Menjaga Kesehatan Mental Gen Z Perspektif Islam

Berdasarkan Data Reportal (Good Stat, 2023), Gen Z tercatat sebagai pengguna media sosial terbanyak, khususnya pada platform TikTok. Hal ini secara tidak langsung juga mempengaruhi bagaimana standar baru dalam kehidupan sosial mereka terbentuk.

‘Standart Tiktok’ seringkali membuat sebagian individu merasa tertinggal, fomo (fear of missing out), yang pada akhirnya memunculkan rasa cemas dan kegelisahan berkelanjutan. Fenomena  flexing (pamer pencapaian) juga turut memperburuk keadaan, sebab dapat menggiring seseorang pada kondisi mental yang tidak sehat (Nurul Kamaly et. al. 2025).

Menurut Henry Manampiring, kegelisahan yang berlebihan di kalangan Gen Z tentu tidak hanya membuang waktu, tetapi juga mengganggu kesehatan fisik, sebab pikiran dan tubuh saling memengaruhi secara dua arah. Oleh karena itu, sifat khawatir yang berlebihan perlu dikendalikan agar tidak merugikan diri sendiri (Filosofi Teras, 2018).

Dalam psikologi modern, kondisi ini dikenal dengan istilah gangguan kecemasan (anxiety disorder). Menariknya, Al-Qur’an juga menyinggung fenomena kegelisahan dengan istilah dhaq (kesempitan jiwa), sebagaimana dalam firman Allah:

وَلَمَّا جَاءَتْ رُسُلُنَا لُوْطًا سِيْءَ بِهِمْ وَضَاقَ بِهِمْ ذَرْعًا وَّقَالَ هٰذَا يَوْمٌ عَصِيْبٌ

“Ketika para utusan Kami (malaikat) itu datang kepada Luth, dia merasa gundah dan dadanya terasa sempit karena (kedatangan) mereka. Dia (Luth) berkata: ‘Ini adalah hari yang sangat sulit.” (QS. Hūd [11]: 77)

Al-Qur’an juga menawarkan solusi bagi mereka yang mengalami kesempitan jiwa. Salah satunya melalui firman Allah:

 اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُۗ

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS. al-Ra‘d [13]:28)

Mengingat Allah menjadi cara untuk melepaskan beban pikiran dan urusan dunia yang menekan. Hal ini sejalan dengan pandangan Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Remembrance of The Most Merciful, yang menekankan bahwa hati manusia tidak akan pernah menemukan ketenangan sejati kecuali dengan Allah.

Bila hati bersandar pada dunia, kegelisahan akan terus hadir karena sifat dunia yang fana. Sebaliknya, bila hati bersandar kepada Allah melalui dzikir, jiwa akan memperoleh ketenangan hakiki.

Kecenderungan hati untuk mencari sandaran, bila diarahkan kepada dunia, hanya akan melahirkan kegelisahan karena sifat dunia yang fana. Sebaliknya, bila hati diarahkan kepada Allah Swt. melalui dzikir, maka jiwa memperoleh ketenangan yang hakiki. Ibn Qayyim al-Jauziyyah menyebut dzikir sebagai “buah surga dunia, sebab ia menjadi sumber ketenteraman yang tidak dipengaruhi oleh kondisi eksternal.

Di sisi lain, Rasulullah sangat memperhatikan kesehatan mental umatnya. Salah satu doa yang beliau ajarkan dari riwayat Bukhari adalah sebagai berikut:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الهَمِّ وَالحَزَنِ، وَالعَجْزِ وَالكَسَلِ، وَالبُخْلِ وَالجُبْنِ، وَضَلَعِ الدَّيْنِ، وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kekhawatiran dan kesedihan, dari ketidakmampuan dan kemalasan, dari kekikiran dan pengecut, dari beban hutang dan dominasi orang lain.”

Doa ini menunjukkan perhatian Rasulullah terhadap berbagai bentuk gangguan mental dan sosial yang bisa menjerat manusia. Salah satu solusi yang ditawarkan Islam adalah iman kepada qada’ dan qadar. Keyakinan ini mengajarkan bahwa segala sesuatu telah ditetapkan oleh Allah Swt, sementara tugas manusia hanyalah berikhtiar sebaik mungkin.

Hal-hal di luar kendali kita, seperti tanggapan orang lain, jodoh, atau kematian, tidak semestinya menjadi sumber kecemasan. Manusia hanya bisa mengontrol usaha dan sikapnya, sedangkan hasil akhir adalah milik Allah.

Menariknya, prinsip ini memiliki kemiripan dengan filsafat Stoicism. Stoicism menekankan pentingnya membedakan antara hal-hal yang bisa kita kendalikan dan yang tidak. Opini orang lain, nasib, atau keadaan eksternal tidak semestinya menjadi sumber kegelisahan.

Perhatian sebaiknya difokuskan pada pikiran, sikap, dan tindakan kita, karena itulah aspek yang benar-benar berada dalam kendali. Stoicism juga mengajarkan penerimaan terhadap takdir (amor fati) dan menjadikan setiap tantangan sebagai kesempatan untuk melatih kebajikan, ketahanan diri, dan kebijaksanaan (Hilaluddin et. al. 2024).

Sejalan dengan itu dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunan Abu Daud, Rasuluaallah saw bersabda :

مَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ، وَمَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَ

“Apa yang menimpamu tidak akan luput darimu, dan apa yang luput darimu tidak akan menimpamu.”

Hadis ini mengajarkan pentingnya tawakal dan kepasrahan kepada takdir Allah setelah seseorang berusaha dengan sungguh-sungguh. Baik dalam Islam maupun Stoicism, ketenangan jiwa muncul dari kemampuan mengendalikan fokus, yaitu dengan tidak larut pada hal-hal di luar kuasa manusia.

Hati yang senantiasa diisi dengan dzikir kepada Allah serta keyakinan terhadap qada’ dan qadar akan lebih mampu mengurangi kegelisahan dan mencapai ketenangan sejati.

10

Mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

Post Lainnya

Arrahim.id merupakan portal keislaman yang dihadirkan untuk mendiseminasikan ide, gagasan dan informasi keislaman untuk menyemai moderasi berislam dan beragama.