Pesantren dalam Cermin Retak Media

Duka yang menimpa Pondok Pesantren Al-Khoziny, Sidoarjo beberapa waktu lalu memunculkan beragam asumsi dan opini negatif terhadap dunia pesantren. Berbagai dugaan liar bertebaran di media sosial, seolah pesantren telah gagal menjadi tempat yang aman bagi para santri. Potongan kalimat pengasuh dalam wawancara pun dijadikan tagar hingga viral, seakan-akan beliau menjadikan takdir sebagau kambing hitam atas robohnya gedung musala itu.

Sorotan negatif dari berbagai pihak pun tak terelakkan. Alih-alih menunjukkan empati atau menyelidiki akar persoalan dengan bijak, sejumlah pihak justru memanfaatkan momen ini sebagai panggung politik. Pemerintah terlihat cepat menyalurkan bantuan, namun di balik itu tersirat upaya untuk meraih simpati kalangan pesantren.

Pesantren memang lembaga pendidikan yang sangat rentan terkena bias framing di era digital. Ia dituntut tampil bersih sejernih air putih. Sekali ada noda kecil saja, netizen “maha benar” langsung menyerbu dengan vonis tanpa ampun.

Baru-baru ini, salah satu media nasional, sebut saja Trans 7, menayangkan konten video dalam program Xpose Uncensored yang menyakiti perasaan jutaan santri. Kiai Anwar Mansur, salah satu ulama sepuh sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur ditampilkan dengan framing yang keji dan menyesatkan. Tak hanya beliau, beberapa kiai dan nyai lainnya juga dijadikan bahan tayangan yang tidak etis.

Video tersebut jelas merupakan bentuk penyebaran informasi keliru. Ia menggambarkan pesantren secara jauh dari ruh, nilai, dan semangat aslinya. Terlihat jelas bahwa produksi video itu dilakukan tanpa riset, tanpa sensitivitas, dan tanpa etika jurnalistik.

Program “Xpose Uncensored” justru memberi pelajaran pahit bagi masyarakat: bahwa tidak semua media mematuhi kaidah jurnalistik yang benar. Framing seperti ini bisa menyasar siapa pun dan apa pun, hingga berpotensi merusak harmoni sosial.

Tak heran jika kemarahan publik, khususnya kalangan santri, meledak di lini masa. Tagar #BoikotTrans7 menggema di berbagai platform media sosial. Jajaran pengurus Nahdlatul Ulama (NU) sebagai organisasi keislaman yang lahir dari rahim tokoh-tokoh pesantren pun tak ayal langsung melayangkan protes.

Ironisnya, pihak media yang dimaksud hanya menyampaikan klarifikasi melalui video permohonan maaf dan surat kepada salah satu putra Kiai Anwar Mansur. Benarkah hanya dengan permintaan maaf singkat seperti itu persoalan selesai? Tentu tidak. Ini menunjukkan adanya kegagalan memahami etika dan tanggung jawab moral dalam dunia jurnalistik.

Dalam tradisi liputan mendalam (depth news), seorang jurnalis seharusnya turun langsung ke lapangan, menangkap realitas secara utuh, lalu menyajikan informasi yang berimbang. Kasus ini justru menegaskan bahwa sebagian media nasional kini berubah menjadi ruang nyinyir, ruang justifikasi, bahkan ruang penghakiman publik.

Marshall McLuhan dan Quentin Fiore pernah mengatakan bahwa “media setiap masa adalah cerminan esensi masyarakatnya.” Jika benar demikian, maka wajah media hari ini memperlihatkan betapa masyarakat kita sedang gemar adu domba.

Setelah istilah “kampret” dan “kadrun”, kini muncul lagi dikotomi baru: “mukibbin” versus “Laskar Sabilillah.” Mungkin kelak muncul pula tagar “pro-feodalisme” versus “pro-materialisme,” dan seterusnya.

Pola semacam ini jelas merupakan upaya memecah belah umat dan merusak harmoni sosial masyarakat Indonesia. Tak menutup kemungkinan, setelah ini akan muncul framing baru yang menyudutkan umat Islam, seolah umat enggan menjadi lebih beradab, atau masih terjebak dalam feodalisme dan kejumudan. Entahlah, mari kita lihat saja!

Namun demikian, di tengah hiruk-pikuk ini, kaum pesantren juga perlu melakukan refleksi diri. Sudah saatnya kita menahan diri untuk tidak menampilkan “wajah pesantren” secara sembarangan tanpa disertai edukasi yang memadai kepada publik.

Memang, sejumlah film dan program edukatif berlatar pesantren telah banyak tayang di berbagai platform. Tetapi, masih banyak tradisi pesantren yang belum sepenuhnya dipahami masyarakat luas. Di sinilah tugas penting kaum santri: memberikan edukasi perlahan dan bijak tentang wajah sejati pesantren, lembaga yang sarat nilai, keikhlasan, dan pengabdian. [AA]

3

Alumni Ponpes Mambaus Sholihin, Gresik.

Post Lainnya

Arrahim.id merupakan portal keislaman yang dihadirkan untuk mendiseminasikan ide, gagasan dan informasi keislaman untuk menyemai moderasi berislam dan beragama.