Faizatun Khasanah Dosen (Pengajar Online) di FHISIP Universitas Terbuka Pamulang Tangsel .

Meneropong Kebudayaan Lewat Gus Dur (2)

2 min read

Sebelumnya: Meneropong Kebudayaan Lewat Gus Dur (1)

Seni-seni tersebut bersingggungan dengan objek (kehidupan) yang terulang secara alamiah dan diterima oleh masyarakat. Sehingga menghasilkan pilar-pilar yang dijadikan sebagai tata peraturan di dalam masyarakat. Tata peraturan tersebut membentuk sebuah kebiasaan yang menginternalisasi ke dalam individu-individu khususnya dan masyarakat.

Dari sini kebudayaan bersifat inheren dan menunjukkan jati diri suatu komunitas, masyarakat atau satu bangsa tertentu. Jati diri yang merupakan ciri khas suatu komunitas, etnis, masyarakat berbeda antara satu dengan lainnya. Justru keberbedaan tersebut menjadi ciri khas yag dapat mempersatukan mereka. Ciri alamiah perbedaan tersebut tidak perlu disatukan “secara paksa” (sentralisasi). Sentralisasi terhadap kebudayaan akan mereduksi kebudayaan itu sendiri dan bahkan suatu tindakan yang tidak berkebudayaan. Pluralitas dari budaya akan mengalami stagnasi, dengan upaya penyatuan (sentralisasi tersebut).

Budaya juga mejadi salah satu regulasi yang pokok dalam masyarakat selain agama. Karena pada dasarnya masyarakat telah memiliki kebudayaan sebelum agama diturunkan dan didakwahkan ditempat tersebut. Indonesia merupakan negara yang mempunyai pluralitas budaya yang dijadikan sebagai salah satu media untuk mendakwahkan Islam. Contohnya para walisongo menggunakan kearifan lokal dalam menyebarkan Islam.

Seni wayang yang banyak digandrungi oleh masyarakat ketika itu dijadikan Sunan Kalijaga sebagai media dakwah. Sehingga masyarakat dengan lapang dada dapat menerima ajaran Islam. Sehingga konflik antara budaya dan agama bisa dihindarkan. Karena tidak semua kearifan lokal cocok dengan agama, begitupun sebaliknya.

Gus Dur merupakan salah satu pendakwah yang sekaligus sebagai ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 1982-1985 menggunakan budaya sebagai sarana dalam menyampaikan misi kemanusiaannya yang berasaskan nilai-nilai agama. Mengenalkan wajah Islam kedunia dengan wajah yang Rahmahtan li al-‘alamin. Bukan wajah islam yang garang dan formal.

Baca Juga  Pluralisme Gus Dur dan Urgensinya Terhadap Hubungan Antar Agama di Indonesia (1)

Gus Dur menyelami budaya-budaya dimasyarakat untuk melakukan pendekatan secara personal maupun komunal. Secara personal pernah dilakukan pada saat beliau menjabat sebagai Presiden, beliau sering berkunjung ke rumah Soeharto. Yang ketika itu Soeharto dalam posisi termarginalkan. Karena menurut Gus Dur tidak perlu membenci orang karena perilakunya. Pendekatan komunal pernah dilakukan Gus Dur dengan berdakwah (pengajian umum) dengan menggunakan bahasa yang mereka pakai. Pendekatan semacam ini untuk mendekatkan dengan lawan bicaranya. Sehingga apa yang disampaikan diharapkan bisa diterima dan diaplikasikannya.

Budaya orang jawa memiliki tepo seliro, tenggang rasa, gotong royong, pakewoh. Kearifan-kearifan lokal tersebut dapat melahirkan peradaban. Sebagimana yang dicontohkan Gus Dur, sering melakukan kunjungan (silaturrahmi) kepada berbagai kalangan. Hal tersebut merupakan salah satu budaya orang jawa untuk mempererat persaudaraan, dan tidak bertentangan dengan agama (Al-Muhafadzatu ‘ala al-qadim al-shalih, wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah). Selain berkunjung kepada orang yang masih hidup, Gus Dur juga sering berkunjung kepada orang yang telah meninggal (ziarah kubur).

Selain dengan merawat kebudayaan dengan perbuatan, Gus dur juga merawat dengan penuturan dan penulisan.  Gus Dur mengajak pembaca untuk bersama-sama merawat tradisi Indonesia. Karena dengan merawat dan melestraikan tradisi dapat memperkuat dan meneguhkan tanah air. Menjaga dan merawat adalah pekerjaan yang sangat berat.  Hal tersebut dipaparkan oleh Gus Dur. Namun tugas ini juga dapat mewujudkan peradaban Islam yang lebih beradab karena dibangun atas dasar kebersamaan. Modal ini penting di tengah kemajemukan bangsa Indonesia. Prinsip kebudayaan Gus Dur salah satunya bisa dilihat dari konsep Pribumisasi Islam. Karena konsep ini membidik arah kajiannya pada ketegangan kultural antara agama dan kebudayaan.

Baca Juga  Relasi Agama-Negara Ala Gus Dur: Mempertahankan Republik Bumi Hingga ke Surga (1)

Selain segudang kebaikan yang di sandarkan kepada diri Gus Dur, beliau juga seorang manusia yang tentunya tidak lekang dari kekurangan. Sedikit ketidak sempurnaan dari diri Gus Dur yang penulis lihat lewat karyanya yang bertemkan budaya dengan judul buku yang telah penulis sebutkan diawal tulisan. Dari segi gaya penulisan, logika yang beliau bangun meloncat-loncat (tidak runtut), sehingga kadang kali pembaca salah memahami Gus Dur. Jika yag dibaca hanya parsial karya dan perilakunya. Selain itu, Gus Dur belum memberikan perangkat pelaksanaan metodis bagaimana mengaplikasikan kebudayaan yang “terdesentralisasi” sebagaimana yang dicita-citakannya. (MMSM)

 

Faizatun Khasanah
Faizatun Khasanah Dosen (Pengajar Online) di FHISIP Universitas Terbuka Pamulang Tangsel .