Efri Arsyad Rizal Mahasiswa S1 Jurusan Ilmu al Quran dan Tafsir UIN Walisongo Semarang

KHR. Ahmad Al Hadi bin Dahlan Al-Falaky: Syair Semangat Beragama, Nasionalisme, dan Persaudaraan

3 min read

Source: edarabia.com

Khazanah tentang keislaman di Bali hingga saat ini masih menjadi topik yang sangat menarik di tengah maraknya kaum radikal dan intoleran yang membuat kondisi negara kita gonjang-ganjing. Bisa saja pendapat ini benar adanya, bisa saja sebaliknya. Namun kenyataannya, media sosial yang mana biasanya menjadi alternatif untuk berdakwah dan mengajarkan agama, saat ini penuh dengan riuh kegaduhan yang membuat atmosfer dunia maya berkecamuk.

Beberapa kesempatan yang lalu, UIN Walisongo Semarang mengadakan seminar dengan tema Moderasi Beragama Berbasis Indigeneous Religiousity: Merawat Tradisi Keagamaan Walisongo Dalam Kerangka Moderasi Beragama. Salah satu poin utama yang dibahas ialah bagaimana bentuk keberagamaan masyarakat indigenous yang telah berakar dan menjadi asset berharga negara kita.

Keberagamaan pribumi, di Jawa khususnya, menjadi pijakan yang sangat penting untuk dijadikan pelajaran bagi generasi muda, sebagaimana yang dibawa oleh para Walisongo. Tentu nilai-nilai semangat beragama, nasionalisme, persaudaraan, dan penuh akan budaya yang diajarkan oleh Walisongo ini menjadi pedoman dalam menjalankan kehidupan sehari-hari.

Belum lagi, Resolusi Jihad Nahdlatul Ulama oleh KH. Hasyim Asy’ari yang menyetuskan untuk membela tanah air dari penjajahan, dan pengaruh para ulama sebelum deklarasi Sumpah Pemuda, tepatnya pada hasil Muktamar NU pada 9 Oktober 1927, kurang lebih setahun sebelum Sumpah Pemuda.

Hal ini membuktikan, selain Walisongo, ulama-ulama kita pada masa sebelum kemerdekaan juga sangat nasionalis dan memiliki semangat persaudaraan yang tinggi untuk bersatu melawan penjajahan Belanda. Miris sekali jika ada saat ini yang mencap dirinya seorang ulama namun tidak memiliki nasionalisme dan intoleran terhadap yang berbeda.

Kali ini penulis akan sedikit mengungkap salah satu khazanah keislaman yang dimiliki oleh Bali. Secara persentase jumlah penduduk, Muslim di Bali masih menjadi minoritas. Namun muslim di Bali memiliki pengaruh yang besar untuk menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hal itu bisa dilihat dari syair-syair karya KHR. Ahmad Al Hadi bin Dahlan al-Falaky cucu dari KH. Sholeh Darat Semarang.

Baca Juga  Obituari: M. Nursamad Kamba, Teladan yang Menginspirasi

Tak banyak yang tahu tentang karya syair-syair ini. Namun sejatinya masyarakat Bali, khususnya Jembrana, sudah familiar dengan syair-syair karangan ulama yang akrab disapa Datuk Semarang. Menurut Hj. Musyarrafah Ahmad, anak KHR. Ahmad Al-Hadi, sebagaimana yang disampaikan oleh Rohil Zilfa, pembuatan syair-syair yang beraroma nasionalisme, semangat beragama, dan persaudaraan itu dikarang karena Indonesia saat itu baru saja merdeka.

Maka untuk mengajarkan dan mensosialisasikan ke masyarakat tentang pentingnya kecintaan kepada negara, KHR. Ahmad Al-Hadi menyalurkannya melalui syair-syair yang hingga saat ini masih sering dibaca di berbagai kegiatan keagamaan maupun dalam pengajian sehari-hari.

Adapun mengenai asal usul kapan syair ini ditulis belum diketahui dengan pasti. Penulis mengalami keterbatasan untuk mengakses informasi mengenai kitab tersebut. Namun Rohil Zilfa mengatakan, syair-syair yang ditulis oleh KHR. Ahmad Al-Hadi itu berasal dari catatan pribadi beliau dan pada awalnya belum tersusun dengan baik.

Kemudian syair-syair tersebut, “Kumpulan Syair KHR. Ahmad Al-Hadi bin Dahlan Al-Falaky (1895-1976)” yang terdiri dari 64 halaman, merupakan hasil rangkuman (atau lebih tepatnya, ditulis ulang) oleh Hj. Musyarrafah Ahmad (anak KHR. Ahmad Al-Hadi). Di halaman terakhir kitab tersebut menunjukkan bahwa kitab ini selesai dirangkum pada 25 Agustus 2018 M/ 13 Dzulhijjah 1439 H.

Gambar Kumpulan Syair KHR. Ahmad Al-Hadi bin Dahlan Al-Falaky (1895-1976)–Dokumen Pribadi Penlis

Dengan membaca syair-syair yang dikarang oleh pendiri Pondok Pesantren Manba’ul Ulum Loloan Jembrana ini menunjukkan bahwa seorang pendakwah selain alim dalam pemahaman agama, tentu harus memiliki nasionalisme yang tinggi serta selalu menyebarkan pesan persaudaraan. Tak terlupa, unsur seni melalui syair-syair yang dikarang, menunjukkan kekayaan budaya nusantara yang sering dipakai oleh para pendakwah sebagai media dakwahnya, sebut saja seperti yang dilakukan oleh Walisongo. Hal ini terbukti dengan hubungan masyarakat muslim dan hindu di Bali masih guyub rukun hingga saat ini.

Baca Juga  Sosialisme Islam H.O.S Tjokrominoto dan Spirit Kebangsaan

Ditilik dari sejarah, hubungan harmoni antara Muslim dan Hindu di Jembrana Bali bukan merupakan hal yang baru. Pada abad ke-17, hubungan Islam dan Hindu sudah dimulai oleh Daeng Nachoda yang merupakan pimpinan Pasukan Kesultanan Wajo asal Bugis Makassar yang mendarat di Jembrana karena jatuhnya Makassar oleh Kompeni Hindia Belanda, tepatnya pada tahun 1667.

Singkat cerita, Daeng Nachoda melakukan kerja sama dengan penguasa Jembrana saat itu, I Gusti Ngurah Pancoran IV/I Gusti Ngurah Cengkrong Bang (Periode pemerintahan 1620-1697 M), dalam sisi politik, ekonomi, dan keamanan. (Selengkapnya baca buku: Daeng Nachoda Terdamparnya Skuadron Pasukan Kesultanan Wajo di Jembrana pada Abad ke-17:2019).

Pada kitab yang berisi syair-syair itu tak hanya berisi syair nasionalisme, semangat beragama, dan persaudaraan saja. Melainkan tentang dasar-dasar keislaman, keimanan, serta syariat yang juga disusun dalam bentuk syair-syair.

Di bawah, penulis menyajikan beberapa syair yang mengandung nilai-nilai semangat beragama, nasionalisme, dan persaudaraan. Dengan tulisan singkat ini, penulis berharap para generasi muda semakin sadar akan kekayaan ulama kita yang memiliki karya-karya yang luar biasa dan tentu supaya tidak dilupakan oleh kita sebagai pewaris generasi terdahulu.

Muslimat itu saudara kita

Saudara yang kami cinta cinta

Kaum terpelajar seluruhnya

Marilah berlomba lomba mengamalkan petuahnya

Yang sempurna dari sifat yang gemar menyatu

Dari fi’il dan jahatnya kita

Hilangkan ragu ragu kita

Dari sanubari kita kita

(hal.7)

 

Wahai putra islam di Indonesia

Bersatulah mencari bahagia

Di dalam persatuan Islam Indonesia

Teguhkan persatuan kita

Bersama sama jalan menurut salurannya

Bersama sama qurban menurut maksudnya Indonesia

Moga moga persatuan kita

Indonesia makin lama makin bercahaya

Kita tetap bersetia bersetia

(hal.14)

Baca Juga  Obituari Prof. A. Malik Fadjar: Figur Dosen yang Dekat dengan Mahasiswa

 

Marilah kita berseru pada tuhan ilahi

Serta keihlasan dalam hati sanubari

Semoga kita dapat karunia

Dari tuhan kita yang maha limpah

Wahai temenku sucikan dalam hatimu

Sambil bercita cita melangsungkan persatuan kita

Dengan hadis serta qur’an

Bersatu sama kawan

Moga moga dapat ridho tuhan

Junjunglah apa perintahnya

Tentu dapat karunia

(hal.15)

 

Wahai semua putra langsungkanlah berdiri

Pada malam lah ini malam kita yang murni dengan

Moga berseru mari kita berjuang

Menuntut ilmu tuhan ialah hadis dan qur’an

Dalam sepanjang zaman disirami air mawar

Wahai semua tamu korbankanlah hartamu

Untuk belajar ilmu bagi anak yang maju

(hal.16)

 

Indah permai Indonesia

Tanahnya subur berbahagia

Dalamnya islam mencarikan cahaya

Tuntunan insan dan manusia

Antara satu dan lain agama

Hiduplah rukun jalan bersama

Di dalam garis sila yang lima

Rumah lah tuhan tetap beragama

(hal.33)

-Editor: MZ-

Efri Arsyad Rizal Mahasiswa S1 Jurusan Ilmu al Quran dan Tafsir UIN Walisongo Semarang