



Ulama Nusantara memiliki kontribusi besar dalam membentuk wajah Islam di Indonesia yang dikenal moderat, inklusif, dan selaras dengan budaya lokal Indonesia. Sejak abad ke-16, misal ketika Islam mulai berkembang pesat, para ulama tidak hanya menyebarkan ajaran agama, tetapi juga menjadi pemimpin sosial dan pendidik. Mereka menjembatani Islam dengan tradisi lokal, menciptakan harmoni sehingga Islam diterima dan tumbuh alami di tengah masyarakat yang kompleks.
Dalam kehidupan sosial keagamaan, ulama Nusantara punya cara unik dank has untuk menyampaikan nilai-nilai Islam. Mereka memanfaatkan seni dan tradisi lokal, seperti wayang dan gamelan yang digunakan oleh Walisongo, untuk mengenalkan Islam dengan cara yang santun dan bertahap. Model dakwah semacam ini menunjukkan betapa cerdasnya mereka memahami kebutuhan masyarakat, sehingga Islam hadir sebagai agama yang mempersatukan dan memperkaya budaya, bukan sebaliknya.
Lebih dari itu, kontribusi ulama Nusantara di bidang pendidikan juga sangat besar. Lewat pesantren, mereka membangun sistem pendidikan yang mengajarkan agama sekaligus keterampilan hidup. Pesantren menjadi pusat pembelajaran yang terus relevan, dengan karya ulama seperti Sullam al-Taufiq dan Adabul Alim wal Muta’allim sebagai panduannya. Nilai-nilai toleransi dan keilmuan yang mereka tanamkan menjadi fondasi kokoh bagi masyarakat Indonesia, menjadikan Islam di Nusantara sebagai teladan harmoni dalam keberagaman.
Hadirnya buku Warisan Ulama Nusantara karya Ainun Lathifah lebih dari cukup menengok peran ulama Nusantara dalam membangun pondasi Islam yang khas di Indonesia. Penulis menghadirkan narasi tentang perjalanan sejarah dan warisan intelektual ulama-ulama besar Nusantara, mulai dari Syekh Hamzah Fansuri, KH. Hasyim Asy’ari Jombang, Prof. Dr. KH. Abu Bakar Aceh hingga Habib Muhammad Luthfi bin Ali yang telah mengembangkan Islam moderat, ramah, dan inklusif di tengah kehidupan masyarakat Indonesia (hal. 7-9).
Kunci sukses ulama Nusantara adalah pendekatan dakwah mereka yang santai, lembut, dan penuh pemahaman. Mereka menyampaikan nilai-nilai Islam lewat bahasa, seni, dan tradisi lokal, menjadikannya lebih mudah diterima oleh masyarakat. Bagi para ulama ini, Islam hadir bukan untuk menghapus budaya, melainkan untuk memperkuat dan memperkaya tradisi yang ada. Pendekatan ini membuat Islam di Indonesia berkembang menjadi agama yang ramah, penuh toleransi, dan diminati dari berbagai kalangan.
Warisan mereka tak hanya berupa nilai-nilai, tapi juga karya abadi seperti Sullam al-Taufiq oleh Syekh Nawawi dan Adabul Alim wal Muta’allim oleh KH Hasyim Asy’ari (hal. 69-70). Hingga kini, karya-karya ini masih jadi pedoman utama di pesantren-pesantren. Nilai toleransi, kesederhanaan, dan semangat belajar yang mereka wariskan tetap menjadi inspirasi di era modern. Menjaga warisan ulama Nusantara bukan hanya tentang menghormati masa lalu, tapi juga cara kita menjaga harmoni beragama di tengah dunia yang terus berubah.
Uniknya, ulama-ulama Nusantara menguasai medan dakwah mereka. Lihat saja seperti yang dilakukan Syekh Abdurrauf as-Singkili dengan menggunakan metode dakwah yang sangat meneduhkan. Meskipun lokasi di kawasan pelacuran, Syekh Abdurrauf as-Singkili tidak langsung menggunakan ceramah, tetapi menyamar sebagai seorang tabib (hal. 19). Pola semacam ini tentu sebagai ruang untuk menarik simpati masyarakat.
Hal demikian tentu berbeda dengan Syekh Kholil al-Bangkalani yang memilih mendiirkan pesantren di Desa Cengkuban, di mana pesantren ini menjadi cikal bakal berdirinya pesantren besar di Jawa-Madura. Kira-kira seperti yang kita ketahui bahwa Syekh Kholil al-Bangkalani disebut juga sebagai “maha guru” karena banyak ulama besar belajar kepadanya (hal.40-41).
Kontribusi ulama Nusantara ini menjadi pondasi kuat dalam membetuk model keberagamaan hari ini. Lewat buku ini, kita akan memahami peta jaringan ulama Nusantara, entah melalui karya-karya mereka ataupun gerakan sosial keagamaan dan pendidikan yang sampai saat ini menjadi role model dari keberagamaan masyarakat Indonesia, lebih-lebih di kalangan pesantren. Ainun Lathifah sebagai pengarang tentu sudah membuka lembaran memori tentang kiprah ulama Nusantara. Dan buku ini layak untuk dibaca semua kalangan, terutama siswa dan santri di Indonesia.
Buku: Warisan Ulama Nusantara: Biografi dan Karya Intelektual Mereka
Penulis: Ainun Lathifah
Penerbit: Laksana
Tahun Terbit: 2022
Jumlah Halaman: 232 halaman
ISBN: 978-623-327-255-1
Mahasiswa Kajian Budaya Universitas Sebelas Maret