Tidak Ada Bioskop di Kelantan: Catatan Ramadan dari Malaysia

2 min read

sumber: www.beautifulmosque.com

Setiap kali Ramadan tiba, saya teringat sebuah peristiwa lucu yang terjadi pada tahun 2013 di Kota Bharu. Kota Bharu adalah ibu kota negeri Kelantan di pantai timur semenanjung Malaysia, bersebelahan dengan negara Thailand. Negeri Kelantan terkenal dengan sebutan “Serambi Mekah” yang juga menjadi sebutan untuk Aceh Darussalam di Indonesia. Bahkan, kedua tempat ini memiliki kesamaan terutama dari sisi sejarah, politik dan tradisi Islam.

Waktu itu saya berada di Kota Bharu dalam rangka penelitian S3 yang berkenaan dengan pendidikan Islam. Kelantan adalah pusat utama pendidikan Islam tradisional di Malaysia: di sana terdapat banyak sekolah pondok yang masih aktif. Sistem pendidikan pondok sudah langka di Malaysia pada zaman ini, karena tidak mampu bersaing dengan sistem pendidikan nasional yang dikelola oleh Kementerian Pendidikan.

Setelah dua minggu berada di Kota Bharu, saya bersiap pulang ke Kuala Lumpur. Waktu itu hari Jumat dan minggu pertama bulan Ramadan. Setelah keluar dari hotel, saya menuju ke perpustakaan negeri Kelantan, tetapi ditutup. Saya baru ingat kalau di Kelantan libur akhir pekan adalah hari Jumat dan Sabtu, berbeda dengan kebanyakan negeri lain di Malaysia yang akhir pekannya Sabtu dan Minggu. Ya, sudah, namanya juga Serambi Mekah.

Saya masih punya delapan jam untuk take off, jadi saya harus memikirkan cara untuk menghabiskan waktu sebelum ke bandara. Oleh karena hari itu adalah bulan puasa, saya tidak bisa bersantai di kafe atau restoran. Semuanya ditutup. “Aduh, mau ngapain nih?” tanya saya pada diri sendiri sambil kebingungan.

Tiba-tiba muncul sebuah ide. Mungkin saya bisa beristirahat di bioskop dengan suasana yang nyaman, dingin dan terlindung dari panas terik matahari. Saya coba googling bioskop di Kota Bharu. Hasilnya nihil. “Masa sih gak ada bioskop, padahal ini ibukota negeri…” pikir saya.

Baca Juga  Mana yang Lebih Utama Ilmu atau Harta?

Kemudian saya menyapa seorang pria yang kebetulan ada di pinggir jalan, bertanya di mana letak bioskop di Kota Bharu. Orang itu langsung ketawa dan menjawab tidak ada bioskop di seluruh negeri Kelantan. Bioskop terdekat hanya ada di Kuala Terengganu, ibu kota negeri Terengganu, yang terletak dalam 165km dari Kota Bharu. Sudah hampir empat dekade usia saya sebagai seorang warga Malaysia dan baru hari itu pertama kali saya tahu ada negeri di Malaysia yang tidak punya bioskop!

Enam bulan setelah itu saya berkunjung ke Banda Aceh untuk penelitian dan diberitahu oleh teman-teman di sana bahwa di seluruh provinsi Aceh juga tidak ada bioskop. “Ya, mungkin itu salah satu syaratnya kalau mau menjadi Serambi Mekah,” batin saya.

Sebagai seorang yang dibesarkan di Kuala Lumpur, dalam lingkungan masyarakat kota besar yang berbaur dengan berbagai ragam manusia, daerah seperti Kelantan membuat saya terasa sangat terpisah dan jauh—baik dari sisi geografis maupun kehidupan dan kebudayaan. Masih banyak hal mengenai Kelantan yang belum saya ketahui, termasuklah hal-hal sepele seperti libur hari Jumat dan ketiadaan bioskop.

Kenyataan di atas membuatkan saya memutuskan untuk hijrah ke Pulau Pinang (atau nama Inggris-nya Penang) dan mengajar di Universiti Sains Malaysia, salah satu universitas utama di Malaysia. Saya tidak mau menghabiskan sisa hidup di Kuala Lumpur tanpa ada pengalaman merantau ke daerah-daerah lain di Malaysia dan menikmati keindahan serta keunikan budaya lokal yang tidak bisa saya jumpai di Kuala Lumpur.

Setiap tahun menjelang lebaran saya akan mudik melawan arus dari Penang ke Kuala Lumpur. Sambil menyetir di jalan tol saya menjeling ke samping dan melihat kemacetan yang luar biasa dengan deretan kendaraan yang mudik keluar dari Kuala Lumpur mengarah ke utara. Untung sekali buat perantau seperti saya yang kampung halamannya di Kuala Lumpur. Kalau di hari biasa perjalanan naik mobil lewat jalan tol antara Penang dan Kuala Lumpur bisa ditempuh dalam 4 jam (dengan jarak sekitar 350km), tetapi pada saat mudik lebaran perjalanan yang sama bisa memakan waktu 10-12 jam!

Baca Juga  Ramadan di Arab Saudi: Rindu Keramaian Orang Beribadah

Sayangnya, tahun ini saya tidak dapat mudik dan merayakan lebaran di Kuala Lumpur. Pemerintah Malaysia mengeluarkan arahan melarang semua perjalanan lintas negeri, karena negara masih dilanda wabah pandemi Covid-19. Untuk pertama kalinya saya akan merayakan hari raya Idul Fitri di Penang. Walaupun saya mempunyai banyak teman di Penang, saya masih belum tahu apakah kami bisa bertemu dan berkumpul bersama, karena untuk sementara hal tersebut masih dilarang oleh pemerintah.

Penang sudah lama tidak ada kasus positif Covid-19 dan pemerintah Malaysia sudah meletakkan Penang dalam Zona Hijau (aman). Semoga kami yang tinggal di Penang diperbolehkan untuk merayakan Idul Fitri bersama teman dan saudara, meskipun jauh di perantauan. Seperti peribahasa Inggris, home is what you make it, dan saya sudah menjadikan Penang sebagai home saya. Salam Ramadan buat teman-teman di negara tetangga. Semoga kita semua tabah bertahan melawan wabah pandemi ini. (AS)