Haerunnisa Haerunnisa Mahasiswi Prodi Ilmu Al-Quran dan Tafsir, IAIN Samarinda

Radikalisme No, Moderatisme Yes

1 min read

sumber: monitorday.com

Radikalisme bisa diartikan sebagai paham atau aliran yang menginginkan perubahan sosial dan politik dengan cara kekerasan. Dilansir dari buku Islam Radikal dan Moderat karya Abdul Jamil Wahab, ada beberapa penjelasan terait latar belakang lahirnya gerakan radikal.

Pertama, adanya paham takfiri, yaitu sikap memutlakkan pendapat kelompoknya sebagai yang paling benar dan menuduh pihak lain telah kafir sehingga harus diperangi.

Kedua, reaksi terhadap masalah-masalah yang mengiringi modernitas, yang dianggap keluar dari ajaran Islam.

Ketiga, kekacauan politik di beberapa negara dalam konteks transisi menuju demokrasi. Instabilitas itu dianggap karena telah menerapkan sistem demokrasi sekuler, sebaliknya sistem Islam dianggap akan lebih menjamin stabilitas. Dengan situasi seperti itu, tidak ada jalan lain, kecuali dengan perjuangan politik dengan sentimen ideologi keagamaan.

Radikalisme sangat kompleks dan membutuhkan penanganan ekstra hati-hati. Apalagi, ada indikasi bahwa radikalisme selalu berujung pada terorisme. Di sana ada hasrat membalikkan kenyataan dengan mimpi yang diidamkan, tapi pada kenyataannya berbenturan dengan realitas kokoh yang telah diamini masyarakat dan tidak mudah dirobohkan. Hal demikian dapat menjadikan seseorang, atau kelompok, memilih cara teror untuk mengekspresikan keinginannya. Melalui upaya itu, mereka berharap bisa menebar ketakutan di masyarakat, mengganggu stabilitas keamanan, dan mencari simpati dan dukungan publik.

Gerakan Islam radikal melahirkan polarisasi keagamaan di masyarakat, terutama munculnya reaksi kontra dari kelompok Islam moderat. Penolakan tersebut muncul karena, salah satunya, gerakan Islam radikal dianggap mengarah pada dekonstruksi nilai-nilai kebangsaan dan ideologi negara. Radikalisme dipercaya sebagai bentuk penolakan terhadap paham kebangsaan, NKRI, Pancasila, serta UUD 1945.

Gerakan Islam radikal juga melakukan rekrutmen melalui dakwah di media elektronik, kampus, dan masjid-masjid. Radikalisme mengaburkan eksistensi paham keagamaan yang telah lama dipahami dan diyakini masyarakat, sehingga memunculkan ketegangan-ketegangan. Oleh karena itu, kelompok Islam moderat menolak dengan tegas kehadiran Islam radikal.

Baca Juga  Meneladani Nilai-nilai Etika Sosial Gus Dur

Dalam konteks ini, moderasi Islam dipercaya mampu menjawab problem keagamaan maupun masalah-masalah global. Moderatisme Islam dianggap mampu menjawab ancaman dan tantangan kelompok radikal, ekstrimis dan puritan dengan cara-cara yang damai.

Moderasi beragama (Islam) diperlukan karena sikap ekstrem dalam beragama tidak sesuai dengan esensi ajaran agama. Perilaku ekstrem atas nama agama dapat mengakibatkan benih-benih konflik, kebencian, intoleransi, dan bahkan peperangan. Sikap-sikap seperti itulah yang perlu dimoderasi.

Moderasi beragama adalah upaya mengembalikan pemahaman dan praktik beragama agar sesuai dengan esensinya, yakni untuk menjaga harkat, martabat, dan peradaban manusia. Agama tidak boleh digunakan untuk hal-hal yang justru merusak peradaban, sebab sejak diturunkan, agama pada hakikatnya ditujukan untuk membangun peradaban.

Pemahaman Islam radikal memiliki pengaruh negatif yang nyata, seperti paham kontra-demokrasi, tindakan asosial, aksi terorisme, dan perbuatan melawan hukum. Radikalisme agama (Islam) mengganggu stabilitas lokal, nasional, maupun global. Oleh karena itu, dibutuhkan langkah komprehensif dan keterlibatan semua pihak, untuk memotong seluruh variabel yang menjadi stimulus lahir dan berkembangnya radikalisme keagamaan. Gerakan kontra radikalisme tidak hanya bersifat top-down tapi juga harus buttom-top. []

Avatar
Haerunnisa Haerunnisa Mahasiswi Prodi Ilmu Al-Quran dan Tafsir, IAIN Samarinda