Alya Qotrunnada Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya

Bayang-Bayang Islamofobia di Prancis dalam Selebrasi Enzo Sternal

2 min read

Enzo Sternal sebagai salah satu skuad Timnas Prancis U-16 adalah seorang penyerang muda yang berbakat hingga mendapat pujian dari sang pelatih, ditambah kepribadiannya yang ramah dan cerdas. Lahir pada 28 Mei 2007, ia termasuk pemain profesional pada usianya yang didatangkan dari Amerika Serikat dengan harga 9 miliar.

Diketahui bahwa Enzo telah memainkan sebanyak lima pertandingan dan berhasil mencetak satu gol. Selebrasi tersebut terjadi pada April lalu saat memainkan turnamen Montaigu yang bergengsi. Pemain muda Olympique Marseille ini berhasil mencetak gol dengan selebrasi yang kemudian menjadi sebuah masalah.

Di bagian bawah jersey-nya bertuliskan “Allah is Great” yang dalam bahasa indonesianya adalah “Allah Maha Besar” atau “Allahu Akbar” dalam bahasa Arab, sebuah kalimat takbir.

Hal itu membuat pemuda keturunan Aljazair dari jalur ibunya ini tercoret dari Timnas Prancis. Dikatakan oleh Federasi sepak bola Prancis jika konsekuensi itu terjadi karena selebrasinya di Montaigu dianggap perayaan yang berbau agama. Hal ini menjadikan masyarakat internet bertanya-tanya apa hubungan antara selebrasi tersebut dengan sanksi saat ini. Islamofobia di Prancis jelas meningkat semakin tinggi yang menjadi tantangan umat Islam secara terbuka.

Karena memegang kewarganegaran ganda, yakni Prancis-Aljazair, pemuda ini berkesempatan memperkuat tim Aljazair karena kini Enzo tidak dapat memperkuat Timnas Prancis sehingga Timnas Prancis akan benar-benar kehilangan pemain muda berbakat, karena Enzo memiliki prospek cemerlang untuk usia cukup muda untuk sepakbola global.

Jika ditelaah lebih jauh, Prancis sering melakukan tindakan-tindakan yang polemik kaitannya dengan Islam, mulai dari isu wanita berhijab, melarang perempuan muslim untuk memakai abaya, dan lain-lain. Prancis merupakan populasi muslim yang termasuk terbesar di Eropa Barat, tetapi umat Islam di sana hingga saat ini masih dibayang-bayangi diskriminasi, yang artinya 5,7 juta pemeluk masih berusaha keras untuk diakui dan diterima.

Baca Juga  Pentingnya Keteladanan dan Meneladani

Islam dipandang meresahkan karena tidak sesuai dengan sekularisme yang menjadi identitas nasional Prancis yang sangat dijunjung dan sentral serta telah lama menjadi moto Revolusi Prancis, yakni liberty, equality, fraternity.

Sekularisme merupakan sebuah paham yang beranggapan agama tidak ada urusan dengan dunia, baik negara atau sebagainya. Artinya, sekularisme ini ingin agar agama sepenuhnya dipisahkan dari kehidupan sosial. Agama hanya menjadi urusan masing-masing individu dengan Tuhannya.

Pemerintah Prancis telah mengeluarkan larangan untuk penggunaan niqab, dan bagi yang melanggarnya akan didenda. Warga muslim Prancis pada tahun 2020 telah mendapat 235 serangan, dan pemerintah juga mengeluarkan RUU anti-separatisme yang mengarah ada pembatasan komunitas Islam.

Awalnya itu hanya mengarah pada jaminan kebebasan dalam beragama, tetapi pada akhir-akhir tahun ini menjadi tameng dan batas yang bisa mengubah nilai-nilai keagamaan, apalagi kebijakan Emmanuel Jean Michel Frédéric Macron sebagai presiden membuat perombakan rencana separatisme tentang bagaimana cara Islam diatur di Prancis mulai pelatihan imam sampai manajemen asosiasi muslim.

Serangkaian kebijakan yang dibuatnya disebut dengan sebutan separatisme Islam untuk mencegah radikalisasi. Itu mendatangkan banyak aksi keras internasional. Akan tetapi, yang dikatakan dan diyakini Macron adalah reaksi keras yang datang dikarenakan salah paham jika dia mendukung kartun kontroversial yang menggambarkan Nabi Muhammad.

Yang dilakukan Macron hanya ada dua, yakni menenangkan kondisi dan melindungi hak-hak yang berfokus pada hak berekspresi bagi mereka yang menciptakan gambar tersebut. Seorang guru dipenggal kepalanya di pinggir kota Paris karena telah menunjukkan kartun Nabi Muhammad kepada beberapa siswanya. Menyikapi hal tersebut Macron mengatakan jika Prancis tidak akan menyerah pada kekerasan.

Jika dianalisis masalah itu datang dari dua sumber, yakni pemerintah dan media massa.  Meski banyak fenomena yang menggambarkan tantangan bagi umat Islam di Prancis, perkembangan Islam masih tetap dinamis dan mengalami peningkatan. Pada tahun 2040 diperkirakan ada 25% warga Prancis akan memeluk Islam yang akan menjadi urutan kedua setelah Katolik.

Baca Juga  Gus Dur dan Cara Pandang Kita terhadap Disabilitas

Umat Islam berusaha untuk tetap bertahan hidup menghadapi keadaan yang mengitarinya. Dilihat dari pesatnya penduduk yang muslim, Islam cukup damai di lingkup muslim sendiri. Meski muslim dilanda dengan problematika yang pelik di sekelilingnya lantaran aturannya, umat Islam masih tetap antusias untuk menjalankan ajaran agamanya, contohnya shalat, puasa, zakat, dan lain sebagainya.

Karena banyak organisasi Islam yang banyak berperan untuk melaksanakan dakwah, Islam di Prancis semakin berkembang ditambah dengan ditemukannya masjid yang menjadi pertanda jika kaum muslim Prancis dewasa telah antusias untuk menjalankan ibadah rutin pertama shalat berjamaah.

Pada akhirnya, harus ditegaskan bahwa islamofobia adalah sebuah masalah kemanusiaan, karena ia mencederai hak kebebasan beragama dan berkeyakinan. Humanisme semestinya tak pernah pandang bulu, karena sekali manusia adalah manusia, latar belakang identitas apa pun di baliknya hanyalah sekunder. [AR]

Alya Qotrunnada Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya