Kesalehan dalam Scroll: Ketika Agama Bertemu Algoritma

Akun Instagram @pemudahijrah_indonesia bukan semata ruang dakwah digital. Ia telah menjelma menjadi lanskap budaya baru, tempat keberagamaan diekspresikan sebagai gaya hidup yang estetis, personal, dan sarat afeksi. Di sana, “hijrah” tak lagi sekadar menandai peralihan spiritual, melainkan juga sebuah pertunjukan identitas. Penuh warna, penuh inspirasi, dan tentu saja—sangat instagramable. Dalam ruang visual yang rapi dan narasi yang menyentuh, keislaman tampil bukan bagian dari doktrin semata, jauh itu semua, mejadi pengalaman eksistensial yang dikemas kekinian dan mudah sebarluaskan.

Pada awalnya, keislaman diperlihatkan dalam kesederhanaan ritual dan kepatuhan terhadap otoritas keagamaan, pelan-pelan hadir dalam bentuk potongan video, diksi motivasional, dan visual yang dekat dengan bahasa iklan. Estetika menjadi jembatan antara nilai dan penerimaan. Pesan-pesan religius diolah supaya menarik kaum milenial, diperhatian, mudah dipahami, dan—lebih penting lagi—mudah sebarluaskan ke khalayak.

Perubahan ini menyimpan persoalan kultural yang tak sederhana. Dalam istilah Michel Foucault, setiap wacana keagamaan tidak bebas nilai, melainkan selalu terhubung dengan struktur kuasa yang membentuk subjek. Dakwah yang ditampilkan melalui media sosial tidak sekadar menyampaikan pesan-pesan ajaran agama, tetapi juga membentuk siapa yang boleh bicara atas nama Islam, dan bagaimana identitas Muslim seharusnya ditampilkan dan mungkin juga dipopulerkan.

Tak heran, bila setiap hari kita menyaksikan munculnya generasi baru yang menjadi “Muslim digital”: mereka yang mengenal agama melalui layar, menginternalisasi nilai melalui narasi video, reels intagram, mengejar for your page (fyp) TikTok, dan membangun rasa kebersamaan bukan di masjid atau majelis taklim, tetapi melalui tombol like dan comment. Ini bukan sekadar pergeseran medium, melainkan pergeseran paradigma. Keislaman tidak lagi diakses secara vertikal dari otoritas keagamaan, tetapi secara horizontal melalui komunitas daring yang cair dan partisipatif.

Di sinilah teori Louis Althusser menemukan konteksnya. Ia menyebut bahwa ideologi memanggil individu untuk menjadi subjek melalui proses yang disebut interpelasi. Ketika seorang pemuda merasa “disapa” oleh pesan hijrah di media sosial—merasa mewakili, merasa terhubung—maka ia telah menjadi bagian dari struktur ideologis baru yang dikemas dalam logika algoritma dan estetika digital. Dakwah yang afektif ini bukan sekadar membujuk; ia membentuk. Hal ini menegaskan bahwa followers akun @pemudahijrah_indonesia sudah menjadi bagian dari subjek yang dibentuk oleh keberislaman model @pemudahijrah_indonesia.

Namun seperti semua ekspresi budaya, fenomena hijrah digital juga menyimpan ambiguitas. Di satu sisi, ia membuka ruang inklusif bagi anak muda untuk kembali mengenal agama dengan pendekatan yang lebih ramah dan relevan. Di sisi lain, ia menyederhanakan kompleksitas spiritual menjadi narasi personal yang cepat, ringan, dan visual. Pada saat bersamaan, anak-anak muda hari ini tidak terlalu sudah pada narasi yang “berat-berat” teoritis, punya kedalaman kajian dan penuh rujuan referensi yang berjibun. Apa guna semua itu bila tidak menyentuh isi kepala anak muda. Kira-kira begitu.

Sejauh ini, dan barangkali tanpa kita sadari, kritik mulau bermunculan. Ada banyak pertanyaan-pertanyaan dalam benak kita, lebih-lebih mereka yang selama ini berkutat pada kajian keislaman dan literatur klasik, misal.  Maka penting untuk menjawab pertanyaan ini: apakah fenomena demikian bentuk pendangkalan religiusitas? Apakah Islam pop ini hanya menjual identitas Muslim sebagai citra konsumtif belaka? Apakah hijrah yang dipopulerkan hari ini lebih dekat dengan performa kesalehan ketimbang kedalaman makna?

Pada akhirnya kita akan membiarkan pertanyaan-pertanyaan di atas begitu saja. Sebab budaya—seperti kata Raymond Williams—selalu dalam proses menjadi. Hijrah digital adalah bagian dari negosiasi terus-menerus antara tradisi dan modernitas, antara teks dan konteks, antara agama dan pasar. Kita hidup di masa ketika algoritma bisa memetakan kegelisahan spiritual, dan kamera bisa merekam perjumpaan batin dengan Tuhan. Ini kenyataan baru yang tak bisa ditolak begitu saja. Tugas kita bukan menolak, melainkan membaca, memahami, dan menafsirkan ulang apa makna keislaman dalam dunia yang kian cair dan visual.

Media sosial, dalam hal ini, bukan sekadar alat penyebaran dakwah, tapi juga arena kontestasi makna religiusitas. Ada yang menggunakan untuk memperkuat nilai, ada pula yang menjadikannya sebagai ladang pengaruh. Yang pasti, ruang digital telah menjadi medan budaya baru yang menuntut kepekaan, bukan hanya dari sisi keagamaan, tetapi juga dari sisi kebudayaan. Hijrah digital mungkin seperti halnya jembatan bagi banyak anak muda menuju ruang spiritualnya sendiri. Tapi seperti semua perjalanan, ia membutuhkan panduan, refleksi, dan kesadaran bahwa agama tak hanya indah dilihat, tapi juga berat dijalani.

2

Mahasiswa Kajian Budaya Universitas Sebelas Maret

Post Lainnya

Arrahim.id merupakan portal keislaman yang dihadirkan untuk mendiseminasikan ide, gagasan dan informasi keislaman untuk menyemai moderasi berislam dan beragama.