Naufal Robbiqis Dwi Asta Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya

Benarkah Islam Agama Teroris?

2 min read

Sumber: Fahmina.or.id

Terorisme merupakan serangan terstruktur yang dilakukan oleh kelompok-kelompok tertentu untuk menciptakan perasaan takut dan terancam terhadap sekelompok masyarakat secara acak, bahkan dalam kasus tertentu dapat disebut sebagai kasus pembunuhan secara massal. Berbicara mengenai terorisme dalam konteks dunia, Islam seringkali dianggap sebagai tersangka utama dalam adanya praktik terorisme yang telah terjadi.

Dapat dikatakan demikian, karena praktik terorisme terbesar yang terjadi di dunia adalah disebabkan oleh beberapa kelompok dalam Islam, terutama dari kelompok global terdapat Al-Qaeda dan Islamic State of Iraq Syria (ISIS) yang seringkali menjadi tersangka utama dalam fenomena terorisme. Para kelompok terorisme memiliki beragam aksi diantaranya adalah penyanderaan, penembakan, pengeboman, bom bunuh diri, dan pembunuhan yang dilakukan secara massal.

Dilansir dari news.okezone.com, kasus-kasus besar yang terjadi di dunia yang berawal dari gerakan terorisme Islam antara lain serangan bom di Istanbul (2003), penyanderaan 777 guru dan murid di Rusia, pengeboman di Karachi Pakistan (2007), penyerangan di Mumbai India oleh Lashkar e Taiba pada tahun 2008, terorisme Boko Haram di Nigeria sejak tahun 2009, dan serangan ISIS untuk memperluas wilayah kekuasaan di beberapa negara Islam. Demikian pula di Indonesia, telah terjadi berbagai kasus terorisme, salah satu kasus terbesar adalah Bom Bali (2002) yang dipelopori oleh Amrozi.

Rentetan kejadian tersebut memberikan citra yang buruk terhadap Islam sebagai agama yang Rahmatan lil ‘Alamin. Islam yang seharusnya menjadi agama yang mampu mewujudkan perdamaian dan kasih saying bagi sesama manusia dan alam semesta, harus dipengaruhi oleh paham-paham terorisme yang mengatasnamakan jihad sebagai landasan utama dalam melakukan beragam aksi terorisnya.

Jihad yang dipahami oleh para terorisme nampaknya sangat berbeda dengan penjelasan jihad yang dijelaskan dalam Islam. Jihad sangat penting untuk dilakukan ketika Islam tidak lagi mendapatkan hak-haknya dalam beragama, misalnya pelarangan ibadah, para Muslim yang terzalimi, difitnah secara terus menerus, dan lain sebagainya. Rasulullah SAW juga telah bersabda bahwa jihad yang paling utama adalah jihad untuk melawan nafsu pada dirinya sendiri. Dalam suatu hadits telah dijelaskan,

“Jihad yang paling utama adalah seseorang berjihad [berjuang] melawan dirinya dan hawa nafsunya” (Hadits shahih doriwayatkan oleh ibnu Najjar dari Abu Dzarr).

Dengan demikian, terdapat kesalahpahaman para pelaku teroris pada ayat-ayat Al-Qur’an dan segenap ajaran agama Islam tentang pengertian dari jihad. Penafsiran pada teks-teks dan berbagai ajaran agama Islam dilakukan sesuai kebutuhannya saja tanpa benar-benar dipelajari secara mendalam dan baik oleh mereka. Di samping itu, pengaruh dari faktor politik, ekonomi dan sosial memperkuat semangat praksis dalam ideologi mereka untuk menjalankan beragam aksi terorisnya dengan slogan berjihad.

Baca Juga  Gus Dur sang Ksatria Kemanusiaan dan Keadilan

Islam dan terorisme akhirnya dipandang oleh dunia sebagai sesuatu yang tidak dapat dipisahkan. Selain dua jaringan teroris global yang masih aktif dan tersebar di seluruh dunia, berbagai protes dari masyarakat non-Muslim pun bermunculan di berbagai negara, bahkan tersebar di berbagai media. Seperti gerakan Islamophobia, sebuah gerakan pembenci Islam yang kerap menyamakan Islam dengan praktik terorisme. Gerakan ini berkembang di beberapa negara khususnya Eropa, hingga akhirnya gerakan ini diredupkan oleh parlemen Eropa yang meluncurkan Counter-Islamic Device (CIK) dari Eropa pada tahun 2018.

Secara historis, dapat diakui bahwa berbagai tindakan radikalisme teroris memang berasal dari dalam Islam, meskipun sebenarnya Islam tidak mengajarkan hal tersebut. Namun, demi terciptanya perdamaian dunia, setiap negara yang memiliki hubungan kerjasama seharusnya melakukan tindakan untuk memberantas praktik terorisme, bukan malah menebarkan kebencian terhadap agama Islam. Agama Islam yang sebenarnya tidak mengajarkan ajaran seperti itu juga akan mengalami kerugian berupa fitnah yang dituduhkan kepada pemeluknya.

Penghapusan stereotip negatif dari para orientalis juga harus dilakukan karena stereotip semacam itu dapat menimbulkan fitnah yang tidak berkesudahan bagi umat Islam. Terorisme yang dikenal dari Islam juga dapat menjadi alat bagi para orientalis untuk mengejar kepentingan politik mereka dengan merepresentasikan Islam sebagai gerakan teroris belaka. Alih-alih meredam terorisme, stereotip semacam itu juga dapat membangkitkan semangat para teroris untuk melancarkan aksi terorismenya lebih lanjut. Dampak lain yang terjadi adalah stereotip tersebut dapat menjadi pandangan dunia yang buruk bagi seseorang dalam mengartikan agama  Islam.

Dalam konteks dunia modern, selain novel, buku, dan beberapa literatur lainnya, media massa merupakan sarana terbaik yang seringkali digunakan untuk menyebarluaskan stereotipe dari para Orientalis tersebut. Seperti yang dapat kita temukan pada beberapa film-film Hollywood yang menyajikan stereotipe buruk terhadap Islam, diantaranya adalah film The Siege (1998), Drama Televisi DC 9/11: Time of Crisis (2003), dan beberapa film yang lainnya.

Baca Juga  Muslim Itu Juru Damai, Bukan Pembuat Konflik dan Kekerasan

Demi perdamaian dunia dan terwujudnya definisi Islam sebagai agama Rahmatan lil ‘Alamin, maka pemberantasan terorisme perlu dilakukan karena terorisme merupakan tindakan yang melanggar nilai-nilai kemanusiaan. Selain itu, pemberantasan stereotip kaum orientalis juga perlu dilakukan karena hal tersebut menimbulkan pandangan yang buruk terhadap Islam. Dengan demikian, tindakan fitnah terhadap Islam dan pemeluknya dapat dihindari.

Naufal Robbiqis Dwi Asta Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya