Azkia Maulidiya Mahasiswi UIN Sunan Ampel Surabaya

Ketimpangan Gender di Masyarakat dalam Perspektif Karl Marx

2 min read

sumber: Ithoughtco.com

Dalam dunia sosiologi, nama Karl Marx tidak dapat diabaikan. Kontribusinya memberikan dasar yang kuat bagi pemahaman tentang struktur sosial dan dinamika masyarakat modern.

Salah satu konsep utama yang diperkenalkan Marx adalah konflik kelas, yang menggambarkan pertentangan antara pemilik modal dan pekerja serta dampaknya terhadap struktur sosial. Konflik kelas inilah yang menciptakan tingkatan kelas dalam masyarakat (Ritzer & Goodman, 2019).

Karl Marx adalah tokoh penting dalam sejarah sosiologi yang menciptakan teori besar meliputi ekonomi, sosial, dan politik, yang dikenal dengan istilah Marxisme (Puspitawati, 2013).

Marxisme menyoroti isu-isu utama yang menjadi perhatian Marx, termasuk politik kelas ekonomi, hubungan antara tenaga kerja dan modal, hubungan antara budaya sosial dan ekonomi, serta ketidaksetaraan.

Kajian sosiologinya yang terkenal adalah konflik sosial antara majikan dan buruh. Kelompok majikan dikenal sebagai borjuis, sedangkan kelompok buruh dikenal sebagai proletar (Ritzer & Goodman, 2019).

Kelas borjuis terdiri dari individu yang menguasai alat-alat produksi, seperti pemilik bisnis besar, bangsawan, oligarki, dan orang-orang kaya. Mereka adalah kelas kapitalis yang memiliki kekuasaan dalam masyarakat.

Sedangkan proletar merupakan kelompok masyarakat yang terdiri dari pekerja yang membentuk mayoritas angkatan kerja dalam suatu masyarakat. Mereka bergantung pada penjualan tenaga kerja mereka untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Menurut Marx, hubungan antara kedua kelas ini tidak harmonis, melainkan dipenuhi oleh ketidaksetaraan dan eksploitasi, baik secara ekonomi maupun politik. Borjuis memanfaatkan posisi ekonomi dan politik mereka untuk memperoleh keuntungan dari tenaga kerja proletar, yang menyebabkan kesenjangan sosial yang mencolok. Marx menekankan bahwa faktor ekonomi memiliki peran dominan dalam menentukan struktur kelas dalam masyarakat (Aryati, 2019).

Konflik Kelas dalam Ketimpangan Gender

Baca Juga  Dua Barista; Pesantren dan Kritik Sosial

Karl Marx berpendapat bahwa dalam era kapitalisme, konflik antarkelas timbul karena perbedaan hak antara kaum borjuis (orang kaya) dan proletar (pekerja). Proletar dianggap hanya sebagai alat produksi yang dimanfaatkan oleh borjuis, yang menyebabkan ketidakadilan dalam sistem kerja.

Menurut Marx, hal ini menyebabkan konflik karena hierarki yang ada. Pandangan Marx tentang penindasan berdasarkan nilai uang juga menjelaskan ketidakadilan antara laki-laki dan perempuan. Menurut Marx, perempuan dianggap seperti proletar yang ditindas oleh laki-laki atau borjuis (Zaini, 2004).

Dalam masyarakat, laki-laki biasanya memiliki kekuasaan lebih daripada perempuan karena struktur yang memposisikan perempuan di bawah laki-laki. Peran dan tugas dalam masyarakat sering dibagi secara tidak adil, menyebabkan perempuan sering dieksploitasi (Ritzer & Goodman, 2019).

Dalam konteks ini, konsep patriarki di mana laki-laki dianggap lebih superior telah tertanam kuat dalam budaya, membuat perempuan terbiasa menerima peran yang mendukung kepentingan laki-laki. Faktanya, sistem patriarki lebih menguntungkan laki-laki dan melemahkan perempuan serta kelompok yang lebih lemah (Setyawan, 2020).

Karl Marx menyatakan bahwa gerakan revolusi kaum proletar adalah solusi untuk menghapus ketidakadilan kapitalisme yang merugikan perempuan. Baginya, gerakan ini adalah cara kaum tertindas untuk melawan ketidakadilan.

Perempuan yang dieksploitasi oleh patriarki menggunakan konsep revolusi Marx dalam gerakan feminisme untuk mencapai kesetaraan dan mengatasi ketidakadilan. Perempuan sering kali diharuskan menangani pekerjaan rumah tangga sambil bekerja di luar rumah, yang menimbulkan konflik internal (Ramli, 2004).

Persepsi Gender dalam Kehidupan Masyarakat

Gender adalah perbedaan sosial antara laki-laki dan perempuan yang dibentuk oleh masyarakat dan dapat berubah seiring waktu. Prasangka, ketidaksetaraan, dan diskriminasi gender sering terjadi di keluarga, pertemanan, hingga tempat kerja (Rice, 2008).

Baca Juga  Beragamalah dengan Akal Sehat

Perempuan sering diminta untuk melakukan pekerjaan rumah tangga, sementara anak laki-laki tidak. Hal ini menciptakan ketidakadilan dalam upah, pendidikan, dan kesempatan kerja antara laki-laki dan perempuan. Keluarga memegang peran penting dalam membentuk konsep kesetaraan dan keadilan gender.

Budaya patriarki yang kuat menimbulkan pola pikir konservatif dalam keluarga, yang memengaruhi cara orang tua memahami gender dan berdampak pada perlakuan dan prasangka berbeda antara laki-laki dan perempuan.

Karl Marx memandang tenaga kerja sebagai sumber nilai, dan sistem kapitalisme yang mendorong peningkatan eksploitasi kaum proletar dapat menimbulkan konflik kelas (Ritzer & Goodman, 2019). Stereotipe gender dalam masyarakat sering menghasilkan pandangan pesimis terhadap peran laki-laki dan perempuan.

Ketidaksetaraan yang dialami perempuan sering kali disebabkan oleh sistem patriarki dan kapitalisme, yang tecermin melalui stereotipe gender. Perempuan sering tidak dianggap mampu untuk memimpin dan hanya dianggap sebagai pelengkap bagi laki-laki.

Perempuan juga sering ditekan untuk tidak mengejar pendidikan tinggi, karena dianggap akan kembali ke wilayah domestik. Pandangan ini dipengaruhi oleh budaya patriarki yang masih kuat (Huda, 2020).

Ketidaksetaraan gender semakin jelas terlihat, terutama dalam hak-hak dan kodrat manusia yang sering kali tidak diberikan kepada perempuan dalam masyarakat. Padahal, ajaran agama, termasuk Islam, menjamin hak-hak perempuan dan memberikan mereka kedudukan yang terhormat.

Penting bagi masyarakat untuk mengakui dan mengatasi ketidakadilan gender ini agar dapat menciptakan lingkungan yang lebih adil dan inklusif bagi semua individu. [AR]

Azkia Maulidiya Mahasiswi UIN Sunan Ampel Surabaya