Penerapan Etika Stoikisme dalam Pemilu

2 min read

Hiruk pikuk isu sosiopolitik menjelang pemilu adalah fenomena yang sering terjadi di negeri kita tercinta ini di mana masyarakat dan media sosial cenderung menjadi sangat aktif sebagai wadah diskusi serta perdebatan tentang isu-isu sosial yang berkaitan dengan pemilihan tersebut.

Ada beberapa ciri khas yang bisa kita identifikasi sebagai peristiwa yang dekat dengan pemilu. Sering kita jumpai di warung kopi bapak-bapak berdebat. Masyarakat sering pula terlibat dalam perdebatan yang sengit dan penuh gairah tentang berbagai isu sosial yang terkait dengan pemilu. Ini termasuk isu-isu seperti ekonomi, hak asasi manusia, lingkungan, politik, dan sebagainya.

Ketika banyak sekali perdebatan yang muncul, efeknya ialah polarisasi politik yang dianggap  bisa semakin meningkat menjelang pemilu, di mana pendukung kandidat yang berbeda sering kali memandang isu-isu sosial dari sudut pandang yang berbeda, dan suasana dapat menjadi sangat tajam dan panas—ditambah di era sekarang yang dipenuhi dengan medsos yang akrab dengan kita di mana informasi sangat cepat menyebar luas.

Medsos memainkan peran besar dalam menyebarkan informasi dan disinformasi tentang isu-isu sosial. Banyak informasi palsu atau tidak terverifikasi dapat tersebar dengan cepat, yang bisa membingungkan calon pemilih.

Menjelang pemilu, banyak kelompok dan individu yang akan aktif secara politik dalam mendukung atau menentang isu-isu sosial tertentu. Ini bisa melibatkan protes, kampanye, dan berbagai tindakan aktivisme lainnya. Ketika banyak sekali aktivis yang memanfaatkan keadaan untuk menuntut isu sosial yang beredar, media massa cenderung memberikan liputan yang lebih besar terhadap isu-isu sosial yang berkaitan dengan pemilu, yang dapat memengaruhi persepsi masyarakat tentang isu-isu tersebut

Mengingat hasil pemilu dapat memiliki dampak besar pada arah kebijakan negara dalam berbagai isu sosial, sehingga banyak pihak berusaha memengaruhi calon pemilih dengan menggarisbawahi pentingnya isu-isu tersebut. Hiruk pikuk isu sosial menjelang pemilu mencerminkan betapa pentingnya politik dalam kehidupan masyarakat. Namun, juga penting bagi individu untuk tetap kritis dan terinformasi secara objektif tentang isu-isu ini untuk membuat keputusan pemilihan yang bijaksana.

Baca Juga  Tradisi Beragama dalam Peradaban Planetari

Di keadaan yang hiruk pikuk ini alangkah baiknya kita menggunakan etika stoikisme. Ada beberapa kunci di dalam stoikisme, yaitu keadaan pikiran yang disebut “ataraxia”, yang mengacu pada ketenangan batin dan ketenangan emosional yang diperoleh melalui pengendalian diri dan penerimaan terhadap segala sesuatu. Akan tetapi, pada kali ini kita akan membahas penerapan etika stoikisme dalam keadaan menjelang pesta demokrasi atau biasanya disebut pemilu.

Pentingnya menerapkan etika stoikisme menjelang pemilu adalah untuk membantu individu dan masyarakat secara keseluruhan dalam menghadapi proses politik dengan lebih bijaksana dan tenang. Terdapat beberapa alasan mengapa etika stoikisme dapat bermanfaat dalam konteks ini.

Etika stoikisme mengajarkan pengendalian emosi yang dapat membantu mencegah reaksi berlebihan terhadap isu politik atau hasil pemilihan. Hal ini dapat mengurangi ketegangan sosial dan konflik. Ketika berbicara tentang politik dengan orang lain yang memiliki pandangan berbeda, seorang individu akan mencoba menjaga ketenangan dan menghindari konflik emosional. Ia akan bisa mendengarkan dengan baik dan merespons dengan argumen yang berdasar.

Prinsip stoik tentang hormat terhadap pandangan orang lain dapat membangun dialog yang lebih konstruktif dan meminimalkan polarisasi politik yang merugikan. Sikap stoik akan memungkinkan seseorang untuk menghormati pandangan politik orang lain, bahkan jika berbeda dengan pandangan mereka sendiri. Mereka akan memahami bahwa perbedaan pendapat adalah bagian dari proses demokratis.

Lebih lanjut, etika stoikisme menekankan pemikiran rasional dan pertimbangan logis. Ini dapat membantu pemilih membuat keputusan berdasarkan fakta dan analisis, bukan hanya berdasarkan emosi atau propaganda. Seorang pemilih dengan sikap stoik akan mencari informasi tentang semua kandidat dan partai secara objektif, mempertimbangkan gagasan, rekam jejak, dan rencana kebijakan mereka dengan hati-hati sebelum membuat keputusan. Mereka tidak akan terpengaruh oleh retorika emosional atau propaganda politik.

Baca Juga  Hikmat-Kebijaksanaan: Karakter Pemimpin yang Kita Butuhkan di Masa Krisis

Etika stoikisme mengajarkan untuk fokus pada hal-hal yang dapat kita kendalikan. Ini berarti, sementara kita dapat memilih dalam pemilu, hasilnya mungkin di luar kendali kita. Sikap stoik membantu kita menerima hasil dengan lebih tenang. Seorang pemilih stoik akan memahami bahwa hasil pemilihan ada di luar kendali mereka sepenuhnya.

Mereka hanya akan fokus pada partisipasi mereka dalam pemilihan, seperti memilih dan menerima hasilnya dengan ketenangan, tanpa terlalu terpengaruh oleh kecemasan atau ketakutan akan hasil yang tidak diinginkan.

Pemilu merupakan proses panjang yang penuh tekanan. Etika stoik dapat membantu seseorang mempersiapkan diri secara mental dan menghadapi hasil pemilihan dengan keberanian. Seorang pemilih yang menerapkan etika stoikisme akan mempersiapkan diri secara mental untuk kemungkinan hasil pemilihan yang tidak sesuai dengan harapan mereka. Mereka akan memiliki ketahanan untuk menghadapi ketidakpastian politik.

Pada akhirnya, penggunaan etika stoikisme dalam pemilu dapat membantu seseorang membuat keputusan yang lebih rasional, menyumbang dialog politik yang lebih sehat, dan menjaga keseimbangan emosional di tengah proses politik yang seringkali emosional dan penuh ketegangan. [AR]