Perbedaan Cara Mengasah Hati Nurani Ala Barat dan Islam

Helmi Yahya dalam Podcasts Deddy Corbuzier mengungkapkan kekagumannya dengan sopan santun warga salah satu daerah di San Francisco. Di daerah tempat Helmi belajar itu sungguh aman hingga tidak perlu mengunci rumah bahkan kamar tatkala mau keluar. Mereka acap saling menyapa dan ramah satu sama lain.

Jika seseorang memasuki gedung lebih dulu, saat membuka pintu ia akan menahannya agar orang yang di belakangnya tidak perlu bersusah payah membukanya lagi. Orang yang di belakang pun lantas akan mengucapkan terima kasih. Ketika Helmi pulang ke Indonesia, dia menerapkan itu dan ketika mendahului membuka pintu maka dia tahan untuk yang belakang agar mudah masuk. Namun, ternyata yang belakang justru nyelonong saja, masuk tanpa menyampaikan ucapan terima kasih.

Ada banyak contoh lain terkait etika sopan santun warga Amerika atau Eropa kepada sesama. Misalnya, ketika seseorang dimintai bantuan, maka orang itu pun akan langsung merespon dengan cepat. Seperti pengalaman yang pernah saya alami sendiri saat tinggal di salah satu negara kepulauan kecil di Laut Mediterania.

Seringkali ketika hendak pergi ke suatu tempat, saya menghentikan mobil di pinggir jalan untuk mencari tumpangandan setiap melakukan itu, selalu saja ada yang bersedia berhenti untuk mememberikan tumpangan menuju ke halte bus terdekat.

Di antara beberapa faktor yang membentuk karakter orang Barat memiliki sopan santun dan kepedulian seperti itu, meski tidak semua tentunya, ialah karena basis budaya nalar dan pengembangan hati nurani (conscience, dlamir).

Setelah Barat menerapkan pemisahan agama dari urusan duniawi (sekilarisme) urusan moral yang semula berada pada domain agama, urusan moral dipercayakan pada hati nurani. Ia menjadi obyek perhatian besar dalam proses pendidikan. Dengan hati nurani yang terasah, mereka memiliki kesadaran yang baik untuk saling menolong dan peduli. Jiwa kemanusiaan ditumbuhkan dan nilai kebajikan universal dipegang dalam mengarungi kehidupan.

Tanpa memungkiri masih adanya praktik diskriminatif terhadap kaum minoritas baik di Amerika maupun Eropa, pembangunan etika berbasis hati nurani saya kira telah berhasil dilakukan di sana. Mereka tidak mendasarkannya pada kitab suci, meski masih berpengaruh sebagai akar budaya (JudeoChristian), tapi lebih pada pengalaman kehidupan sehari-hari yang menuntut mereka untuk selalu menjaga hubungan baik satu sama lain.

Simpel seperti ini, kalau kamu tidak mau diganggu jangan mengganggu; jangan dirugikan apalagi merugikan. Saling menghargai adalah kunci pergaulan bersama. Hal itu misalnya tercermin pada pamflet yang terpasang di di etalase informasi di salah satu sudut kampus University of Connecticut, Amerika. Pamflet tersebut memuat ilsutrasi seorang mahasiswi berjilbab sedang ngobrol dengan temannya yang dilengkapi dengan sebuah quote dari P.M. Forny:  “Menghargai pendapat orang lain yang berbeda, bukan berarti pendapat sendiri salah”.

Kembali soal pengambangan hati Nurani, dalam sebenarnya hal ini telah diajarkan sebagaimana hadis nabi yang diriwayatkan oleh Imam Al Muslim yang tercantum dalam kitab kitab Arba’in Nawawi sebagai berikut.

Rasulullah SAW bersabda: “Kamu datang untuk bertanya tentang kebajikan dan dosa. Jawab: Iya. Rasulullah mengumpulkan ujung jemarinya ke dadaku dan berkata: wahai Wabidlah, mintalah fatwa pada hatimu, mintalah fatwa pada dirimu 3X. Kebajikan adalah apa yang dirimu merasa nyaman dengannya. Dan dosa adalah apa yang terbersit di hatimu yang kamu gundah terhadapnya walau semua manusia mendukungnya dan berkata demikian (HR. Ahmad).

Pun demikian pula dengan hadis yang dibawakan oleh Mawas bin Sam’an, Rasulullah bersabda: “Kebajikan adalah akhlak yang baik, dan dosa adalah apa yang terbersit di hatimu dan kamu benci orang mengetahuinya.”  (HR. Muslim)

Kedua hadis di atas dengan sangat jelas mengajak agar manusia menghidupkan hati nurani dan menuruti apa yang menurutnya benar, tidak bertentangan. Hal ini menunjukkan bahwa setiap manusia dibekali sesuatu yang membuat mereka mengetahui yang baik dan buruk secara naluri serta menyuruh mereka untuk mengikutinya.

Namun, yang menjadi masalah adalah ketika hati manusia tumpul sehingga tidak sensitif terhadap sesuatu yang tidak baik. Untuk itu, hati nurani perlu diasah yang salah satu caranya ialah dengan mendengarkan nilai-nilai kebajikan baik yang bersumber dari agama atau budaya setempat.

Dalam Alquran disebutkan bahwa taqwa (kehati-hatian dan takut karena Allah) akan menjadikan orang bisa membedakan baik dan buruk (al-Anfal: 29). Ini menunjukkan bahwa ketaatan beragama akan menjadikan manusia terasah hati nuraninya. Dia menjadi penolong, pengasih dan pemurah kepada sesama manusia dan sesama makhluk ciptaan tuhan.

Pengaruh agama yang positif bagi penajaman hati nurani juga berlaku lintas agama. Dalam Hijrah yang pertama ke Habasyah (Ethiopia) pada 613 M, Rasulullah memerintahkan pengikutnya untuk menemui Raja Najasyi, seorang penganut Kristen yang taat. Setelah melalui dialog dan perdebatan dengan utusan kafir Quraish yang memprovokasi sang raja agar mengusir mereka, sang raja akhirnya memutuskan untuk membela para pengikut nabi dan melindungi mereka.

Saya melihat bahwa ketaatan kepada agama lah yang menjadikan Najasyi memiliki hati nurani untuk membela kelompok yang tertindas. Demikian juga dengan Rasulullah tatkala melakukan dakwah di Taif, beliau dilempari batu hingga terluka dan berdarah kaki dan kepalanya, namun ada satu orang Nasrani bernama ‘Addas yang dengan ketulusannya datang sambil membawa setangkai anggur untuk diberikan kepada Rasulullah.

Lantas, bagaimana kepekaan hati nurani dapat terbentuk bagi mereka, orang-orang Barat, yang sengaja menjauh dari agama?

Jawabannya adalah pendidikan. Orang-orang Barat menerapkan pendidikan yang mampu mengajarkan masyarakatnya untuk menumbuhkan empati, pengenalan atas hak sendiri dan orang lain, mengajarkan bagaimana jika berada di posisi orang lain, serta menyesali kesalahan yang merugikan orang lain. Selain itu, tentu masih banyak lagi nilai-nilai moral lainnya yang diajarkan yang mana nilai-nilai tersebut bisa mengasah rasa empati setiap individu tanpa mengaitkannya dengan ajaran agama. [AA]

0
Post Lainnya

Arrahim.id merupakan portal keislaman yang dihadirkan untuk mendiseminasikan ide, gagasan dan informasi keislaman untuk menyemai moderasi berislam dan beragama.