Menjaga dan Meningkatkan Kesehatan Mental Melalui Pendekatan Spiritual di Era Digital

sumber: veeroes.com

Pada era digital ini, media sosial tidak hanya menjadi tempat untuk mendapatkan informasi dan hiburan saja, tetapi juga menjadi tempat terbentuknya standar hidup sosial. Standar tersebut mencakup berbagai aspek seperti kecantikan, gaya hidup, karier, hingga hubungan dengan pasangan. Hal tersebut mula-mula dianggap wajar, namun seiring berjalannya waktu, hal ini sering kali tidak realistis dan justru menciptakan tekanan psikologis bagi mayoritas penggunanya.

Salah satu fenomena yang muncul akibat dari standar sosial ini adalah meningkatnya kecemasan (anxiety), terutama pada kalangan remaja dan dewasa tingkat awal. Mereka merasa harus selalu tampil sempurna, produktif, cantik atau tampan, dan harus berhasil dalam setiap hal yang dilakukan agar dapat diterima oleh ekosistem digital yang sangat visual dan kompetitif. Ketika realita tidak sesuai dengan harapan atau berbeda dari apa yang mereka lihat di media sosial, maka akan tumbuh rasa cemas, tidak percaya diri (insecure), overthinking, bahkan stres kronis.

Saya pernah mendengar podcast dari seorang psikolog mengenai kasus seseorang yang terkena depresi akibat tekanan dari standar hidup di media sosial. Sebut saja dia Rani. Dalam podcast tersebut dijelaskan bahwa Rani merupakan seorang mahasiswi di universitas ternama. Di media sosial miliknya, Rani tampak ceria, sering mengunggah foto-foto dengan caption positif, dan kehidupannya terlihat menyenangkan. Namun ternyata, di balik semua unggahan tersebut, Rani menyimpan luka yang tak terlihat—depresi yang perlahan tumbuh karena tekanan dari dunia maya.

Pada awalnya, Rani menggunakan media sosial hanya untuk mencari motivasi dan tips agar menjadi pribadi yang lebih baik dan produktif. Namun, lama-kelamaan ia merasa bahwa dirinya jauh dari standar yang ditampilkan, seperti wajah yang glowing, tubuh ideal dan langsing, pekerjaan mapan, serta kemampuan liburan ke tempat-tempat mewah. Dari situ, mulai timbul pertanyaan dalam dirinya, “Mengapa hidupku tak seperti mereka?”

Setiap kali membuka media sosial, ia selalu membandingkan dirinya dengan apa yang dilihat, dan merasa tidak pernah puas dengan apa yang telah ia capai. Rasa cemas dan rendah diri tumbuh semakin kuat dalam dirinya. Ia mulai menarik diri dari lingkungan sosial, terus-menerus overthinking tentang kehidupannya, dan merasa bahwa hidupnya sia-sia.

Hingga pada suatu malam, ia menangis karena merasa hampa. Ia merasa sudah tidak kuat lagi menjalani kehidupan yang ia alami. Di kepalanya berputar berbagai pertanyaan yang membuatnya lelah secara emosional. Akhirnya, ia memutuskan untuk menemui seorang psikolog. Di sana, ia menyadari bahwa dirinya telah mengalami gejala depresi akibat tekanan dari media sosial.

Perlahan, Rani mulai mengurangi waktu untuk membuka media sosial dan mengganti konten yang dikonsumsi dengan hal-hal yang lebih membangun. Ia juga mulai belajar mengenali dirinya sendiri, menerima, dan mensyukuri apa yang dimilikinya.

Dari cerita tersebut dapat disimpulkan bahwa penggunaan media sosial yang terlalu serius dan intens dapat mengakibatkan kecemasan sosial dan depresi, terutama di kalangan remaja. Remaja perempuan, misalnya, lebih rentan mengalami stres, depresi, dan gangguan psikologis lainnya akibat tekanan sosial dan pengaruh media sosial. Perbandingan sosial yang tidak sehat serta ekspektasi yang terlalu tinggi dan tidak realistis memperburuk kondisi ini.

Dalam beberapa artikel dijelaskan bahwa spiritualitas dalam Islam, seperti tasawuf dan psikoterapi Islam, dapat digunakan untuk mengatasi krisis kesehatan mental yang ditimbulkan oleh media sosial. Seperti dalam cerita di atas, praktik syukur menjadi salah satu obat untuk menghindari kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain dan mengabaikan usaha yang telah dilakukan.

Menurut ilmu tasawuf, ketenangan jiwa dan kestabilan mental akan tercapai melalui kondisi jiwa yang bersih dan segar. Untuk mencapai kondisi tersebut, tasawuf menawarkan berbagai metode pembersihan jiwa melalui praktik-praktik spiritual seperti zikir, tawakal, dan bersyukur atas apa yang dimiliki. Tasawuf juga menekankan pentingnya hidup secara seimbang—tidak condong pada dunia maupun akhirat, serta menjalani hidup dengan kesederhanaan. Kehidupan yang seimbang ini dapat membantu individu menghindari godaan materialistis dan mencapai kedamaian batin.

Psikoterapi Islam merupakan pendekatan yang mengintegrasikan dimensi tasawuf dengan terapi psikologis. Pendekatan ini mencakup penyucian hati melalui praktik spiritual untuk membantu individu mengembangkan akhlak mulia dan memperbaiki hubungan spiritual, yang pada akhirnya meningkatkan kesehatan mental.

Dalam dunia tasawuf, terdapat amalan seperti tafakur dan syukur yang berfungsi sebagai sarana untuk merenungi serta mensyukuri apa yang telah terjadi dalam hidup, sekaligus memahami makna kehidupan. Praktik ini membantu individu menumbuhkan rasa syukur dan menerima diri sendiri, sehingga tekanan sosial seperti keinginan hidup sesuai standar media sosial dapat dikendalikan.

Melalui konsep tawakal, psikoterapi Islam mengajarkan individu untuk berserah diri kepada Allah setelah melakukan usaha maksimal. Sikap ini dapat mengurangi kecemasan terhadap masa depan dan membantu individu menerima apapun yang akan terjadi.

Integrasi antara tasawuf dan psikoterapi menawarkan pendekatan holistik dalam menjaga stabilitas jiwa. Tasawuf berfokus pada penyucian hati dari sifat-sifat tercela, sementara psikoterapi memberikan teknik-teknik psikologis untuk mengatasi gangguan mental. Salah satu penyebab menurunnya kesehatan mental manusia di era digital adalah munculnya standar hidup yang tidak realistis di media sosial. Masalah ini dapat diatasi melalui pendekatan tasawuf dan psikoterapi yang menggabungkan aspek spiritual dan psikologis.

Selain membantu menghadapi tekanan mental di era digital, tasawuf dan psikoterapi Islam juga dapat menjadi investasi jangka panjang dalam membangun masyarakat yang sehat secara emosional maupun spiritual. Dengan mempraktikkan tasawuf dalam kehidupan sehari-hari, individu dapat mencapai keseimbangan batin dan meningkatkan kualitas hidup secara keseluruhan.

0

Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya

Post Lainnya

Arrahim.id merupakan portal keislaman yang dihadirkan untuk mendiseminasikan ide, gagasan dan informasi keislaman untuk menyemai moderasi berislam dan beragama.