Alfin Haidar Ali Mahasantri di di Ma’had Aly Nurul Jadid Paiton-Probolinggo, Jawa Timur

Gus Baha : Sebaik-Baik Ibadah Adalah Kerja

2 min read

Dalam salah satu video Gus Baha’,  beliau menjelaskan pentingnya kerja. Gus Baha mengawali penjelasannya tentang pengalaman yang beliau alami pada tanggal 2 Syawal (saat masih suasan lebaran seperti itu). beliau pagi-pagi pergi ke pasar Kragan bersama dua putrinya, yakni Tasbiha dan Mil’a dan disana gus Baha’ menemui seseorang yang sudah berjualan ayam.

Kemudian Gus Baha menangis, “Ya Allah, jika orang tidak menjadi kiai, tanggal 2 Syawal sudah cari uang.”

Kemudian Gus Baha’ membeli ayam tersebut sebanyak dua ratus ribu rupiah. Lalu putri Gus Baha’ bertanya, “mau untuk apa ayam sebanyak itu ?”. Gus Baha menjawab: “ya.. untuk dijadikan pelajaran. Dijadikan pelajaran bahwa tanggal 2 Syawal orang-orang sudah mencari uang.”

Maka bagi Gus Baha’ sebagai kiai, perayaan hari raya itu jangan lama-lama karena banyak menghambat pasar. Oleh karena itu, tradisi di Narukan -tempat tinggal gus Baha, hari raya itu hanya pada hari pertama dan malam hari ke dua syawal. Setelah itu bubar.

“Awas. Besok pagi jangan sowan lagi.” Canda Gus Baha’.

Jadi setiap hari raya, tetangga semua sowan ke Gus Baha’ ketika setelah sholat ‘Id dan malam ke dua Syawal. Setelah itu mereka sungkan kecuali bagi mereka yang tinggal di Malaysia.

“Hari raya harus satu hari! Besok yang kerja, kerja. Aneh-aneh! Hari raya kok lama.”

Posisi kiai di waktu lebaran memang enak karena di waktu lebaran orang-orang berdatangan untuk sowan. Namun bagaimana, kalau bukan kiai ?!. Mengganggu rezeki banyak orang. Hal ini didasarkan pengalaman Gus Baha’ tadi, yakni sudah ada orang yang jualan ayam pada tanggal 2 syawal.

Menyikapi hal ini, Gus Baha’ berpendapat bahwa seharusnya para kiai berpikir, bukan malah bangga tamunya datang terus menerus selama sebulan. Gus Baha’, yang menurut banyak orang termasuk kiai besar dan tentunya tamu beliau banyak, merasa tidak nyaman jika tamu yang ada tamu yang terus menerus berdatangan.

Baca Juga  Air Mata Badar: Senandung Cinta dan Dilema ala Rasulullah

Acara-acara tidak penting seperti foto-foto, story kok di dewa-dewakan. Gus Baha’ tidak cocok dengan kebiasaan semacam itu.

“Ibadah terbaik adalah bekerja,” begitu kata nabi Muhammad SAW.

Orang biar tetap kerja sesuai dengan kemampuan masing-masing. Dan, itu ibadah yang paling utama kata nabi. Menerima tamu memang baik namun bekerja mencari nafkah jauh lebih baik.

Gus Baha’ mengetahui pengamalan ‘sebaik-sebaik ibadah’ ini dari Mbah Moen. Mbah Maimoen meski begitu besar kekuasaan dan pengaruhnya, ketika makan di rumahnya, yang beliau makan adalah uang hasil jualannya. Gus Baha’ sendiri sering menemani beliau makan. Mbah Moen biasa makan lauk pecel. Pecel yang dijual pada santri-santrinya itu. Betapa sederhananya beliau.

Begitupula dengan bapak Gus Baha’, yakni Kiai Ahmad Nur Salim. Meskipun begitu besarnya tokoh Kiai Nur Salim, ketika di rumah makan sebagaimana orang biasa.

Di terakhir video pengajiannya, Gus Baha’ menjelaskan pentingnya mengakui semua kekuasaan dan kekayaan milik Allah. Bukan malah merasa memiliki dan lalai kepada Sang Pemberi.

Gus Baha mencontohkan kemuliaan dan kebesaran yang ada pada nabi Sulaiman. Nabi Sulaiman jika pergi ke masjid dikawal oleh pasukannya. Pasukan nabi Sulaiman bukan pasukan biasa seperti manusia, tapi juga jin, burung dan makhluk-makhluk lainnya.

Nabi Sulaiman ketika pergi ke masjid, beliau mencari dan duduk bersama orang paling fakir. Lalu nabi Sulaiman berkata, “Kita sama-sama miskin. Mari duduk bersama”. Oleh karena itu, kita tidak bisa mengatakan bahwa nabi Sulaiman itu kaya karena nabi Sulaiman tahu betul bahwa semuanya milik Allah.

Karena gus Baha’ menyaksikan betul bahwa itu semua bukan miliknya. Begitu pula dengan para nabi semua nya menyaksikan betul bahwa semua anugerah itu bukan miliknya, namun milik Allah SWT. Mereka merasa sebagai seorang hamba yang tidak memiliki apa-apa.

Baca Juga  Tiga Hal Yang Bisa Dilakukan Orang Tua Dalam Mendidik Anak

Bila seorang buruh saja menyaksikan bahwa barang-barang yang ada disekililingnya bukan miliknya, apalagi dengan kesaksian para nabi yang lebih tinggi ketimbang kesaksian seorang buruh penjaga gudang. Karena nabi semuanya mukasyafah. (MMSM)

Alfin Haidar Ali Mahasantri di di Ma’had Aly Nurul Jadid Paiton-Probolinggo, Jawa Timur