Hakim Jayli Alumnus PP Miftahul Huda Gading Pesantren Malang, CEO TV9 Nusantara

Kiai, Santri, dan Ayam Jagonya

1 min read

Sembuh tak harus via sentuhan tangan dingin dan resep dokter. Orang pesantren sangat yakin, setiap sakit akan ada obatnya. Kullu Dain, Dawaun. Lebih dari itu, bila kebetulan lagi sakit, maka para santri yakin, bahwa dia sedang menjalani ujian Tuhan. Maka kalau Allah yang mengujinya dengan sakit, maka Allah pulalah yang akan menyembuhkan. Di al-Qur’an ayatnya begini: Fa idza maridltu, fahuwa yasyfin. Bila aku sakit, maka Allah yang akan menyembuhkan.

Simpel bukan? Sebagai sub’kultur, maka masyarakat santri tampak seperti ‘seadanya’ soal berobat. Belakangan sudah banyak yang menggunakan pendekatan medis. Walau belum bisa sepenuhnya meninggalkan pengobatan tradisional (jamu dan sejenisnya) serta pengobatan ‘alternatif’ minta air (suwuk), berkah surah al-Fatihah dan doa para Kiai.

Seperti kisah ini. Saya mendengarnya sendiri dari Gus Munir, Jombangan Pare Kediri. Kisah tentang seorang santri dari Madura, namanya Saipul menghadap ndalem (kediaman) Kiai dengan membawa ayam jagonya, yang sedang ‘kritis’. Jadi yang sakit itu, bukan dia sendiri. Tapi, ayamnya! Beneran? Tanya Gus Munir, sana… hehe…

“Ayam saya mohon didoakan, agar sembuh, Kiai,” pintanya memelas, sambil menunduk. Satu butir air mata jatuh menerpa bulu ayam jago di pangkuannya.

Kiai pun iba dibuatnya.
“Ndi, kene…!” jawab Kiai, tanoa babibu lagi, sambil meminta ayam Jago itu.

“Bismillahirrahmanirrahim.”
Kiai memulai…

“Tiiik, Pitiiiik. Nek iso waras, waraso. Nek gak iso waras, ndang matio…!”
(Hai Ayam, kalau bisa sembuh, sembuhlah, kalau tidak, ya mati saja!)

Saipul yakin dengan doa dan mantra dari Kiai. Dia memang tak memahami artinya, tapi diam-diam menghafalnya..

Keesokan hari, Saipul datang dengan wajah berbinar. Ayamnya sembuh. Tapi dia mendadak tergambar rona sedih di wajahnya. Kenapa? Dilihatnya Sang Kiai sedang rebahan lemas, di kursi tamu.

Baca Juga  Kang Madari Mau Terbang

“Saya sakit, Pul. Gimana Ayammu?”
“Alhamdulillah. Berkat doa kiai, sekarang sembuh, Kiai.”

Saipul pelan-pelan merengsek mendekat ke Kiai yang sedang rebahan. Dan Saipul memberanikan diri membalas kebaikan Kiai.

“Bismillahirrahmanirrahim” Saipul memulai doanya, menirukan sang Kiai, sehari sebelumnya. Walau awalnya kaget, Kiai diam saja, membiarkan Saipul beraksi.

Dengan suara lebih keras, Saipul melanjutkan:

“Tiiik, Pitiiiik. Nek iso waras, waraso. Nek gak iso waras, ndang matio…!”

Kiai tersentak, tak menyangka senjata makan tuannya sendiri.
“Iyo, iyo pul. Aku waras!”
Kiai langsung beranjak dari kursi, bergegas sehat seperti sedia kala.
Dan Saipul pun bahagia walau heran juga, kenapa mantranya semanjur ini.

Tuh, kaan..
Energi humor bisa juga menyembuhkan. [MZ]

Hakim Jayli Alumnus PP Miftahul Huda Gading Pesantren Malang, CEO TV9 Nusantara

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.