Nuzfil Aqili Almuniri Mahasantri Ma'had Aly Nurul Jadid

Menyoal Otentitas Pernikahan

1 min read

Nikah adalah salah satu dari banyaknya sunah nabi, yang tak jarang di antara para pemuda pemudi kadang sangat tergesa akan hal ini. Bahkan ada yang masih di bawah umur sudah mengemban status sebagai ibu maupun ayah. Akibatnya banyak sekali kasus-kasus perceraian yang disebabkan oleh pernikahan dini. Salah satu alasannya adalah karena bosan dengan pasangannya. Jika seperti ini apakah bibit permusuhan bisa timbul dari sunah? Yang awalnya sunah sebagai orientasi untuk kemaslahatan ummat, sebab hal ini sunah bisa dianggap sebagai biang kemudhorotan. Oleh karena itu perlu kiranya seorang mempelajari pernikahan sebelum dia menerapkan hal tersebut. Memang hal ini bisa disebut sunnah yang paling enak, bahkan sampai disabdakan oleh nabi yang berbunyi:

إِذَا تَزَوَّجَ الْعَبْدُ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ نِصْفَ الدِّيْنِ، فَلْيَتَّقِ اللَّهَ فِي النِّصْفِ الْبَاقِي. (رواه البيهقى)

 Artinya: “ Apabila seorang hamba telah menikah maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya, maka takutlah kepada Allah dengan (menjaga)separuhnya.”

Akan tetapi terlepas dari itu semua ada beberapa aturan di dalam kitab klasik tentang beberapa kebijakan seseorang dapat dibilang sunah untuk menikah. Salah satunya, seseorang sudah dikatakan sunah untuk menikah ketika dia sudah butuh terhadap wati’ (berhubungan suami istri)  terlepas dari itu dia juga mempunyai biaya berupa mahar untuk calon istri dan juga nafkah untuk kebutuhan harianya.

Bahkan di dalam al-Quran Allah bersabda:

                وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

 Artinya: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya, ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu, benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (Qs.Ar-Ruum : 21)

Lantas dari ayat tersebut apa yang dapat mengatarkan seseorang kepada keluarga yang tentram atau bisa disebut samaro (sakinah, mawaddah, warohmah). Salah satunya, bagaimana kita memilih calon pasangan, hal ini bisa kita lihat di dalam banyaknya hadis nabi, salah satunya yang diriwayatkan oleh Imam at-Thobroni “Apabila seseorang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya datang kepada kalian untuk meminang wanita kalian, maka hendaknya kalian menikahkan orang tersebut dengan wanita kalian. Bila kalian tidak melakukannya niscaya akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan yang besar

Baca Juga  Salafi versus NU Bicara Bidah di Madura: antara KH. Zubair Muntashor dan KH. Shinwan Adra’ie

Hadis tersebut diperuntukan kepada wanita agar benar mencari pasangannya. Di dalam hadis tersebut dikatakan bahwasannya standar pasangan adalah yang baik akhlaknya, agar dia bisa memperlakukan istrinya bengan baik menurut apa yang telah dibenarkan oleh agama, dengan pemperlakukan istrinya dengan lemah lembut dan santun.

Juga ada hadis populer yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim yang mana hadir ini diperuntukan kepada laki-laki:

تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَلِجَمَالِهَا وَلِدِيْنِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّيْنِ تَرِبَتْ يَدَاكَ.

Artinya: “Wanita dinikahi karena empat perkara; karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya; maka pilihlah wanita yang taat beragama, niscaya engkau beruntung.”

Sudah sangat jelas di dalam hadis tersebut, anjuran nabi untuk memilih pasangan bagi laki-laki, yang mana kesimpulan dari semua itu, bahwasannya Nabi Muhammad SAW mengharapkan kepada semua ummat agar hidup tentram dan sentosa terutama di dalam keluargannya, karena yang banyak perperan di dalam kehidupan seseorang adalah keluarganya. Ketika dia menemukan surga di dalam keluarganya maka dia akan bahagia di dalam kehidupannya.

Kebahagiaan itu bukan timbul dari cantiknya pasangan seseorang, tapi bagaimana dia bisa merasa cukup dengan apa yang dimiliki pasangannya, berupa kelebihan dan kekurangan, karena salah satu hikmah dari berkeluarga, seseorang tidak merasa sempurna dan tidak merasa kurang, karena yang berperan dari kesempurnaan dan kekurangan seseorang adalah pasangannya.

Nuzfil Aqili Almuniri Mahasantri Ma'had Aly Nurul Jadid