Dani Cahyani Rahayu Alumnus Jurusan Tafsir Hadits Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (2016); Pendidik di MI Miftahul Ulum Lamongan; Mahasiswi S2 PAI UIN Sunan Ampel Surabaya; Anggota Komunitas Pondok Menulis.

Muharram dan Esensi Kisahnya

2 min read

Sesungguhnya semua bulan dalam Islam memiliki makna dan keistimewaan tersendiri. Ada banyak kisah terselip dibalik setiap bulan yang diawali dari peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad Saw tersebut. Muharram adalah titik awal masa penanggalan hijriyah, yang artinya bulan Muharram adalah bulan pertama dalam kalender Islam dari kesebelas bulan selanjutnya. Sebagai bulan pemula tentu Muharram memiliki banyak keistimewaan dan kisah penuh makna menyertainya.

Dalam QS. al-Taubah; 36 Allah Swt berfirman:

إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِى كِتَٰبِ ٱللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ مِنْهَآ أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا۟ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ ۚ وَقَٰتِلُوا۟ ٱلْمُشْرِكِينَ كَآفَّةً كَمَا يُقَٰتِلُونَكُمْ كَآفَّةً ۚ وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلْمُتَّقِينَ.

Artinya: “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa”.

Makna tersurat dari ayat di atas yang perlu digarisbawahi adalah empat bulan haram. Dikutip dari Tafsir al-Wajiz karya Syaikh Prof. Dr. Wahbah Zuhaili bahwasannya yang disebut empat bulan haram tersebut adalah Rajab, Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharram. Muharram merupakan satu dari empat bulan haram (mulia) yang disebutkan oleh firmanNya. Dikatakan juga oleh Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya bahwa empat bulan haram tersebut adalah Rajab, Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharram yang merupakan bulan berturut-turut kecuali Rajab.

Kisah di Bulan Muharram

Ada beberapa peristiwa bersejarah yang bukan hanya sekedar dongeng pengantar tidur tetapi petuah dan goresan kisah yang sarat akan makna. Diantaranya tepat terjadi pada hari ke-10 bulan Muharram:

Baca Juga  Konsep Tauhid Menurut Imam Junaid al-Baghdadi
  1. Kemenangan Nabi Musa dan kaumnya dari Fir’aun

Sebuah hadits diceritakan dari Sa’id bin Jubair diceritakan dari Ibn ‘Abbas r.a bahwasannya ketika Nabi Muhammad Saw baru berpindah (hijrah) dari kota Makkah menuju Madinah, maka mereka mendapati kaum Yahudi berpuasa pada hari Asyura (10 Muharam). Maka mereka pun bertanya kepada kaum Yahudi tentang puasa mereka itu. Mereka menjawab, “Hari ini Allah SWT telah memenangkan Musa dan Bani Israel terhadap Firaun dan kaumnya, maka kami berpuasa untuk mengagungkan hari ini. Lalu  Nabi Muhammad bersabda: “Kami lebih layak mengikuti jejak langkah Musa dari kamu.” Maka Nabi saw pun menyuruh para sahabat agar berpuasa”.

  1. Allah mengangkat Nabiyullah Idris ke langit
  2. Allah mengembalikan kerajaan Nabi Sulaiman a.s
  3. Bersandarnya bahtera Nabi Nuh a.s di bukit Judd setelah berlabuh selama 150 hari disertai dengan banjir bandang yang mengahcurkan kaumnya yang kafir beserta anak kandungnya, Kan’an.
  4. Lahirnya Nabi Ibrahim a.s dan bertepatan juga dimana bulan dan hari Ibrahim diangkat sebagai kekasih Allah atau kholilullah.

Esensi di balik kisah

Muharram sebagai salah satu perwujudan bulan mulia dimana tersirat beberapa kisah berharga tentu sangat istimewa dengan berbagai macam himbauan pahala. Maka tak heran, jika di bulan ini terdapat amalan-amalan yang patut dikerjakan untuk memaksimalkan pahala yang ada dari bulan yang mulia. Dari beberapa peristiwa yang terjadi di hari asyura yang terdapat di bulan Muharram terselip makna kesabaran, keikhlasan dan kegigihan. Kemenangan Nabi Musa setelah dikejar oleh bala tentara Fir’aun diperoleh dari kegigihan Nabi Musa, kesabarannyya dan rasa tawakkal hingga akhirnya Allah meminta Nabi Musa melempar tongkatnya ke laut merah yang kemudian terbelah. Begitu juga dengan kisah-kisah kekasih Allah lainnya yang terjadi di bulan Muharram ini.

Baca Juga  Trilogi Tasawuf pada Atap Masjid Kuno Nusantara

Maka seyogyanya, meneladani dan bertafakkur dari kemuliaan bulan ini tak hanya sekedar berucap syukur tetapi harus disertai dengan aplikasi jiwa, fikiran dan hati yang sinkron sepenuhnya. Di bulan ini terutama di 10 hari pertamanya tentu dianjurkan memperbanyak berpuasa, sebagai pengejawantahan dari klimaksnya sabar dan ikhlas serta melapangkan maaf sebagaimana dari kisah Nabi Daud a.s, memperbanyak ibadah baik secara ilahiyah maupun manusiawi, atau secara vertical dan horizontal, serta anjuran tidak berperang serta membunuh ketika bulan-bulan suci tersebut.

Salah satu hal yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad saw selain berpuasa, tidak membunuh atau berperang, dan memperbanyak ibadah  adalah menyayangi anak-anak yatim, sesungguhnya kasih sayang ini adalah pembelajaran dari rasa ikhlas dan menghindari sifat kikir, bahwasannya setiap harta yang kita miliki adalah milik mereka kaum fakir, miskin serta anak-anak yatim piatu. Mesksi berpuasa di hari  Asyura bukanlah suatu kewajiban namun sebuah anjuran yang bersifat sangat dianjurkan guna melatih diri secara batiniyyah dan memperoleh pahala ukhrowiyyah.[AH].

Dani Cahyani Rahayu
Dani Cahyani Rahayu Alumnus Jurusan Tafsir Hadits Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (2016); Pendidik di MI Miftahul Ulum Lamongan; Mahasiswi S2 PAI UIN Sunan Ampel Surabaya; Anggota Komunitas Pondok Menulis.