Moh Syaiful Bahri Mahasiswa Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Identitas Keagamaan Muslim Madura dan Tantangannya: Refleksi dari Pengalaman di Bali

2 min read

sumber: opinikoe

“Jangan beli makanan pada orang Bali, karena nanti ada babinya. Cari yang pakai kerudung atau berbahasa Madura,” ujarnya. Perempuan itu berusia 27 tahun. Ia pendatang, bekerja paruh waktu bersama suami dan anaknya yang baru genap berusia tiga tahun.

Tak heran bahwa statement di atas muncul karena perempuan tersebut muslim. Ia juga alumnus pesantren di Madura. Sebut saja nama perempuan itu W. Sejak pertama kali saya tinggal di warung tempat ia bekerja, saya menyaksikan ada bagian-bagian yang barangkali luput dari model interaksi antara umat beragama. Kadangkala, ia terlalu toleran untuk satu-dua hal, dan untuk hal lain, terutama makanan, ia justru menolak mati-matian.

Pantang bagi W untuk membeli ikan, sayur, tempe, dan tahu pada warga lokal. Alasannya satu, takut dicampur dengan babi. Saya muslim, dan saya juga tidak makan babi. Dalam hal ini, saya cukup memahami alur berpikirnya.

Di sini, saya lebih tertarik pada pola keberagamaan dan perilaku muslim Madura yang tetap menjaga identitas kemusliman mereka di tanah rantau Bali. Memakai kopiah dan sarung setiap hari adalah ciri khas yang ditunjukkan teman-teman pekerja informal, seperti di toko kelontong.

“Mas, sarung itu identitas agama apa suku?” tanya laki-laki yang masih merasa trauma dengan tragedi boma Bali 2002. Saya, terdiam, mencoba untuk mencerna hal yang sebenarnya saya saksikan setiap hari, entah di Madura ataupun di Bali.

Sayang sekali, oborolan saya dengan laki-laki berinisial M di atas motor berhenti sebelum selesai membahas topik identitas keagamaan dan kesukuan setelah saya sampai di terminal Ubung, Bali, pada Kamis, 21 Oktober 2023 lalu.

Bagi orang Madura, sarung dan kopiah bukan sekadar aksesoris dan simbol agama, melainkan lebih dari itu, yaitu semacam identitas jati diri. Orang Madura tidak sedang menampilkan ornamen agama di situ, melainkan ada sesuatu yang ingin disampaikan.

Baca Juga  Cak Nun, Pluralisme Agama, dan Gus Dur Kedua

Satu di antaranya adalah sarung sebagai self-identity. Di dalamnya ada nilai-nilai moral dan warisan budaya dari kiai pesantren. Bicara sarung yang dipakai orang Madura, tentu cukup kompleks, tidak bisa dilihat hanya dari satu sudut pandang.

Di Denpasar, dan barangkali di kota dan kabupaten lain di Indonesia, orang Madura, terutama yang berprofesi bekerja di warung kelontong Madura, kebanyakan (untuk tidak menyebut semua) memakai sarung setiap harinya. Di toko kelontong Madura, nyaris kita akan melihat pemandangan laki-laki yang hampir setiap saat memakai sarung. Itu dianggap unik oleh orang non-Madura.

Saya sendiri juga beranggapan bahwa teman-teman muslim Madura di Bali, terutama yang bekerja di sektor informal seperti toko kelontong Madura, cukuplah unik. Mereka bisa menyesuaikan dengan budaya orang-orang lokal.

Hal itu bisa dilihat dari sikap mereka terhadap upacara keagamaan dan adat di Bali. Memang mereka tidak ikut langsung, tetapi mereka juga tidak menolak meskipun itu berbeda. Misalnya, ketika perayaan Hari Raya Nyepi, para pekerja toko kelontong pantang pulang ke Madura.

Mereka menyaksikan dan merasakan serangkaian acara tersebut. Mereka juga ikut serta seperti merayakan, yakni menutup pintu, mematikan lampu, dan tidak keluar dari tempat kerja. Menurut saya, di sini mereka bisa berdamai dengan budaya, agama, dan kultur yang berbeda.

Kunjungan saya ke Bali sudah keempat kalinya, dan itu ke Gianyar dan Ubud. Tempo hari, saudara sepupu yang sudah tinggal empat tahun di Jl. Pejeng, Kec. Tampaksiring, Kabupaten Gianyar, Bali, tepat sebelah utara Museum Arkeolog, bercerita banyak hal tentang kehidupan beragama di sana, mulai dari jarak ke masjid yang cukup jauh, suara azan yang hanya didengar lewat televisi, dan aplikasi NU Online di handphone, hingga hubungan dengan umat Hindu di lingkungannya.

Baca Juga  Humor Singkatan Nama

Begitu pun saya, ketika sampai di pinggiran Gianyar dan Ubud, saya seperti melihat kompleksitas kehidupan pedesaan yang utuh, tetapi hadir dengan suasan modern. Tradisionalitasnya bukanlah kolot, apalagi terbelakang.

Saya menemukan keheningan di sana. Manusia-manusianya cukup beragam. Tentu umat Hindu adalah mayoritas, tetapi pantang bagi mereka untuk menyinggung minoritas dan pendatang. Menurut saya, Bali cukup representatif untuk melihat nilai-nilai toleransi antarumat beragama.

Namun demikian, saya tidak setuju dengan tindakan W di muka, yang tidak memberikan ruang pada warga lokal dalam kontestasi ekonomi. Mungkin itu bagus sebagai bentuk kehati-hatian, tetapi tidak wajar bila berlebihan.

Saya kira, tidak apa-apa kita membeli makanan pada warga Hindu di Bali, karena mereka tidak akan menjual makanan yang tidak ada logo halalnya kepada muslim. Lagi pula, membeli makanan pada orang Hindu tidak lantas membuat kita yang muslim berubah menjadi Hindu, bukan? [AR]

Moh Syaiful Bahri Mahasiswa Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta