Alifya Muhammada Innany Ana Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya

Islam Rahmatan lil-‘Alamin: Menemukan Kedamaian dalam Perbedaan

2 min read

sumber: hidayatullah.com

Islam dikenal sebagai agama yang cinta damai dan mengajarkan nilai-nilai kedamaian di dalamnya. Islam adalah lambang perdamaian dan perdamaian yang sesungguhnya. Inilah makna dari Islam rahmatan lil-‘alamin. Namun, kerap dijumpai beberapa tindakan tidak merahmati yang dilakukan seorang muslim. Lantas, apakah itu artinya Islam tidak rahmatan lil-‘alamin atau bagaimana?

Sejatinya, Islam adalah agama kebaikan. Melalui Nabi Muhammad, Allah menurunkan wahyu-Nya dengan penuh kasih sayang. Pun, Nabi juga menyampaikan Islam dengan bahasa yang lemah lembut. Termaktub jelas dalam beberapa ayat di Al-Qur’an tentang perdamaian dan ajaran-ajaran damai yang diajarkan Allah kepada hamba-Nya. Juga, beberapa hadis dari Nabi bahwa Nabi pun menyuruh kita sebagai kaumnya untuk menyampaikan Islam dengan penuh damai dan kasih sayang.

Sedemikian rupa perdamaian mengejawantah dalam Islam hingga ada satu kisah yang cukup terkenal, yakni kisah Nabi dengan pengemis Yahudi yang buta. Pengemis tersebut mengolok-olok Nabi, dan bagaimanakah tindakan Nabi kala itu? Ia tetap datang dan menyuapi pengemis tersebut setiap harinya. Hingga saat tiba Nabi wafat, pengemis itu menanyakan tentang keberadaan orang yang biasa menyuapinya.

Kemudian, sahabat Abu Bakar yang kala itu menyuapi pengemis tersebut memberitahunya bahwa orang yang menyuapinya sebelumnya sudah wafat, dan beliau adalah Muhammad, orang yang selalu ia olok-olok. Seketika itu pengemis tersebut menangis, dan detik itu juga si pengemis masuk Islam.

Melalui kisah ini kita belajar banyak hal. Meski dihina dan diolok-olok oleh si pengemis, Nabi tetap memperlakukan dengan baik dengan cara menyuapinya. Selain itu, ingat bahwa pengemis tersebut adalah orang Yahudi, tetapi apakah Nabi memaksakan pengemis itu untuk masuk Islam? Apakah Nabi memperlakukan pengemis itu dengan semena-mena sebab ia bukan seorang muslim?

Baca Juga  Naturalisme dan (De)legitimasi Evolusi

Nabi memperlakukan pengemis tersebut dengan adil dan lemah lembut sebab si pengemis juga manusia, seorang hamba Allah. Ini artinya Islam adalah agama yang mengajarkan kedamaian pada setiap pemeluknya. Melalui kelembutan, Islam bisa menyentuh hati seseorang yang bahkan menolak keras ajaran Islam. Kisah sederhana tersebut hanyalah satu di antara contoh-contoh yang diberikan Nabi kepada umatnya.

Kemudian, terkait pertanyaan bagaimana seorang muslim yang diajarkan kedamaian tetapi ternyata mereka masih melakukan hal-hal yang tidak mendamaikan? Apa yang salah jika sudah seperti itu? Penting dicatat bahwa dasar ajaran agama adalah kebaikan, sebab Tuhan Maha Baik, jadi mustahil jika keburukan menjadi pokok ajaran dari agama itu sendiri. Lantas, berarti siapa yang salah? Jawaban paling jelas adalah pelaku beragamanya.

Rupanya, saat ajaran Islam disampaikan, dan setelah sampai kepada setiap individu dengan pikiran dan pemahaman masing-masing, maka ajaran-ajaran ini menuai banyak persepsi. Itulah mengapa akhirnya muncul aliran-aliran yang tidak sesuai dengan pokok ajaran Islam yang sebenarnya karena perbedaan penangkapan konsep tentang ajaran Islam yang telah dibawakan.

Memang, selalu ditemukan perbedaan dalam setiap hal, bahkan terhadap hal yang sama sekalipun. Namun, mengapa selalu perbedaan itu sendiri yang ditonjolkan untuk dipermasalahkan? Apa yang salah dengan perbedaan? Kemudian, di mana peran Islam yang rahmatan lil-‘alamin kalau sudah begini?

Pengemplementasian rahmatan lil-‘alamin bisa diwujudkan dengan cara terlebih dulu menerima perbedaan-perbedaan yang ada, berlapang dada dan bijaksana dalam menyikapi perbedaan. Mengapa demikian? Karena problem utama persoalan-persoalan agama yang muncul kembali belakangan ini adalah masih mempersoalkan tentang perbedaan.

Ada sebagian orang yang menganggap seharusnya kita sama (sama dengan orang yang berbicara seperti ini, contohnya). Apa artinya ini? Berarti perbedaan dianggap duri yang mengganggu. Padahal, sejatinya konsep tentang menerima perbedaan bukan berarti kita yang harus menyamakan—ini lebih ke soal penerimaan, yakni membiarkan berbagai perbedaan itu tumbuh mengiringi jalan kita.

Baca Juga  NU dalam Merawat Peradaban: Refleksi 101 Tahun Nahdlatul Ulama

Terkadang konsep menerima sendiri disalahartikan dengan harus menjadi sama. Jika pemaknaan tentang menerima tersebut masih sebatas itu, maka jangan heran jika persoalan tentang perbedaan masih diperdebatkan. Masalahnya adalah jika kebenaran dan persamaan itu dipaksakan kepada seseorang, maka pada titik inilah konsep rahmatan lil-‘alamin tidak pernah bisa direalisasikan.

Selama Islam dipaksakan kepada yang-berbeda dengan dalih menyampaikan dakwah, maka sifat rahmatan lil-‘alamin nihil adanya. Islam yang menjadi rahmat untuk seluruh alam tidak pernah menyakiti pihak mana pun. Islam yang rahmatan lil-‘alamin adalah Islam yang bersedia menerima banyak perbedaan, bukan malah memaksakan kesamaan.

Jika Islam sudah disampaikan dengan sedemikian lembut, rahmatan lil-‘alamin akan dapat dirasakan seluruh alam. Intinya adalah cara-cara yang selama ini dianggap benar dalam memaksa seseorang untuk menjadi paling islami malah justru menghilangkan ke-rahmatan lil-‘alamin­­-an dari Islam itu sendiri.

Memakai dalih berdakwah tetapi tetap dengan cara paksaan dan kekerasan tidak membuat Islam semakin dipandang baik, malah justru dianggap agama yang mengancam dan membuat orang lain ketakutan sendiri untuk menyentuh dan belajar tentang Islam. [AR]

Alifya Muhammada Innany Ana Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya