Moh Syaiful Bahri Mahasiswa Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Model Pendidikan Alternatif Pasca Pandemi

2 min read

Sumber: GuruDikdas

Pandemi memaksa setiap orang untuk menyesuaikan kebiasaan baru. Salah satunya proses belajar mengajar di sekolah. Ketidakmampuan untuk beradaptasi dan berinovasi menjadi hantu-hantu baru dalam situasi pandemi Covid-19. Di awal pandemi kemarin, semua sekolah khususnya di Indonesia terlunta-lunta, mendadak sesak nafas dan tidak menemukan pola pendidikan yang tepat dalam situasi pandemi. Bangunan pendidikan yang sudah puluhan tahun dirawat dan dikembangkan mulai rapuh, tetapi tidak roboh. Dari sana banyak pertanyaan muncul kemudian, salah satunya adalah bagaimana model pendidikan pasca pandemi Covid-19?

Satu tahun lebih dunia pendidikan melaksanakan ritual online dengan menggunakan berbagai platform digital. Tentu situasi semacam ini juga menimbulkan perdebatan hangat di kalangan masyarakat, mengingat Indonesia yang terdiri dari 16.771 pulau dan tidak semua peserta didik yang berada di daerah 3T mampu mengakses internet dengan baik. Ini salah satu problem pendidikan kita di era pandemi covid-19.

Selain memberi pelajaran berharga, pandemi juga memperlihatkan ketimpangan sistem pendidikan Indonesia. Di mana pendidikan masih berbasis di perkotaan, dalam hal ini bukan 100% orang-orang pedesaan tidak berpendidikan, melainkan kualitas pendidikan, saran dan prasarana masih ada ketimpangan yang jaraknya cukup panjang. Terbukti dengan hadirnya pandemi, kita bisa melihat ketidakseimbangan pendidikan antara perkotaan dan di desa atau bahkan di daerah 3T sendiri.

Lanskap dunia pendidikan Indonesia semacam ini direspon oleh Sri Wahyuningsih, Direktorat Sekolah, ia menawarkan tiga poin penting dalam beradaptasi dengan pandemi Covid-19 (pasca pandemi). Tentu semata-mata bertujuan untuk mencapai cita-cita luhur pendidikan Indonesia ke arah yang lebih baik. Pertama, adanya kebijakan yang dikeluarkan pemerintah di tengah pandemi; relokasi anggaran, SKB 4 Menteri tentang Pembelajaran Tatap Muka, dan  koordinasi dengan pemerintah daerah dan pihak sekolah.

Baca Juga  Belajar Islam yang Tertipu Algoritma Media Sosial

Kedua adalah transisi masa pandemi. Pemerintah sudah melakukan vaksinasi terhadap guru dan tenaga kependidikan di berbagai sekolah. Di sisi lain, pemerintah telah menyiapkan infrastruktur; digitalisasi dan telekomunikasi sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan pembelajaran di masa pandemi saat ini.

Ketiga, melakukan survei pembelajaran tatap muka di berbagai sekolah. Pemerintah berupaya untuk mengawal persiapan pembelajaran tatap muka terbatas, penyiapan digitalisasi sekolah, penyiapan program Sekolah Penggerak dan juga melakukan upaya pembinaan terhadap UKS sebagai pendukung kehidupan di  era new normal nanti, tentu dengan berpijak kepada perilaku hidup sehat, bersih dan peduli antar sesama.

Tiga poin penting di atas merupakan tawaran yang cukup menarik di tengah-tengah pandemi kemarin. Di mana, persiapan pemerintah untuk berdamai dengan pandemi dalam ruang lingkup pendidikan sudah menemukan arah baru. Setidaknya memberi kesempatan peserta didik untuk gembira. Karena jeda yang cukup panjang untuk bertemu secara nyata dengan teman-teman dan pihak tenaga pendidik melahirkan situasi yang berbeda. Justru pendidikan di abad ke-21, pendidikan era 4.0 dan pasca pandemi dituntut untuk selalu beradaptasi dengan situasi apapun.

Di sinilah pendidikan harus bertransformasi dari yang awalnya hanya berpaku pada pembelajar tatap muka kepada pendidikan yang bebasis media digital. Dalam artian, warisan pandemi mengenai pembelajaran online tidak serta merta dilupakan begitu saja. Tapi, terus dikembangkan ke arah yang lebih baik sesuai dengan konteks zamannya. Meminjam istilah Ki Hadjar Dewantara bahwa pendidikan adalah pembudayaan hasil budi manusia yang beradab dan hasil perjuangan manusia terhadap dua kutub kekuatan besar yang senantiasa mengitari hidup manusia yaitu kodrat alam dan zaman atau masyarakat.

Konsep Ki Hadjar dalam hal ini melihat bahwa pendidikan harus bergerak dari satu era menuju era yang lain untuk kemerdekaan lahir dan batin manusia itu sendiri. Ketika kita tarik terhadap problem hari ini, diperlukan upaya untuk terus beradaptasi dengan pandemi covid-19, tentu dengan mengembangkan pembelajar yang sudah dilakukan sejak awal pandemi. Dan yang tidak kalah penting dari pola pendidikan Indonesia pasca pandemi adalah pembelajaran yang tidak melulu mengandalkan tatap muka saja, tetapi juga mulai menggarap sistem pendidikan di ruang vitual dengan berbagai model dan inovasi.

Baca Juga  Daging Kambing, Mendoan dan Secangkir Kopi Pahit untuk Gus Dur

Model pendidikan alternatif pasca pandemi adalah pendidikan yang membebaskan peserta didik, pendidikan yang mencetak peserta didik mempunyai kepedulian sosial tinggi, kepekaan terhadap persoalan-persoalan riil di tengah-tengah masyarakat, serta kurikulum disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat setempat. Artinya, pendidikan dirancang bukan untuk segelintir orang saja, tetapi untuk semua masyarakat Indonesia. Untuk itu, tak heran bila model pendidikan semacam ini juga mendukung kebijakan pemerintah tentang “Merdeka Belajar” yang sudah digaungkan sejak pemerintah Jokowi periode kedua.

Terakhir, pendidikan sebagai ruang mengasah ketajaman intelektual, emosional dan sosial harus berwujud dalam bentuk konkret atau nyata di tengah-tengah masyarakat. Lebih-lebih pendidikan pasca pandemi ini juga menyentuh daerah 3T, sehingga cita-cita luhur Indonesia tentang keadilan sosial akan tercapai. Jika tidak, maka pendidikan hanya menjadi bayang-bayang yang lebih menakutkan dari pada pandemi covid-19.

Moh Syaiful Bahri Mahasiswa Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta