Ahjun Ihwadi Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surayaba

Pentingnya Ilmu Mantik dalam Memfilter Hoaks dan Misinformasi

3 min read

sumber: tebuireng.online

Di era digital dan internet saat ini, informasi dapat dengan cepat tersebar melalui berbagai platform media sosial dan internet. Namun, hoaks dan misinformasi dapat menyesatkan masyarakat di balik kemudahan akses ini.

Kemampuan untuk memilah dan memilih informasi yang benar dan akurat diperlukan untuk mengatasi hal ini. Ilmu mantik atau logika menjadi alat penting dalam hal ini untuk membantu kita menemukan kebenaran dalam lautan informasi yang membingungkan.

Ilmu mantik adalah cabang ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang penalaran dan argumen yang tepat. Dengan mempelajari ilmu mantik, kita dapat mengembangkan kemampuan untuk berpikir kritis, menganalisis informasi secara objektif, dan membedakan antara fakta dan opini. Kemampuan ini sangat penting untuk membantu kita terhindar dari hoaks dan misinformasi yang dapat berakibat fatal.

Kita dapat menganalisis struktur dasar dari argumen yang disajikan dengan menggunakan ilmu mantik. Ini memungkinkan untuk memeriksa apakah premis-premis yang diberikan mendukung kesimpulan yang diambil.

Misalnya, kita dapat menggunakan logika untuk mengidentifikasi kesalahan penalaran, yaitu kesalahan generalisasi terburu-buru, jika sebuah berita menyatakan bahwa “semua vaksin tidak aman karena satu orang mengalami efek samping”.

Hoaks dan misinformasi sering menggunakan kesalahan logika untuk memengaruhi pendapat publik. Kesalahan-kesalahan seperti ad hominem (menyerang karakter seseorang daripada argumennya), straw man (menggambarkan argumen lawan secara tidak akurat untuk menyerangnya), dan false dichotomy (memilih antara dua opsi yang sebenarnya tidak eksklusif atau tidak lengkap) dikenal dalam ilmu mantik.

Logika mengajarkan kita untuk berpikir kritis tentang bukti. Apakah bukti yang dikumpulkan relevan dan cukup untuk mendukung klaim tersebut? Apakah sumbernya kredibel?

Metode logis membuat kita lebih skeptis terhadap informasi yang tidak didukung oleh bukti. Misalnya, kita dapat segera menandai berita sebagai informasi yang meragukan jika tidak mencantumkan sumber yang jelas atau menggunakan data yang tidak diverifikasi.

Baca Juga  Intropeksi Diri sebagai Kontrol Kita di hadapan Tuhan

Dalam dunia yang penuh dengan data, sering kali kita harus membuat keputusan berdasarkan informasi yang kita miliki. Ilmuwan mantik membantu kita membuat keputusan yang didasarkan pada analisis logis dan bukti yang jelas, serta menyusun data dengan cara yang koheren.

Misalnya, dalam situasi pandemi, keputusan kebijakan kesehatan harus dibuat berdasarkan data epidemiologis yang akurat dan kesimpulan logis daripada spekulasi atau informasi yang tidak akurat.

Menggunakan ilmu mantik (logika) untuk memfilter hoaks dan misinformasi memerlukan pendekatan yang sistematis dan disiplin. Berikut adalah beberapa langkah praktis yang dapat diambil untuk menerapkan ilmu mantik dalam kehidupan sehari-hari:

Pertama, mempelajari dasar-dasar logika. Mulailah dengan memahami konsep dasar logika seperti premis, kesimpulan, argumen, dan inferensi. Sumber belajar online, buku teks tentang logika, dan kursus daring bisa sangat membantu. Pelajari berbagai kesalahan logika umum seperti ad hominem, straw man, false dichotomy, slippery slope, dan circular reasoning.

Kedua, melatih pikiran kritis. Saat menghadapi informasi baru, biasakan untuk bertanya “Apa bukti yang mendukung klaim ini?”, “Apakah kesimpulannya logis berdasarkan premis yang diberikan?”, dan “Apakah ada kemungkinan penjelasan lain?”. Identifikasi premis dan kesimpulan dalam argumen. Pastikan bahwa kesimpulan logis mengikuti dari premis yang diberikan.

Ketiga, verifikasi sumber informasi. Tinjau kredibilitas sumber informasi. Apakah sumber tersebut dikenal sebagai otoritas di bidangnya? Apakah mereka memiliki rekam jejak yang baik dalam menyajikan informasi yang akurat?. Gunakan situs web dan aplikasi yang dirancang untuk memeriksa fakta, seperti Snopes, FactCheck.org, atau media pengecek fakta lokal.

Keempat, evaluasi bukti. Tinjau apakah bukti yang disajikan relevan dan berkualitas tinggi. Misalnya, studi peer-reviewed lebih dapat diandalkan daripada opini pribadi. Pastikan bahwa bukti tersebut disajikan dalam konteks yang tepat dan jumlahnya cukup untuk mendukung klaim yang dibuat.

Baca Juga  Menghancurkan Hegemoni Nafsu Ketika Berpuasa

Kelima, hindari bias kognitif. Kenali bias kognitif seperti bias konfirmasi (mencari informasi yang hanya mendukung keyakinan kita) dan bias keterjangkauan (mengandalkan informasi yang mudah diingat). Aktif mencari pandangan dan argumen yang berbeda untuk mendapatkan gambaran yang lebih lengkap dan objektif tentang suatu isu.

Keenam, diskusi dengan orang lain. Libatkan diri dalam diskusi dengan orang lain, terutama mereka yang memiliki pandangan berbeda. Diskusi ini dapat membantu melihat kelemahan dalam argumen Anda sendiri dan memperkuat pemahaman logis kita. Pastikan untuk mendasarkan diskusi pada bukti dan argumen yang logis, bukan pada emosi atau opini yang tidak terverifikasi.

Ketujuh, gunakan teknologi dengan bijak. Manfaatkan teknologi yang tersedia untuk memeriksa kebenaran informasi, seperti plugin peramban untuk pengecekan fakta dan aplikasi untuk mendeteksi berita palsu. Saring informasi yang diterima dari media sosial dengan hati-hati dan hindari menyebarkan informasi yang belum diverifikasi kebenarannya.

Kedelapan, tingkatkan literasi digital. Pahami bagaimana algoritma media sosial bekerja dan bagaimana mereka bisa memengaruhi apa yang terlihat di feed medsos kita. Pelajari dasar-dasar jurnalisme, seperti bagaimana berita ditulis dan bagaimana jurnalis bekerja untuk mengumpulkan dan memverifikasi informasi.

Kemampuan untuk berpikir secara kritis dan logis sangat penting di era informasi saat ini, di mana berita palsu dapat menyebar dengan cepat. Ilmuwan mantik memiliki alat yang diperlukan untuk menyaring informasi dan menemukan kebenaran di antara kebisingan.

Dengan menguasai logika, kita tidak hanya melindungi diri kita sendiri dari informasi yang salah, tetapi kita juga membantu membuat masyarakat lebih cerdas dan terinformasi. Untuk memfilter hoaks dan misinformasi, diperlukan latihan dan disiplin.

Kita bisa menjadi konsumen informasi yang lebih cerdas dan kritis dengan mempelajari dasar-dasar logika, melatih pikiran kritis, memverifikasi sumber informasi, dan berbicara dengan orang lain.

Baca Juga  Menyikapi Radikalisme Agama dengan Kacamata Kemanusiaan Ala Gus Dur (1)

Hal ini tidak hanya melindungi diri sendiri dari informasi yang salah, tetapi juga membantu menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan tepercaya di mana orang berbicara tentang informasi. [AR]

Ahjun Ihwadi Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surayaba