Budi Handoyo Dosen Prodi Hukum Tatanegara STAIN Teungku Diruendeng Meulaboh

Memahami Nilai Ikhlas Sebagai Ruh Agama

2 min read

Manusia terdiri dari jasad dan ruh begitu juga dengan agama terdiri dari unsur fizkal dan unsur spiritual. Adapun materi atau jasad dari agama itu adalah berbentuk amal baik dalam bentuk ibadah maupun bentuk muamalah. Adapun ruh dari agama itu sendiri adalah ikhlas yang terkandung didalam amal itu sendiri.

Namun kebanyakan manusia mengabaikan nilai ikhlas dalam melaksanakan amal ibadah. Seumpana kita ambil contoh, seseorang mengerjakan shalat baik shalat fardhu maupun shalat sunnah secara presentasi hampir 90% mengharapkan imbalan dari Allah Swt. Apabila keinginan doa nya tak terpenuhi ia menjadi malas untuk shalat lagi. Begitu juga dalam muamalah seseorang bersedekah pada hatinya pasti mengharapkan fadhilah dari sedekah itu.

Kenapa bisa demikian? Karena kita mengerjakan amal ibadah maupuan amal muamalah secara fisik [lahiriyah] ibarat kerangka tanpa ada ruhnya. Maka untuk itu, pentingnya kita mempelajari ilmu tasawuf agar memahani nila-nilai keikhlasan yang dapat membersihkan amalan kita dari segala sesuatu selain Allah. Mengenai keutamaan ikhlas Allah Swt berfirman:

إلا لله الدين الخالص

Ingatlah hanya kepunyaan Allah lah agama yang ikhlas/ bersih (QS. Az-Zumar: 3)

Rasullullah Saw bersabda;

إن الله لا يقبل من العمل إلا ما كان خالصا وابتغي به وجهه

Sesungguhnya Allah tidak akan menerima amal, kecuali jika dikerjakan dengan Ikhlas semata-mata untukNya dan mencari RidhaNya. (HR. Abu Daud dan Nasai)

إن الله لا ينظر إلى أجساد كم ولا إلى صور كم ولكم ينظر إلى قلة بكم

Sesungguhnya Allah tidak akan melihat jasad dan bentuk tubuh kalian. Akan tetapi Allah akan melihat hati kalian (HR. Muslim)

Ulama-ulama Sufi menjelaskan tentang ikhlas ini diataranya, Imam Ibnu Athaillah Al-Sakandari, menerangkan;

Baca Juga  Tentang Hidayah Tuhan yang Selalu Menjadi Misteri

الأعمال صورة قائمة، وار واحها وجود سر الإخلاص فيها.

Amal-amal lahiriah itu merupakan gambaran-gambaran yang berdiri (ibarat kerangka), sedangkan ruhnya ialah keikhlasan yang terdapat dengan tersembunyi di dalam amalan itu.

Segala amal kebajikan apapun ibarat gambaran-gambaran berbentuk kerangka atau kosong dari ruh [jiwa], maka tidak ada artinya bahkan tidak ada manfaatnya sama sekali, sebagai mana juga kebalikannya yakni ada ruh tetapi tidak ada wadahnya. Oleh karena itu amal ibadah yang diterima Allah Swt buat persiapan di akhirat nanti, amal-amal ibadah yang mengandung keikhlasan di dalammya. Syaikh Ahmad bin Muhammad Al-Ajibah Al-Hasani mendefenisikan makna ikhlas dan tingkatannya, yaitu:

الإخلاص : إخراج الخلق مح معاملة الحق. وأفراد الحق تعالى في ألظاعة بالقصد.  أو غيبة القلب عن غير الرب. فاخلاص العامة تصفية الأعمال عن ملاحظة المخلوقين. وإخلاص الخاصة : تصفيتها عن طلب العوض في الدارين. وإخلاص خاصة الخاصة: التبري من الحول والقوة، ومن رؤية الغير في القصد والحركة حتي يكون الممل بالله وإلى الله غائبا عما سواه.

İkhlas adalah mengeluarkan makhluk dan segala sesuatu selain Al-Haq dalam beribada bermuamalah kepada Al-Haq. Mengeesakan Al-Haq dalam segala ketaatan kepada-Nya. Melenyapkan di dalam hati segala sesuatu selain Allah.

İkhlas terbagi menjadi tiga; Pertama, ikhlas awam membersihkan segala amal dari tujuan-tujuan selain Allah. Kedua, ikhlas khawas adalah membersihkan segala Perbuatan dari mengharapkan pahala baik di dunia dan akhirat. Ketiga, ikhlas khawasul khawash adalah membebaskan diri dari memandang dan keteguhan hati untuk berpaling kepada selain Al-Haq. Ikhlas dalam tingkatan ketiga ini meyakini bahwa segala amal dilakukan bersama-Nya datang dari-Nya menuju kepada-Nya. Bersama-Nya ia meleburkan dan melenyapkan selain-Nya.

Hal senada juga di jelaskan oleh, Allamah Abdul Madjid Al-Syarnubi, orang ikhlas terbagi kedalam tiga tingkatan; Pertama, ikhlas Al-Ibaad yaitu ikhlas orang-orang  yang menyembah Allah. Ikhlas mereka adalah dengan menyelamatkan amal ibadahnya dari riya, baik riya jali/ secara terang-terangan ataupun riya khafi/yang tersembunyi dan juga menyelamatkan amal ibadah dari setiap hal yg mengandung unsur hawa nafsu, mereka tidak melakukan amal ibadah melainkan hanya karena Allah semata, menggapai pahala dan berlindung dari siksa, semua itu di sertai perbandingan amal ibadah kepada mereka dan sandaran pada amal yg mereka perbuat dalam mendapatkan semua ganjaran pahala.

Baca Juga  [Resensi] Ketika Faraj Fouda Menggugat Sejarah yang Mapan

Kedua, Ikhlas Al-Muhibbiin yaitu ikhlas orang-orang yangg mencintai Allah. Ikhlas mereka adalah melakukan amal ibadah semata-mata karena Allah, karena meluhurkan dan menggunggkan Allah berlandaskan cinta, dan bukan bertujuan mengharapkan imbalan/upah dan berlindung dari siksa, oleh karenannya Asy-Syekhna Rabi’ah Al-‘Adawiyah berkata:

“Aku melakukan amal ibadah bukan karena takut dari siksa neraka-Mu atau berharap pahala nikmat syurga-Mu, akan tetapi aku melakukan amal ibadah karena Allah Ta’ala dan karena mengagungkan-Nya.

Ketiga, Ikhlas Al-Muqarrabiin. Yaitu ikhlas orang tenggelam/fana kepaa Allah. Ikhlas mereka adalah Syuhud/penyaksian mereka akan Keesaan Allah yang Haq sebab segala gerak dan diam mereka berasal dari Iradah Allah Ta’ala, tanpa melihat adanya daya dan kekuatan pada diri mereka di segala kesempatan, mereka tidak melakukan amal ibadah melainkan dengan pertolongan Allah, bukan dengan daya dan kekuatan mereka, dan ini tingkat ikhlas yang lebih tinggi dari tingkat sebelumnya.

Maka demikianlah pentingnya ikhlas di dalam agama, agar spirit agama yang kita lakukan dapat berkualitas disisi Allah.  Melaksanakan ikhlas memang sangat berat, gampang diucapkan namun sulit untuk di praktekan. Seseorang tidak bisa melaksanakan ikhlas dengan baik sebelum ia masuk ke rana tasawuf dengan menekuni praktek-praktek tarekat sufi dibawah bimbingan seorang guru spiritual, untuk memperoleh kemantapan dalam beribadah dan mudah melakasnakan ikhlas.

Demikanlah apabila umat Islam telah betul-betul melaksanakan dan mengaplikasikan nilai-nilai keikhlasan dengan baik maka segala aktivitas amali akan menjadi baik (mmsm)

Budi Handoyo Dosen Prodi Hukum Tatanegara STAIN Teungku Diruendeng Meulaboh