Alfin Haidar Ali Mahasantri di di Ma’had Aly Nurul Jadid Paiton-Probolinggo, Jawa Timur

Kisah Ulama Yang Menyesal Karena Mengucapakan “Alhamdulillah”

2 min read

Ketika mendapatkan kenikmatan atau kesenangan,kita disunahkan untuk bersyukur. Di antara bentuk bersyukur adalah mengucapakan kalimat “alhamdulillah”. Kalimat alhamdulillah berarti segala puji bagi Allah. Artinya, segala pujian dialam semesta ini bermuara dan kembali kepada Allah. Karena Allah lah sang Mahadalang dan segalanya di dunia ini.

Para ulama mengulas apa yang dimaksud “pujian” yang terkandung dalam kalimat alhamdulillah. Mereka menjelaskan bahwasanya pujian itu ada empat.

Pertama, pujian Allah kepada Allah sendiri. Banyak sekali contohnya, diantaranya adalah dalam firman-Nya, Allah mengatakan “Sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan Penyayang” [inna Allah ghafūr rahīm].

Kedua, pujian Allah pada Makhluk-Nya. Semisal Allah memuji Nabi Muhammad pada salah satu firmannya yang berbunyi laqad kāna lakum fī Rasūl Allah uswah hasanah (Niscaya Sungguh pada diri kalian (Muhammad) terdapat suri tauladan yang baik). Ayat ini menunjukkan pujian Allah pada salah satu makhluk-nya, yakni nabi Muhammad.

Ketiga, pujian makhluk pada Allah. Hal ini juga sering kita lakukan saat kita mendapat rezeki, anugerah atau berita gembira. Kemudia kita mengingat Sang Pemberi Nikmat tersebut dan mengucapkan “alhamdulillah… ”.

Keempat, pujian makhluk pada makhluk. Semisal kita memuji pada teman kita sendiri dikarenakan suatu prestasi atau kebaikannya. Sehingga orang lain yang sebaya dengan kita (makhluk) berhak mendapat pujian.

Dari semua pembagian itu, bila kita renungi makna “alhamdulillah” kembali, berati hal ini menunjukkan tidak ada rasa sombong, bangga dan merasa lebih baik dari pada yang lain dikarenakan makna alhamdulillah sendiri adalah segala puji bagi Allah.

Lafal “alhamdulillah” merupakan kalimat yang mulia nan agung. Akan tetapi, orang yang mengucapkannya harus sesuai dengan tempat dan situasinya. Apabila tidak, maka maksud atau kemuliaan dari kalimat tersebut tidak tercapai.

Baca Juga  Tradisi Saling Memaafkan Jelang Ramadan

Didalam kitab Tafsīr al-Fātihah fī Bayān Khawāsihā wa Manāfi’ihā wa Bayān ‘Adad Āyātihā wa Tafsīrihā, Syeikh Ahmad Asymuni mengisahkan seorang ulama yang menyesal akibat mengucapkan kalimat “alhamdulillah” tidak sesuai dengan situasi dan kondisi.

Syahdan, dikatakan kepada (ulama masyhur) al-Sarī al-Saqathī, “bagaimana kamu mengerjakan ketaatan?”

Syeikh al-Sarī al-Saqathī menjawab, “Semenjak tiga puluh tahun saya memohon ampun pada Allah disebabkan mengucapakan kalimat ‘alhamdulillah’ satu kali.”

“Mengapa hal itu bisa terjadi?”

Syeikh al-Sarī al-Saqathī menjawab, “(Saat itu) terjadi kebakaran di Baghdad. Semua toko dan rumah terbakar di daerah tersebut. Kemudian mereka (warga desa) mengabariku bahwasanya tokoku tidak terbakar. Kemudian aku mengucapkan ‘alhamdulillah’. Sedangkan makna dari ucapan itu adalah saya senang tokoku tidak terbakar ketika semua toko di Baghdad terbakar. Yang benar dari ajaran (hak dan marwah) agama itu saya tidak bergembira akan kejadian tersebut. Kemudian aku memohon ampun pada Allah selama tiga puluh tahun (akibat kejadian itu).”

Maka telah tetap, bahwasanya kalimat agung ini akan tetap mulia apabila kita menjaga kemuliannya pula.

Kemudian, Syeikh Ahmad Asymuni melanjutkannya dengan menjelaskan pada pembagian nikmat.

 ثُمَّ اِنَّ نِعَمَ اللهِ الله عَلى العَبْدِ كَثِيْرَةٌ اِلَّا اَنَّهَا بِحَسَبِ الْقِسْمَةِ الاُوْلَى مَحْصُوْرَةً فِى نَوْعَيْنِ : نِعَمُ الدُّنْيَا وَنَعِمُ الدِّيْنِ وَنَعِمُ الدِّيْنِ اَفْضَلُ مِنْ نَعِمُ الدُّنْيَا لِوَجُوْه كَثِيْرَةٍ وَقَوْلُنَا اَلْحَمْدُ للهِ كَلِمَةٌ جَلِيْلَةٌ شَرِيْفَةُ فَيَجِبُ عَلَى الْعَاقِلِ اِجْلَالُ هَذِهِ الْكَلِمَةِ مِنْ اَنْ يَذْكُرَهَا فِى مَقَابَلَةِ نِعَمِ الدّنْيَا بَلْ يَجِبُ اَنْ لَا يَذْكُرَهَا اِلَّا عِنْدَ الْفَوْزِ بِنِعَمِ الدُّنْيَا

Artinya: Kemudian nikmat Allah pada hambanya itu banyak itu kecuali banyaknya tersebut sesuai dengan pembagian yang pertama yang terbatasi di dalam dua hal, yakni nikmat dunia dan nikmat agama. Nikmat agama itu lebih utama dari pada nikmat dunia karena memiliki banyak sisi. Ucapan kita ‘alhamdulillah’ itu kalimat yang mulia dan agung. Maka wajib bagi orang berakal untuk mengagungkan kalimat ini dengan tidak mengucapak kalimat ini ketika mendapati nikmat dunia, bahkan wajib untuk tidak mengucapakan kalimat ini kecuali ketika mendapat nikmat-nikmat agama.

Baca Juga  Dhikr al-Mawt [3]: Mengingat Kematian

Oleh karena itu, kita dapat mengambil pelajaran untuk tidak mengucapkan kalimat ini melainkan ketika mendapat nikmat-nikmat agama. Kemudian, nikmat agama terbagi menjadi dua yaitu ‘amal anggota badan’ dan ‘amal hati’, dan macam kedua ini yang lebih mulia.

Nikmat dunia juga terbagi dua macam yaitu pertama nikmat yang hanya dipandang sebagai nikmat belaka dan nikmat yang dipandang sebagai sebuah pemberian dari Sang Pemberi Nikmat, Allah SWT.

Yang kedua inilah yang lebih mulia. Inilah beberapa maqām (kedudukan) nikmat yang wajib diperhitungkan oleh seorang hamba sehingga pengucapan kalimat “Alhamdulillah” sesuai dengan posisi dan sebabnya.

Kesimpulannya, kalimat ‘alhamdulillah’ ini akan tetap agung dan mulia bila orang yang mengucapkanya sesuai dengan situasi dan kondisi, yakni ketika ia mendapati nikmat agama. Bahkan menurut Syeikh Ahmad Asymuni menghukumi wajib untuk tidak mengucapakan kalimat ini kecuali ketika seseorang mendapati nikmat agama, bukan malah gembira dan mengucapkan kalimat ‘alhamdulillah’ saat mendapat kesenangan dunia.

Editor: MZ

Alfin Haidar Ali
Alfin Haidar Ali Mahasantri di di Ma’had Aly Nurul Jadid Paiton-Probolinggo, Jawa Timur