Faizatun Khasanah Dosen (Pengajar Online) di FHISIP Universitas Terbuka Pamulang Tangsel .

Meneropong Kebudayaan Lewat Gus Dur (1)

1 min read

“Kebudayaan adalah seni hidup itu sendiri (the art of living) yang mengatur keberlangsungan hidup, yang menghasilkan pilar-pilar untuk menjaga tatanan social”. Itulah pernyataan Gus Dur tentang kebudayaan dalam awal buku bunga rampai yang dikumpulkan oleh team penerbit DESANTARA Depok. Buku itu terdiri dari tiga bagian yang memuat gagasan besar Gus Dur mengenai budaya dan kontenslasinya  dengan Agama dan Negara. Tim penerbit membagi tulisan Gus Dur mengenai budaya ke dalam tiga sub pembahasan: Desentralisasi Kebudayaan, Kebudayaan dan Siasat Kaum Beriman serta Pergulatan Islam, Seni dan Budaya Lokal. 

Dari penejelasan singkat Gus Dur tentang kebudayaan, penulis melihat tiga komponen, yaitu: Seni, regulasi (aturan) dan tatanan sosial.  Aturan tersebut membawa pada tatanan yang bersifat humanis. Mari kita lihat ketiga aspek tersebut secara lebih teliti. Kata seni sering kali dipertukarkan dengan estetika, karena yang sering diperdengarkan seni merupakan suatu hal yang berkaitan dengan benda-benda yang indah, seperti: lukisan, kaligrafi, tarian, dll.

Menurut filsuf Islam Sayed Husein Nasr seni Islam didasarkan atas hikmah, pengetahuan yang diilhami oleh nilai-nilai religius dan mewujudkan realitas-realitas gaib (khazain al-ghaib) lewat bantuan ilmu pengetahuan tentang dunia batin. Seni Islam memantulkan prinsip-prinsip Tuhan, sehingga disebut sebagai scientia sacra atau sains sakral. Seni dalam pandangan Nasr kearah aksiologi, karena membahas tentang nilai-nilai yang berpangkal dari Tuhan untuk menghasilkan pedoman.

Agaknya pemikiran Gus dur tentang Seni lebih dekat kepada pandangan seni yang diungkapkan oleh Nasr. Karena pemikiran Gus Dur berpangkal pada nilai-nilai Islam sebagai sumber tatanan kehidupan. Berbeda dengan seni yang diungkapkan oleh Plato, yang sama-sama bersifat idea. Plato menekankan seni sebagai keindahan intuisi dan kontemplasi. Dalam konsep filsafat, Plato melahirkan teori Mimesis yang melihat dunia materi hanya sebagai bayangan dari dunia nyata yang ada di atas, yaitu alam idea-idea yang bersifat rohani murni “ (Plato, 1955: 138). Tidak heran juga jika konsep filsafat seni-nya Plato bersifat idealis. Karena pemikirannya berpangkal tolak pada ide. Bukan hal yang bersifat empirisme (aristoteles).

Baca Juga  GUS DUR LEBIH CINTA UMMAT DARIPADA TAHTA

Seni yang dilekatkan pada objek yang dinamis dan terus berproses tumbuh kembang yaitu  kehidupan. Jadi me-nyeni-kan kehidupan merupakan kebudayaan. Tidak heran dalam kehidupan Gus Dur seringkali terjadi “kegaduhan” yang bersifat internal maupun eksternal dimata pembaca, namun beliau tetap enjoy saja “Gitu saja kok repot”. Kegaduhan yang saya maksud di sini mengundang kontroversi dalam banyak keputusannya sebagai pemimpin umat maupun bangsa. Karena pemikirannya yang sulit ditebak bersifat zig-zag. Itulah seni, karena ekpresi dari hikmah pengetahaun tentang keagamaan menghasilkan (ekpresi-reaksi) berbeda-beda pula. Berbeda-beda tersebut tidak lantas menyebabkan konflik.  Karena menurut Gus Dur “ semakin berbeda kita, semakin jelas titik-titik persamaan”.

Seni kehidupan tersebut guna mengatur kelangsungan hidup, sehingga persiggungan-persinggunan tersebut menghasilkan tata peraturan dalam kehidupan.  Tata peraturan ini yang nantinya akan membentuk sebuah tatanan sosial yang bersifat humanis. Misalkan, budaya berkomuniksi dalam masyarakat jawa mengenal adanya stratifikasi (berjenjang). Kepada siapa kita berbicara, kepada orang tua menggunakan bahasa yang halus. Contoh: kata makan dengan menggunakan kata dhahar, kepada anak-anak maem. Hal tersebut dilihat dari segi linguistik penggunaan kosa kata.

Dilihat dari “unggah-ungguh” sopan santun kepada orang yang pangkat sosialnya lebih tinggi menggunakan Bahasa yang santun formal meskipun mereka lebih muda. Berbeda dengan komunikasi dengan orang yang statusnya sama dengan komunikan dan komunikator bahasa yang digunakan lebih santai dan non-formal. Dalam surat al-hujurat juga dijelaskan bagaimana etika berkomunikasi dengan Tuhan, atasan (pemimpin), sebaya, lebih “rendah” dengan lawan bicara.

selanjutnya: Meneropong Kebudayaan Lewat Gus Dur (2)

Faizatun Khasanah
Faizatun Khasanah Dosen (Pengajar Online) di FHISIP Universitas Terbuka Pamulang Tangsel .