tidak pantas jika bersilaturrahim tanpa sarung BHS, merasa menjadi orang gagal jika tidak memberikan angpao pada sanak dan tetangga.
Itulah paradoks Ramadan. Banyak orang ketakutan datangnya hari-hari yang mendatangkan kesombongan itu. Mahkota belum tentu diraih, ditambah lagi dengan bujukan setan hedon yang meggerogoti pikiran dan hati.
Itulah kenapa Idul Fitri disebut dengan hari kemenangan. Kemenangan yang dirayakan oleh semua orang. Tetapi tidak semua orang yang menang mendapat juara apalagi mahkota. Hanya orang-orang tertentu yang menang sekaligus memperoleh mahkota.
Tidak ada yang tahu siapa yang mendapatkannya termasuk diri sendiri. Namun yang ada sebuah usaha untuk memantaskan agar tidak sekedar menang tetapi juga pantas mendapatkan mahkota itu. Semua kewajiban, sunnah, anjuran, dan amalan baik dilaluinya hingga akhir Ramadan.
Pasca Ramadan juga begitu. Kebiasaan baik dilanjutkan dan bahkan ditingkatkan dan tidak berhenti pada amalan yang pokok saja.
Tentu semua orang pasti berharap bukan hanya menjadi pemenang saja, tetapi juga juara dalam hal ini. Bahkan juga berharap mahkota juga diperoleh, dan tidak lepas lagi saat Ramadan telah tiada. Hingga pada tahun berikutnya juga mendapatkan mahkota lagi. Koleksi itu tetap terjaga hingga ajal tiba. [AA]
Guru Besar dan Dekan FISIP UIN Sunan Ampel Surabaya