Cahya Ardhana Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya

Memotret Relasi Etika dan Estetika dalam Pengalaman Manusia

2 min read

Karya: Amelia Watts

Etika dan estetika adalah dua cabang filsafat yang sering kali mendapat sorotan dalam memahami manusia dan alam. Etika berkaitan dengan prinsip-prinsip moral serta apa yang baik dan buruk. Berbeda dari etika, estetika membahas tentang keindahan, apresiasi seni, dan nilai-nilai estetis pada pengalaman manusia.

Kendati kedua bidang tersebut tampak berbeda dalam ruang lingkup dan fokus yang dikaji, keduanya sering kali terkait dan berinteraksi satu sama lain dalam pemahaman kita mengenai alam semesta. Antara etika dan estetika keduanya saling memengaruhi dan melengkapi satu sama lain.

Keindahan adalah landasan utama etika. Ada argumen yang menyatakan bahwa ketika kita mengalami suatu keindahan, kita cenderung akan merasa lebih terhubung dengan nilai-nilai positif yang ada di sekitar kita, seperti nilai kasih sayang, harmoni, dan kebaikan. Misalnya, saat melihat lukisan yang indah atau mendengarkan musik yang menggetarkan jiwa, pasti sering kali kita merasakan perasaan kagum, takzim, dan bahkan munculnya rasa takjub.

Dalam konteks ini, etika dapat dihubungkan dengan estetika melalui suatu gagasan bahwa pengalaman estetis dapat memengaruhi perilaku serta tindakan manusia. Jika kita dapat menghargai dan menghormati keindahan dalam berbagai bentuknya, kita sebagai penikmat keindahan cenderung lebih terbuka terhadap nilai-nilai positif dalam kehidupan sehari-hari. Dengan banyak menerapkan nilai-nilai positif pada suatu keindahan, maka kita sama dengan mengapresiasi keindahan dan menjadikan nilai-nilai postif tersebut fondasi moral kita.

Selanjutnya, estetika juga dapat berperan dalam proses pengambilan keputusan etis. Saat kita dihadapkan pada situasi etis yang kompleks, pasti sering kali kita mengandalkan intuisi dan penilaian pribadi. Estetika dapat memainkan peran penting dalam proses pengambilan keputusan etis ini.

Misalnya, ketika seseorang mengahadapi dilema etis yang melibatkan antara kebaikan individu dengan kebaikan kolektif, pengalaman estetis dapat membantu kita dalam mencapai keputusan yang tepat, yaitu apakah tindakan tersebut akan menciptakan harmoni, menghasilkan keindahan dalam hubungan, atau mendukung nilai-nilai estetis lainnya. Pertanyaan-pertanyaan seperti ini dapat membantu kita dalam merenungkan implikasi etis dari tindakan yang telah kita lakukan.

Baca Juga  Pesantren dan Transmisi Keilmuan Islam di Indonesia

Selain itu, seni sering kali digunakan sebagai sarana menyampaikan pesan etis dan sosial. Seorang seniman sering kali menggunakan karya seni untuk menggambarkan rasa ketidakadilan, ketidaksetaraan, atau masalah-masalah sosial yang lain. Melalui estetika, para seniman dapat membangkitkan perasaan empati dan kesadaran yang mendalam terhadap masalah-masalah tersebut. Ini adalah contoh konkret bagaimana estetika dan etika dapat berinteraksi untuk memengaruhi pandangan kita perihal dunia dan tindakan kita lainnya.

Estetika juga dapat berperan dalam mengembangkan kebijakan etis. Ketika kita melibatkan diri dalam refleksi yang etis dan pencarian pemahaman yang lebih dalam tentang moralitas, pengalaman estetis dapat membantu kita mencapai pandangan yang lebih komprehensif. Dalam proses ini, estetika dapat menginspirasi kita untuk mempertimbangkan nilai-nilai etis pada konteks yang lebih luas. Lebih jauh, estetika juga membantu kita dalam memahami bahwa kebaikan moral sering kali tidak terpisah dari keindahan yang ada di sekitar kita.

Pengalaman estetis, seperti mengagumi pemandangan alam yang indah atau mendengarkan musik dengan penghayatan yang mendalam, dapat membantu kita mencapai pemahaman yang lebih luas mengenai nilai-nilai dan makna kehidupan. Estetika bisa menjadi sumber inspirasi dalam pemikiran filosofis yang lebih mendalam dan juga sebagai refleksi etis yang lebih bermakna.

Di sisi lain, ada juga seni yang sering kali mencerminkan pertimbangan etis dalam karyanya. Seniman sering kali menggunakan seni sebagai cara dalam menyampaikan pesan moral atau mengeksplorasi konsep-konsep etis dalam karya-karyanya. Lukisan, sastra, dan karya seni visual lainnya sering kali menciptakan narasi yang mempertanyakan nilai-nilai moral, memeriksa masalah-masalah etis, atau juga bahkan mengkritik ketidakadilan yang terjadi di masyarakat.

Karya seni yang memprovokasi sering kali memiliki tujuan yang etis, yaitu memicu pemikiran kritis tentang masalah-masalah moral dalam kehidupan kita. Karya seni yang bersifat provokatif kerap menghadirkan pandangan alternatif tentang realitas sosial dan politik, sehingga menggugah minat audiens untuk melihat dan mempertanyakan nilai-nilai yang ada dan eksplorasi yang lebih dalam tentang moralitas.

Baca Juga  Mendedah Problem Plagiarisme Dalam Dunia Pendidikan

Dalam upaya tersebut, seni dapat menjembatani pemahaman lintas budaya dan isu-isu etis yang relevan, membantu menghapus batasan-batasan pemikiran yang sempit, dan menggugah dialog lintas masyarakat yang diperlukan untuk perubahan positif. Dalam hal ini, seni dapat menjadi instrumen yang kuat dalam membangkitkan dialog etis dan menggerakkan perubahan sosial.

Melalui penyampaian pesan moral, seni menghasilkan perenungan yang lebih dalam mengenai kompleksitas masalah etis yang menghadang kita di dalam kehidupan sehari-hari, mendorong tindakan yang lebih sadar secara moral, dan mewujudkan perubahan yang dibutuhkan dalam masyarakat.

Cahya Ardhana Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya