Mengenang Prof Ridlwan Nasir, Ini Pesan dan Ijazahnya

Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Penulis masih tidak percaya. Bahwa sosok dosen yang mengajarnya di Program Doktoral Universitas KH Abdul Chalim (UAC) Mojokerto, Prof KH M Ridlwan Nasir telah berpulang, Rabu (15/01/2025).

Meski bertemu dalam waktu yang sangat singkat, tepatnya dua minggu sekali setiap sabtu pagi dari tanggal 2 November hingga 28 Desember 2024, penulis bersyukur telah menjadi murid dan mendapatkan momentum istimewa untuk mendokumentasikan pesan dan amalan yang diijazahkan oleh Pembina Pondok Pesantren Kota (PPK) Alif Laam Miim Surabaya tersebut.

“Saat membahas ayat Al-Quran, wajib ditulis ayatnya, sebab Al-Quran itu bil lafdzi. Terjemahnya diketik tegak. Dulu ditulis miring, calon doktor harus tegak”. Begitu kira-kira pesan yang selalu diulang sekaligus humor yang disampaikan Dosen Mata Kuliah Al-Quran dan Tafsir Tematik UAC Mojokerto itu.

Sebagai murid, kami pun sering tertawa saat Beliau mengajar. Hanya saja, sebab keasyikan tertawa dan menulis catatan penting hingga ijazah dari Beliau, penulis menyesal tak menulis humornya. Apalagi menulis humor itu butuh keahlian khusus sebenarnya. Menurut Prof Ali Aziz, memang Prof Ridlwan memiliki stock humor yang melimpah. “Di manapun Mas Ridlwan ini ada, pasti ada humor terbaru. Makanya Beliau ini awet muda dan tampaknya nggak pernah susah”, kesannya yang menjuluki Prof Ridlwan sebagai Doctor Humoris Causa (Imtiyaz.Id, 2017).

Ada tiga ijazah, amalan, dan pesan penting dari dosen kami sekaligus Mustasyar Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur Masa Khidmat 2024-2029 itu yang berhasil penulis catat.

Pertama. Untuk memperkuat daya ingat bisa membaca basmalah sebanyak 786 kali dalam sehari. Sedangkan agar tidak mudah pikun, baca Sanuqri’uka fa la tansa illa ma sya’allah setiap selesai menunaikan sholat wajib. Lafadz itu merupakan sebagian ayat 5 dan 6 Surat Al-A’la.

Kedua. Menurut Prof Ridlwan, dalam mencapai kesuksesan dan kebahagiaan hidup, hanya 20 persen yang dapat ditempuh dengan ikhtiar lahir, 80 persen sisanya ditempuh dengan doa dan tirakat. Beliau memberi ijazah agar membaca Shalawat Badawiyah (Yang Kubro) setiap malam. Ijazah ini Beliau dapatkan dari KH Adlan Aly yang mendapatkan ijazah dari Mbah Hamid Pasuruan. Shalawat Badawiyah dihafal dan dibaca dengan duduk tanpa bergerak atau bergeser serta tidak boleh dalam keadaan mengantuk. Shalawat Badawiyah atau Shalawat Nuraniyah ini disusun oleh Wali Quthb asal Mesir, Sayyid Ahmad Badawi.

Ketiga. Agar terhindar dari sifat hasut dan marah, selalu menjaga wudhu. Prof Ridlwan sejak tahun 1967 hingga pesan ini kami terima, selalu menjaga wudhunya. Ketika batal, Beliau akan berwudhu, bahkan pernah harus bertayamum untuk menjaga kesucian diri.

Selain itu, pesan bagi seseorang yang sedang belajar, hendaknya puasa Senin Kamis. Sedangkan bagi seorang guru atau dosen, Prof Ridlwan memberi teladan untuk selalu mendoakan anak didiknya. Kisah inspiratif kehidupan secara lengkap dari Prof Ridlwan dapat dibaca di Buku Menyongsong Takdir, Meniti Asa yang diterbitkan oleh Penerbit Imtiyaz Surabaya pada tahun 2016.

Sabtu, 28 Desember 2024, Prof Ridlwan pamit kepada kami, mahasiswa S3 UAC Mojokerto, untuk umrah, ke Baitullah, bersama rombongan Prof KH Asep Saifuddin Chalim. Rabu malam, Beliau benar-benar berpulang ke rumah Allah.

Sekali lagi, penulis bersyukur dapat menjadi murid Prof Ridlwan. Terima kasih.

1
Post Lainnya

Arrahim.id merupakan portal keislaman yang dihadirkan untuk mendiseminasikan ide, gagasan dan informasi keislaman untuk menyemai moderasi berislam dan beragama.