Fachrul Dedy Firmansyah Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya

Orientalisme dan Liberalisme: Pengaruh Pemikiran Barat-Kristen Terhadap Pemikiran Timur-Islam

2 min read

Islam merupakan salah satu agama terbesar di dunia. Saat ini, pemeluk agama Islam telah mencapai angka 2 miliar yang tersebar di seluruh pelosok dunia (Putri, 2023). Besarnya Islam tentu saja tidak terlepas dari peran para Nabi dan ulama dalam gerilyanya menyebarkan agama monoteis tersebut. Ya, monoteis, sebab Islam hanya meyakini bahwa Allah Swt. adalah satu-satunya Tuhan yang patut disembah, seperti yang telah tercantum dalam bait pertama kalimat syahadat berbunyi:

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ

“Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan yang wajib disembah kecuali Allah.”

Agama Islam menjadikan Al-Qur’an sebagai kitab suci, sebab di dalamnya berisi Kalam-kalam Allah Swt. yang sifatnya mutlak, sehingga menjadikannya sumber hukum utama dalam Islam. Kitab suci tersebut diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. melalui malaikat Jibril, penyampai Wahyu. Kitab suci ini menjelaskan berbagai persoalan dalam berbagai zaman sebab Al-Qur’an bersifat Shalihun li kulli zaman wa makan.

Dewasa ini, Islam kemudian berkembang juga melalui para pemikir (cendikiawan) muslim, sehingga menciptakan corak baru dalam konteks pemikiran Islam. Salah satu produk dari persoalan tersebut, adalah lahirnya paham “Liberalisasi pemikiran Islam”. Paham tersebut digadang-gadang menjadi sebuah pembaruan dalam pemikiran Islam dengan memasukkan liberalisme yang justru tidak bersumber dari konsep inti keislaman (Tammam, 2016).

Paham Liberalisme menyebar di dunia Timur-Islam seperti Semenanjung Arabia, Albania, Suriah, hingga Mesir. Paham tersebut menjadikan orientalisme sebagai salah satu kendaraan praktis dalam memasuki dunia Islam. Para penganutnya melakukan penafsiran-penafsiran sepihak terhadap Al-Qur’an dan Hadis kemudian mengasumsikan paham tersebut seolah-olah menjadi Tajdid (pembaruan) dalam pemikiran Islam. Lalu, apa sebenarnya orientalisme dan liberalisme? Bagaimana pengaruhnya terhadap pemikiran Islam?

Mengenal Orientalisme dan Liberalisme

Baca Juga  Masker Menyadarkan Kita Bahwa Wajah Bukanlah Segala-galanya

Istilah Orientalisme sebenarnya merujuk pada sebuah epistemologi (asal-usul dan sumber pengetahuan) belahan dunia Barat tentang belahan dunia Timur. Orientalisme dilatar belakangi kecemburuan Barat terhadap kejayaan Timur-Islam di masa lampau, khususnya Arab-Islam pada abad 8 M hingga 11 M. Saat itu, bangsa Timur-Islam telah banyak mengembangkan kajian keilmuan filsafat Yunani, ilmu kedokteran, hingga ilmu astronomi, sedangkan bangsa Barat masih sibuk dengan pengembangan benteng-benteng perkasa.

Relasi antara Barat dan Timur ini terkesan tidak berimbang, sebab dunia Barat cenderung menyudutkan dunia Timur. Dalam motif Agama, bangsa Barat yang di satu sisi mewakili Kristen, memandang bahwa Islam merupakan sebuah agama yang sedari awal menentang doktrin-doktrinnya (Kristen). Dalam misi menyempurnakan millah (kepercayaan, agama) sebelumnya misalnya, tentu saja Islam banyak mengkritik agama Kristen yang lebih dulu terlahir.

Maka dari itu, ketika sarjana-sarjana Barat (Orientalis) mendirikan yayasan-yayasan misionaris (pendakwah, penyebar agama), misi utama yang dilakukannya adalah merampas keimanan seorang muslim dan menjadikannya berpindah haluan kepada Kristen. Jika saja misi tersebut tidak tercapai, maka setidaknya mereka bisa membuat muslim menjadi jauh dari Islam atau lebih jauh menjadi seorang yang tidak percaya kepada Tuhan (Atheis).

Dalam motif keilmuan, Timur-Islam lebih dulu berjaya di masanya, sehingga para Orientalis tertarik mendalami keilmuan-keilmuan yang telah dikuasai Timur-Islam, seperti dalam bidang sains dan teknologi. Saat itu barat belum memiliki apapun dalam hal keilmuan, sehingga tidak ada yang bisa dibanggakan.

Konsep orientalisme sebenarnya pertama kali diperkenalkan oleh Edward Said melalui bukunya berjudul “Orientalism, 1978”. Buku tersebut salah satunya berisi tentang kritikan Said terhadap cara yang dilakukan oleh Barat dalam merepresentasikan dunia Timur yang menganggap bahwa Timur berifat paternalistis, superior, dan kolonial. Dalam tulisan ini, orientalisme bertindak sebagai alat yang digunakan untuk mencapai tujuan lain, salah satunya Liberalisasi (baca: liberalisme) Pemikiran Islam.

Baca Juga  Indonesia dan Polemik Legalisasi LGBT

Liberalisme sebenarnya sangat identik dengan Barat-Kristen, sebuah ideologi yang menghendaki sebuah kebebasan. Ideologi ini merupakan kelanjutan dari sofisme, yakni sebuah sikap yang berpendapat bahwa kebenaran bersifat relatif. Liberalisme pernah ditentang habis-habisan di zaman Socrates, Plato, dan Aristoteles, namun kembali bernafas di era kejayaan Romawi. Namun, di zaman itu justru paham liberalisme dibawa masuk ke dalam dunia Islam, termasuk pemikiran.

Liberalisasi Dalam Pemikiran Islam

Pemikiran liberalisme dalam Islam adalah topik yang kontroversial dan masih menjadi yang tertinggi di kalangan para ulama dan pemikir Muslim. Ada yang menganggap bahwa liberalisme bertentangan dengan ajaran Islam, sementara yang lain berpendapat bahwa liberalisme dapat sejalan dengan nilai-nilai Islam yang mengajukan kebebasan individu dan kebebasan.

Pemikiran Islam liberal adalah aliran baru dalam pemikiran Islam yang muncul sebagai respon terhadap citra Islam yang terkait dengan kekerasan, radikalisme, dan terorisme. Aliran ini tekanan pada interpretasi yang lebih kontekstual dan humanis terhadap ajaran Islam, serta perang tafsir yang diskriminatif terhadap perempuan dan minoritas agama (Hakim & Omar, 2011).

Liberalisme dalam pemikiran Islam masih menjadi mendalam, karena terdapat perbedaan pandangan antara kelompok liberal dengan kelompok ketakutan dalam hal interpretasi dan aplikasi nilai-nilai liberal dalam konteks Islam. Sebagian ulama dan pemikir Muslim menolak pemikiran liberalisme dalam Islam karena dianggap bertentangan dengan prinsip-prinsip keagamaan yang telah ditetapkan selama berabad-abad (Dewi, 2022). Oleh karena itu, kebebasan dalam Islam bukan berarti bebas melakukan apa yang diinginkan, tetapi bebas melakukan sesuatu yang baik dan bermanfaat.

Dalam hal ini, pemikiran liberalisme dapat sejalan dengan nilai-nilai Islam yang mengajukan kebebasan individu dan kebaikan, asalkan diterapkan dalam batas-batas yang sesuai dengan prinsip-prinsip Islam.

Fachrul Dedy Firmansyah Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya