Hanifah Nur Azizah Mahasiswi UIN Raden Mas Said Surakarta

Dari Penentang ke Pendukung: Kisah Umar bin Khattab Masuk Islam

1 min read

Umar bin Khattab lahir tiga belas tahun setelah tahun gajah. Sebelum masuk Islam, Umar dikenal sebagai salah satu tokoh yang paling menentang seruan Nabi Muhammad. Umar baru masuk Islam pada tahun keenam kenabian.

Pada waktu itu Umar berusia dua puluh tujuh tahun. Suatu hari yang amat panas, Umar keluar dari rumahnya dengan pedang terhunus di tangannya bermaksud membunuh Rasulullah.

Di tengah perjalanan, Umar berpapasan dengan Nu‘aimibn ‘Abdullah al-Nizham, yang saat itu telah masuk Islam, tetapi menyembunyikan keislamannya karena khawatir akan diusir oleh kaumnya.

Keduanya lalu berdebat hingga nada bicara mereka mulai meninggi. Nu‘aim mengatakan, “Aku beritahukan kepada engkau, wahai Umar, bahwa keluargamu dan iparmu juga telah masuk Islam dan meninggalkanmu sendirian dalam kesesatan.” Umar bertanya, “Siapakah keluargaku yang kau maksud?”

Nu‘aim menjawab, “Saudara iparmu yang juga sepupumu, Sa‘id bin Zaid ibn ‘Amr, dan saudara perempuanmu, Fathimah binti al-Khattab.” Setelah mendengar itu, Umar pun naik pitam dan langsung menuju rumah mereka.

Saat itu mereka sedang membaca sebuah lembaran Al-Qur’an  bersama sahabat Nabi Khabbab ibn al-Arats. Ketika Umar telah masuk, Fathimah melihat wajahnya penuh kemarahan, dan segera menyembunyikan lembaran itu di bawah pahanya.

Umar berkata, “Suara apakah yang tadi aku dengar dari kalian?” Saat itu mereka sedang membaca surah Taha. Umar kemudian mengambil lembaran tersebut dan membaca ayat tersebut.

Setelah membacanya, Umar pun merasakan damai dan tenang di hatinya. Lantas Umar ingin menemui Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam di rumah al-Arqam. Waktu itu Nabi Muhammad sedang melaksanakan dakwah secara sembunyi-sembunyi di rumah al-Arqam.

Sesampainya di sana, para sahabat yang berada di dalam rumah al-Arqam pun menjadi ketakutan, kecuali Hamzah bin Abdul Muttalib, paman Nabi Muhammad. Mereka lalu membukakan pintu untuk Umar, sedangkan Hamzah bersama seorang sahabat lainnya mengawal Umar untuk bertemu Rasulullah.

Baca Juga  Kehendak Tuhan dan Kehendak Manusia dalam Eksistensialisme Muhammad Iqbal

Kemudian, Rasulullah berkata, “Izinkan dia masuk.” Umar pun masuk dan Nabi bangkit menyambutnya dan menarik baju Umar dengan kuat dan berkata, “Apa yang membuatmu datang ke sini, wahai putra al-Khattab? Demi Allah, menurutku engkau tidak akan berhenti sampai Allah menurunkan bencana atasmu!”

Umar segera menjawab, “Wahai Rasulullah, aku datang kepadamu untuk menyatakan keimananku kepada Allah dan rasul-Nya serta apa yang dibawanya dari sisi Allah.” Maka, Rasulullah mengucapkan takbir.

Mendengar hal itu, seisi rumah pun tahu bahwa Umar telah masuk Islam. Para sahabat bangkit dari tempatnya masing-masing. Mereka merasa lebih dimuliakan oleh Allah ketika Umar masuk Islam bersama Hamzah ibn ‘Abdul Muththalib, dan mengetahui bahwa mereka akan membela Rasulullah dari musuh-musuhnya.

Masuknya Umar bin Khattab ke dalam Islam merupakan kekuatan yang sangat besar dan berharga bagi dakwah Islam. Umar memberikan masukan kepada Nabi Muhammad untuk melakukan syiar Islam secara terang-terangan, bukan secara diam-diam seperti yang selama ini dijalankan oleh Nabi Muhammad. Sehingga sejak itulah Islam disebarkan secara terang-terangan. [AR]

Hanifah Nur Azizah Mahasiswi UIN Raden Mas Said Surakarta