Fitzerald Kennedy Sitorus Alumnus Goethe-Universität Frankfurt am Main Jerman; Dosen Filsafat Universitas Pelita Harapan

Garis Pemisah antara Sains dan Filsafat dan Kematian Metafisika [Bag 2]

4 min read

Foto: thebiologist.rsb.org.uk
Foto: thebiologist.rsb.org.uk

Ungkapan “secara metodis abstrak” dan “secara tematis reduktif” di atas dapat diperjelas dengan contoh ilmu alam itu sendiri. Ilmu-ilmu alam dapat mencapai kemajuan luar biasa pada zaman modern berkat penerapan metode baru, yakni matematisasi fenomena alam. Artinya, fenomena alam ditangani secara matematis. Dengan metode ini, para saintis berusaha mengkonversi dimensi-dimensi kualitatif menjadi kuantitatif, sehingga dapat diukur. Misalnya, panas adalah sebuah dimensi kualitatif. Dalam ilmu alam modern, panas diukur secara kuantitatif melalui termometer dan kemudian dapat diungkapkan dalam bentuk angka-angka. Panas, yang tadinya kualitatif, menjadi kuantitatif.

Ini sesuai dengan prinsip G. Galileo (1564-1642) yang mengatakan: “semua yang dapat diukur, diukur secara kuantitatif, dan apa yang belum dapat diukur, diusahakan untuk dapat diukur”.

Metode matematisasi objek material ini membawa jenis observasi dan pengujian eksperimental yang baru: ilmu pengetahuan modern hanya mengenal alam dari sudut ke-dapat-diukur-annya (die Meßbarkeit, measurability); alam dilihat dalam bentuk yang telah selalu diukur. Inilah maksudnya bahwa sains melihat alam secara abstrak dalam bentuk yang telah direduksi secara metodis ke dalam sebuah model matematika. Alam dilihat dalam bentuk angka-angka.

Tapi, jangan lupa, alam itu sendiri bukan model matematika, bukan model angka-angka. Alam itu sangat kompleks. Tapi justru dengan itulah ilmu pengetahuan modern dapat berkembang dengan luar biasa, menghasilkan banyak temuan baru, yakni ketika ia melihat alam secara abstrak dalam model matematika (Anno Anzenbacher, Einführung in die Philosophie, 1981, hal 22-26).

Jadi, keterbatasan ilmu itu bukanlah sebuah kelemahan; justru itu adalah adalah kekuatannya. Justru karena sains terbatas dalam mendeskripsikan realitas maka kita juga harus menerima kompetensi bidang-bidang (ilmu pengetahuan) lainnya dalam melakukan hal yang sama.

Sejarah kemudian memperlihatkan bahwa cerita sukses ilmu-ilmu alam ini juga mempengaruhi bidang ilmu lainnya. Metode kuantitatif ilmu alam kemudian diterapkan untuk ilmu-ilmu lainnya, termasuk ilmu sosial dan ilmu humaniora.

Keberhasilan itu juga membuat sains menjadi sedemikian percaya diri, seakan-akan ia berhak untuk berjalan sendiri, dengan logikanya sendiri, dengan mengabaikan konteks sosial di mana ia berdiri. Sains menjadi tercerabut dari dunia kehidupan (Lebenswelt). Ini kemudian menjadi latar belakang munculnya kritik terhadap sains, antara lain dari seorang ahli matematika dan filsuf, yakni Edmund Husserl. Ini juga disinggung oleh Mas GM dalam tulisannya.

Baca Juga  Beberapa Hadis tentang Keutamaan Puasa

Kritik Husserl terhadap Sains
Anehnya, krisis sains itu bersumber justru dari hal yang memberikan dia keunggulan. Sains berkembang karena bantuan matematika, terutama geometri.

Di atas kita sudah melihat bagaimana Galileo menekankan bahwa segala sesuatu harus dapat diukur. Galileo meyakini bahwa satu-satunya jenis kepastian yang bisa diandalkan dan dipercaya sepenuhnya hanyalah matematika. Karena itu, ia memisahkan secara definitif antara ilmu fisika dan filsafat; dan sejalan dengan pemisahan itu, ia juga memisahkan secara tegas antara kualitas-kualitas objektif-primer dan kualitas subjektif-sekunder. Yang penting hanyalah kuantitas primier seperti ukuran, bentuk, bilangan dan kecepatan, sementara kualitas sekunder seperti warna, suara, bau tidak relevan.

Galileo juga menolak otoritas apapun sebagai kriteria kebenaran, selain observasi, eksperimen dan rasio matematis. Galileo yakin bahwa kompleksitas alam nyata yang berubah-ubah dan kontradiktif bisa dipahami berdasarkan hukum fisika-matematik yang sederhana. Tanpa matematika, orang akan terlunta-lunta dalam labirin gelap, katanya.

Menurut Galileo, geometri memungkinkan manusia mengatasi relativitas interpretasi subjektif yang sangat mendasar dalam dunia empiris. Dengan geometri kita memperoleh kebenaran yang identik, mutlak dan dapat diterima oleh setiap orang yang mengerti dan dapat menggunakan metode tersebut. Sejalan dengan konsep Plato mengenai adanya dunia ideal, Galileo mengatakan bahwa matematika akan membebaskan pikiran dari sensasi, dan mengakrabkannya dengan dunia pikiran murni serta membawa jiwa ke dalam ketinggian dunia idea. Geometri adalah pengetahuan mengenai hal-hal yang abadi. Kebenaran geometri itu sah secara absolut untuk semua manusia, untuk semua zaman, semua orang, dan bukan hanya menyangkut hal-hal faktual historis, tapi juga bagi segala sesuatu yang bisa dipahami. (lihat “Asal-Usul Gemoteri” dalam die Krisis der europäischen Wissenschaften und die transzendentale Phänomenologie, hal. 18 dst)

Ilmu berkembang karena bantuan matematika atau lebih tepat geometri. Dengan geometri, maka sains melakukan geometrisasi dunia kehidupan, semua diukur dalam kategori-kategori matematis. Namun kolaborasi antara sains, matematika dan geometri ini kemudian menimbulkan transformasi lebih jauh lagi, yang disebut Husserl dengan aritmetisasi geometri. Dengan kolaborasi tersebut, segala proses kerja geometri tidak lagi dilakukan secara geometris (melalui konsep-konsep spasio-temporal), melainkan secara aritmetis, yakni dengan simbol-simbol matematis. Bila sebelumnya terjadi proses geometrisasi dunia kehidupan, kini meningkat menjadi aritmetisasi geometri, bahkan aritmetisasi dunia kehidupan.

Baca Juga  Upaya Ormas Muhammadiyah Menggalakkan Kesadaran Ekologis melalui Gerakan Eco-Green dan Pendidikan Lingkungan.

Bila dalam geometri, misalnya, bumi digambarkan sebagai benda bulat (dan kebulatan bumi di sini tentu sangat ideal, sesuai dengan ide tentang kebulatan bumi), dengan aritmetisasi geometri, bumi cukup digambarkan dalam angka-angka. Tinggi sebuah gunung tak perlu lagi digambarkan, cukup dikatakan dalam angka. Benda panas tidak lagi dilihat sebagai benda panas, melainkan cukup dalam skala sekian derajat, suara diukur dengan satuan tertentu. Ini tak lain dari aritmatisasi dunia kehidupan. Singkatnya semua kualitas subjektif atau mental dimatematisasi dan direduksi ke dalam simbol-simbol numerik. Formalisasi universal inilah yang mengakibatkan sains terasing dari dunia dan yang kelak mengakibatkan hilangnya makna kehidupan (Sinnentleerung). Sains mereduksi dunia kehidupan ke dalam angka-angka, dan tercerabut dari dunia kehidupan. Inilah krisis yang dimaksud oleh Husserl. (Die Krisis, hal. 45)

Di sini saya tidak berbicara mengenai kritik filsuf Martin Heidegger terhadap sains dan ilmu pengetahuan. Cukuplah dikatakan bahwa sekarang ini tak ada lagi bagian dunia kehidupan sekarang yang tidak dipengaruhi atau ditentukan oleh sains dan teknologi. Dulu teknisisasi dunia kehidupan itu berlangsung melalui sains (Technisierung durch Wissen), tapi sekarang yang terjadi adalah teknisisasi sains itu sendiri (Technisierung des Wissen selber). Artinya, sains berkembang sedemikian rupa untuk melayani kepentingan teknologi; sains menjadi pelayan teknologi, dan bukan lagi melayani manusia. (Philosophie und Wissenschaft, hal. 65).

Filsafat
Bagaimana dengan filsafat? Berbeda dari sains, filsafat tidak bersifat empiris, tidak reduktif secara tematis dan juga tidak abstrak secara metodologis. Filsafat memang bertolak dari pengalaman empiris, tapi ia justru menantang dan melampaui pengalaman empiris. Filsafat juga bertolak dari akal sehat tapi ia bergerak melampau akal sehat. Pengetahuan akal sehat adalah pengetahuan yang kebenarannya kita terima begitu saja, tanpa dibuktikan dan tanpa dipertanyakan, berdasarkan kebiasaan atau pengalaman sehari-hari. Filsafat menyadari bahwa pengetahuan akal sehat itu sering tidak sehat.

Objek material filsafat adalah keseluruhan kenyataan, bukan hanya bagian tertentu dari kenyataan, sebagaimana sains. Filsafat mempertanyakan dan menjadikan apa saja sebagai bahan refleksinya. Heidegger berfilsafat tentang alat-alat. Hegel dan Kant berfilsafat tentang Tuhan (Filsafat Ketuhanan). Semua hal dapat menjadi objek refleksi filsafat. Bahkan ketiadaan (nothingness) itu sendiri. Leibniz, Heidegger dan Hegel misalnya merefleksikan ketiadaan dengan mendalam. Di Kyoto, Jepang, bahkan ada Kyoto School of Nothingness. Mereka meneliti segala hal mengenai ketiadaan, termasuk struktur ketiadaan itu sendiri. Ini kemudian menimbulkan pertanyaan khas filsafat: kalau ketiadaan memiliki struktur, dan bahkan dapat diteliti, apakah ketiadaan itu masih ketiadaan? Apa itu ketiadaan. Itulah kekhasan filsafat sesuai dengan objek materialnya.

Baca Juga  "Ngelmu Syahadat” (1): Kesedihan sebagai Jalan Pengetahuan

Apa objek formal filsafat? Tidak lain dari sudut pandang yang sedalam-dalam dan seradikal-radikalnya. Filsafat merefleksikan objek materialnya secara sangat mendalam dan radikal. Jadi, kalau sains bertolak dan berhenti pada pengalaman empiris, filsafat bertolak dari pengalaman empiris dan melampaui pengalaman empiris itu. Filsafat tidak puas hanya di permukaan, ia ingin mencapai struktur terdasar dari sesuatu (ontologi).

Filsafat juga tidak reduktif dari segi tema. Sebelumnya telah dikatakan bahwa filsafat selalu berusaha memahami segala sesuatu secara mendalam dan total. Oleh karena itu, filsafat selalu mencari jawaban hingga ke wilayah non-empiris. Tidak seperti sains yang mau tidak mau terbatas pada pengalaman empiris, filsafat itu tidak pernah puas hanya dengan mengetahui aspek tertentu saja, melainkan harus keseluruhan dari aspek yang diteliti itu, termasuk syarat-syarat kemungkinannya. Itu yang membuat filsafat menjadi ilmu yang mendalam dan menyeluruh. Karena itu, filsuf Jerman Karl Jasper pernah berkata secara agak paradoksal bahwa filsafat memiliki die Spezialität des Allgemeinen. Artinya, spesialisasi filsafat adalah yang umum.

Filsafat juga tidak abstrak secara metodologis. Kalau sains hanya meneliti apa yang dimungkinkan oleh metode yang digunakannya, tidak demikian halnya dengan filsafat. Bagi sains, metode itu seperti alat yang digunakan untuk menganalisis objek yang ditelitinya; alat itu membatasi apa yang diteliti dan bagaimana penelitian itu berlangsung.

Sebaliknya, filsafat tidak asbtrak karena ia tidak mengandaikan metode. Filsafat langsung merefleksikan secara rasional objek yang ditelitinya dan kemudian menentukan metode yang digunakan untuk menganalisis objek itu. Yang lebih berperan dalam filsafat adalah kekuatan argumentasi. Justru karena filsafat tidak dibatasi oleh metode, maka ia dapat melahirkan metode-metode refleksi yang baru, misalnya fenomenologi, kritisisme (Kant) atau dialektika. Metode-metode ini kemudian sering dipinjam oleh sains. [MZ]

[Bersambung]

Fitzerald Kennedy Sitorus Alumnus Goethe-Universität Frankfurt am Main Jerman; Dosen Filsafat Universitas Pelita Harapan