Ali Yazid Hamdani Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Belajarlah dari Masa Lalu Wahai Pejuang Khilafah

2 min read

Mengapa khilafah begitu didambakan kehadirannya? Mengapa ketika kejadian demi kejadian melanda, krisis ekonomi, ketidakadilan yang merebak, ketimpangan sosial, dan bahkan untuk urusan bencana alam pun turut dijadikan dalih sebagai bentuk ketidaksetujuan alam atas sistem demokrasi yang dianggap produk pemikiran kafir, sehingga sering muncul kalimat “itulah sebabnya Allah senantiasa mengazab lantaran bukan khilafah yang ditegakkan”.

“Apapun masalahnya, khilafah solusinya”, kira-kira demikian yang terus digegap-gempitakan.

Disadari atau tidak, di samping kemajuan dan puncak kejayaan yang tercapai dengan sistem khilafah ini juga berisi seluk-beluk busuknya pula, deretan peristiwa kelam, dan tragedi pembunuhan yang merebak di mana-mana. Paling-paling yang terus didambakan adalah pada masa Umar Ibn Abdul Aziz pada masa Bani Umayyah dan Harun ar-Rasyid saat Bani Abbasiyah yang terus diceritakan dan terus melegenda menjadi unsur romantismenya sendiri.

Tapi, sekali lagi mengapa tidak pula melirik peristiwa tragis nan kejam yang turut menemani ke-khilafah-an?

Jika kita melihat peta historis kekhalifahan, baik yang Umayyah maupun Abbasiyah banyak melayangkan nyawa begitu saja, banyak tragedi demi tragedi harus diselesaikan dengan pertumpahan darah, kepala lepas dari badan, ajang pembalasan dendam terus bergulir, bila tidak membunuh yang jelas akan dibunuh, yang beroposisi pun jangan harap hidup tenang.

Dalam pemilihan tampuk kepemimpinan pun dilakukan sepihak tanpa melibatkan rakyat, alhasil kepemimpinan pun jatuh lewat jalur keturunan (nasab) nepotisme bukan hal asing lagi, tempo kepemimpinan yang tak memiliki batas, selama ia masih hidup selama itu pula ia memimpin. Ada yang hingga 19 tahun-an menjabat, bahkan ada yang hanya sekedar 3 bulan sebagaimana dialami khalifah Muawiyah Ibn Yazid (Muawiyah II), dan beberapa lainnya juga beragam durasi kepemimpinannya yang berbeda dengan lainnya. Sehingga yang terjadi ketika perebutan kursi kekhalifahan pun dibayar dengan nyawa melayang.

Baca Juga  Radikalisme No, Moderatisme Yes

Khalifah yang pernah menjabat di era Umayyah, meninggal dunia dengan cara yang tidak wajar, alias mati dibunuh. Hanya segelintir dari sekian banyak khalifah yang meninggal dunia secara wajar dan dapat dihitung jari. Pembunuhnya pun bukan oleh orang asing tapi oleh kerabat dekat sendiri yang dilakukan secara terstrukur bagi mereka yang ingin merengkuh kekuasaan.

Hal ini pun juga berlaku kepada para khalifah Abbasiyah, yang juga melegalkan segala cara hanya demi meraih kekuasaan, tidak peduli berapa nyawa melayang, tiada kawan lawan yang setia kecuali kepentingan, dan yang terpenting tujuan di genggaman.

Kita lihat bagaimana Umayyah berkuasa selama 80 tahun, di penghujung kekuasaannya sebelum Abbasiyah berkuasa secara de facto menggantikan Umayyah, betapa banyak nyawa terenggut sia-sia, bagaimana Abu al-Abbas misalnya sebagai khalifah pertama Abbasiyah yang dijuluki as-Shaffah ini membantai habis-habisan keluarga, semua kolega dan pendukung bani Umayyah kesemuanya.

Dan agenda berikutnya as-Shaffah mengadakan jamuan makan dengan mengundang sisa-sisa keluarga bani Umayyah, sekitar 90 orang dijamu makan hingga akhirnya dibunuh, bahkan mayat yang masih menggelepar tersebut ditutupi permadani, sementara as-Shaffah beserta keluarganya melanjutkan pernjamuan makan malamnya di atas permadani. Hal ini terekam dalam kitab Ibn Atsir yang bertajuk al-Kamil fi at-Tarikh, yang juga dikutip Gus Nadir dalam buku Islam Yes, Khilafah No, Jilid 2 (Lihat, hal: 14)

Hampir kesemua tindakan yang terjadi, menemukan dalil teologis untuk menyokong perbuatan yang dilakukan, betapapun tindakan tersebut melayangkan sebuah nyawa secara cuma-cuma, semua menggunakan dalih membela keadilan atas nama Tuhan.

Hal ini tak jauh berbeda dengan para khilafahers zaman now, yang juga tak kalah nyentrik dan lihai menggunakan sebuah ayat dan hadis untuk memperoleh legalitas kebenaran atas tindakan yang telah dilakukan. Karena menjual ayat, laku keras di pasaran.

Baca Juga  Ulama Itu Adalah Kekasih Allah

Mengapa kita tidak belajar dari masa lalu?

Bahkan seorang sejarahwan De Lacy O’leary mengutarakan statemen menyudutkan dengan membidik bagaimana kehidupan negara yang mengklaim sebagai negara Islam yang terus melakukan peperangan. Lihat saja Suriah dan beberapa negara Islam lainnya kerap kali dekat dengan desas-desus konflik yang tiada kunjung henti. Sehingga jangan salahkan jika Barat atau non Islam lainnya mengganggap Islam sebagai agama yang melahirkan teroris, karena demikian lah yang mereka temukan. Meski ini juga kesimpulan yang problematis, begitu tersegesa-gesa, dan tidak juga benar.

Ahhh! orientalis kok malah dikutip? Jikalau anda ingin benar-benar mendalami dan Ngepoin beragam peristiwa yang tengah dialami pada masa khilafah, dari prestasi hingga tragedi, bahkan untuk peristiwa yang kelam sekalipun, seperti peperangan antar saudara, membunuh dan dibunuh, kepala menggelinding terpisah dari tubuh, dan berbagai macam kekejaman lainnya.

Bisa dilihat potret historisnya di kitab klasik Tarikh at-Tabari, al-Kamil fi al-Tarikh, al-Bidayah wa al-Nihayah li Ibn Katsir, dan Tarikh al-khulafa’ karya Imam Suyuthi. Kesemuanya ulama terkenal yang diakui kepakarannya terkhusus kalangan sunni. Atau untuk yang menggunakan Bahasa Indonesia bisa melihat di Buku Islam Yes, Khilafah No, Jilid I dan II karya Nadirsyah Hosen yang tidak kurang kutipan naskah klasik dan catatan argumen kritisnya.

Bukankah Nabi telah memberi arahan pada kita bagaimana sikap seorang muslim agar senantiasa tidak jatuh di lubang yang sama? Mari ambil yang baik dari kekhalifahan yang telah lalu, dan tinggal yang tak baik, kalau kata ahli menyatakan “خُذْ مَا صَفَا، دَعْ مَا كَدَرَ” yang berarti “ambil yang baik, tinggalkan yang buruk” harapan agar terhindar dari problem dan konflik yang sama untuk kehidupan lebih baik di masa mendatang. (mmsm)

Baca Juga  Bagaimana Sebenarnya hubungan Agama Dan Sains yang Saling Mendukung?

Wallahu a’lam bi al-Shawab

Ali Yazid Hamdani Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta