



“Kalau engkau hanya membaca buku yang dibaca semua orang, engkau hanya bisa berpikir sama seperti semua orang.”
– Haruki Murakami
Sepertinya, apa yang dikatakan Haruki Murami tidak berlaku bagi anak-anak di Pulau Gili Iyang. Jangankan membaca buku yang dibaca orang lain. Anak-anak justru tumbuh tanpa perpustakaan. Tanpa buku-buku yang membuka jendela dunia. Mereka belajar dari apa yang ada, seringkali hanya dari cerita yang diwariskan lisan atau dari pelajaran seadanya di sekolah.
Membiasakan membaca untuk anak-anak, di negeri ini, terutama di Pulau Gili Iyang masih menjadi pekerjaan rumah yang panjang. Di banyak sudut, buku anak-anak bukanlah barang sehari-hari—ia lebih seperti tamu langka yang hanya datang jika keadaan memungkinkan. Buku tak hanya mahal, tetapi sering kali dianggap bukan kebutuhan mendesak. Lalu ada kebiasaan membacakan buku, yang kerap berakhir sebagai teori baik di seminar orang tua, namun tak benar-benar menemukan tempatnya di ruang keluarga.
Bayangkan sebuah pulau kecil dengan kadar oksigen tertinggi kedua di dunia, tempat di mana anak-anak tumbuh di tengah rutinitas orang dewasa yang sibuk. Ada yang tinggal bersama neneknya, sebab orang tua mereka merantau ke kota-kota besar, dan gawai yang selalu nyala. Buku, jika pun ada, teronggok di sudut rak sekolah, lebih sering menjadi pajangan daripada cerita yang hidup. Padahal, membacakan buku untuk anak bukan sekadar soal mengenalkan kata-kata atau cerita. Itu adalah momen di mana waktu melambat, ketika kehangatan dan rasa penasaran bertemu dalam selembar halaman.
Beberapa bulan lalu, seorang teman dari Jogja bermain ke Pulau Gili Iyang. Selain dalam rangka berwisata, juga berkunjung ke beberapa sekolah yang ada. Ironisnya, rata-rata, sekolah yang ada di pulau kecil itu tidak ada perpustakaannya. Toh, misalnya ada, koleksi buku kebanyakannya buku pelajaran. Di satu sisi, hadirnya Komunitas Pemuda Gili Iyang (KP Gili Iyang) seperti membawa angin segar. Teman-teman yang bergabung dalam komunitas ini memiliki kepedulian besar pada isu literasi “pendidikan”. Mereka melakukan gerakan literasi lewat Taman Bacaan Masyarakat (TBM).
Gerakan literasi KP Gili Iyang hadir sebagai ikhtiar membuka akses pengetahuan, meningkatkan kemampuan membaca dan menulis, lebih-lebih tentang nilai-nilai budaya lokal yang telah lama mengakar dalam kehidupan mereka. Melalui gerakan ini, pendidikan tidak hanya berfungsi untuk mencetak individu yang terampil dalam bidang akademis, tetapi juga untuk membentuk kesadaran kolektif tentang pentingnya pelestarian budaya lokal.
Selain itu, gerakan literasi budaya juga memberikan kesempatan untuk mengembangkan berbagai bentuk media dan sumber belajar yang berbasis pada kebudayaan lokal. Misalnya, melalui penulisan buku, pembuatan film dokumenter, atau pementasan seni tradisional yang dapat menjadi alat untuk mendokumentasikan dan menyebarkan pengetahuan tentang kebudayaan Pulau Gili Iyang. Kabar baiknya, tahun 2021 KP Gili Iyang menggelar lomba cipta puisi dengan tema “Merekam Ingatan, Menulis Budaya Lokal Gili Iyang” sampai akhirnya karya teman-teman yang lolos kurasi diterbitkan dalam satu buku Sirih Keramat (2022).
Di sini, KP Gili Iyang sudah menjadi rumah bagi teman-teman. Tempat melabuhkan jiwa dan menyusun cita-cita, membuka jendela dunia dari buku-buku yang berada di rak taman baca. Bicara menumbuhkan minat baca anak, justru saya menemukan gerakan ini di KP Gili Iyang. Gerakan literasi dimulai dari taman baca. Ini cukup menarik. Awalnya, KP Gili Iyang hanya ruang diskusi mahasiswa dan santri di bulan Ramadhan. Mulai dari kajian buku, bedah pemikiran tokoh, diskusi kebudayaan, dan akhirnya sampai pada layanan simpan pinjam buku untuk siswa yang ada di Pulau Gili Iyang.
Model gerakan berbasis komunitas literasi dan sosial movement memberikan angin segar untuk menunjang minat baca di Indonesia. Mimpi anak-anak Pulau Gili Iyang sepertinya juga mimpi anak-anak Indonesia. Mereka bukan hanya sekadar ingin melihat dunia dari lembar buku-buku cerita anak, sastra dan lain sebagainya. Lebih dari, mereka juga butuh akses yang sama dengan anak-anak di kota yang sudah berumah di buku sejak dari rumah dan sekolah. KP Gili Iyang sudah membangun gerakan penunjang minat baca dari kepulauan.
Mahasiswa Kajian Budaya Universitas Sebelas Maret