Buya Syafii dan Masa Depan Umat Islam Indonesia

Ada satu pertanyaan yang kerap menggema dari pemikiran Buya Ahmad Syafii Maarif apakah umat Islam akan selamanya hidup dalam bayang-bayang masa lalu yang membelenggu, atau berani menatap masa depan dengan akal sehat dan nurani merdeka? Pertanyaan ini bukan sekadar refleksi akademis, melainkan jeritan kegelisahan seorang intelektual Muslim yang sepanjang hayatnya bersetia pada kebenaran dan kemanusiaan.

Buya melihat bahwa sejak Perang Shiffin di abad pertama Islam, umat telah terseret dalam kubangan konflik politik yang kemudian dilembagakan menjadi identitas teologis Sunni, Syiah, Khariji. Identitas itu awalnya hanyalah produk sejarah, lahir dari perebutan kekuasaan, tetapi kemudian diperlakukan layaknya titah suci. “Sejarah telah dikultuskan, dan umat Islam terperangkap dalam warisan pahit yang sesungguhnya lahir dari konflik politik yang dibungkus ayat dan hadis” (Maarif, 2015: 92). Di situlah tragedi bermula.

Bagi Buya, membebaskan diri dari belenggu masa lalu adalah syarat mutlak jika Islam ingin kembali berfungsi sebagai rahmatan lil alamin. Jika tidak, umat hanya akan menjadi “khaira ummah” di tataran teks, tetapi gagal di realitas sejarah.

Buya kerap mengkritik wajah Islam kontemporer yang sering kali lebih menampilkan kekerasan ketimbang keramahan. Padahal, Islam dalam teks Al-Qur’an jelas menekankan persaudaraan universal, tolong-menolong, dan keadilan. Namun dalam kenyataan, justru perpecahan, kekerasan, dan intoleransi lebih sering dipertontonkan.

Di titik ini, Buya menyerukan pembumian Islam. Islam jangan hanya mengawang di langit cita-cita, tetapi harus hadir dalam praksis sosial yang menyejukkan. Ia menolak Islam yang sekadar menjadi label politik atau hiasan kekuasaan. “Islam bukanlah ideologi politik, melainkan kekuatan moral yang mengarahkan politik agar tidak terjerumus dalam kerakusan” (Maarif, 2015: 133).

Salah satu gagasan penting Buya adalah ajakan untuk menjadi Muslim otentik. Muslim yang otentik bukan berarti eksklusif atau terasing, melainkan Muslim yang berani berpikir dengan akal sehat, merdeka dari belenggu sejarah berdarah, serta berpegang pada etika Al-Qur’an.

Ia menolak kesalehan palsu yang diwujudkan dalam intoleransi. Kesalehan, kata Buya, seharusnya melahirkan kebaikan universal, bukan kebencian. Karena itu, ia kerap mengingatkan umat agar tidak larut dalam penyembahan buta pada sejarah. “Tugas sejarah bukan untuk disembah, melainkan untuk dipelajari agar kita tidak jatuh ke lubang yang sama” (Maarif, 2015: 97).

Islam, Indonesia, dan Pancasila

Bagi Buya, Islam tidak bertentangan dengan Pancasila. Justru Pancasila adalah jalan tengah yang memungkinkan Islam hadir sebagai kekuatan moral tanpa harus dipaksakan menjadi sistem politik formal.

Ia pernah mengatakan, “Pancasila adalah titik temu yang mengizinkan semua agama bernafas, dan Islam tidak kehilangan apa-apa dengan berdiri di bawahnya. Sebaliknya, Islam justru berkontribusi pada substansi moral Pancasila” (Maarif, 2015: 212).

Metafora Buya yang terkenal menegaskan hal ini: “Islam itu seperti garam, tidak terlihat tetapi terasa. Bukan seperti lipstik yang terlihat tetapi tidak terasa.” Nilai Islam semestinya menyatu dalam kehidupan bangsa secara substantif, bukan sekadar simbolik.

Ironisnya, meskipun umat Islam adalah mayoritas di Indonesia, kualitas hidup masyarakat Muslim masih jauh tertinggal. Kemiskinan, rendahnya pendidikan, dan intoleransi masih menjadi wajah keseharian. Buya menyebut fenomena ini sebagai mayoritas tunakualitas.

“Menjadi mayoritas secara kuantitatif tidak menjamin keunggulan secara moral dan intelektual. Justru, jika kualitasnya rendah, mayoritas hanya akan menjadi beban sejarah” (Maarif, 2015: 186). Kritik ini menohok, sebab umat yang seharusnya memimpin, justru sering kali menjadi penghambat kemajuan.

Membebaskan Islam dari Perdagangan Agama

Salah satu kritik paling tajam Buya adalah terhadap fenomena “perdagangan agama”. Ia mengecam keras kelompok-kelompok yang menggunakan ayat suci sebagai alat legitimasi kepentingan politik atau ekonomi.

“Agama dijadikan komoditas politik adalah bentuk pengkhianatan terbesar terhadap pesan sucinya. Ayat Tuhan dijadikan stempel bagi syahwat kekuasaan manusia” (Maarif, 2015: 141).

Inilah yang membuatnya kerap berseberangan dengan arus besar. Ketika banyak tokoh agama menganggap Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menista agama, Buya justru membela dengan argumen bahwa Ahok tidak melakukan penistaan. Sikap ini membuatnya diserang, tetapi sekaligus menunjukkan keberanian moral yang jarang dimiliki tokoh lain.

Menyambut Masa Depan dengan Akal Sehat

Gagasan Buya Syafii Maarif sebenarnya sederhana, tetapi sangat revolusioner: jangan biarkan sejarah membelenggu masa depan. Islam harus menjadi energi moral untuk membangun keadilan, persaudaraan, dan kemanusiaan.

“Demokrasi adalah satu-satunya jalan bagi bangsa ini. Hilangnya demokrasi berarti hilangnya kemerdekaan Indonesia” (Maarif, 2015: 163). Pandangan ini menunjukkan betapa Buya percaya bahwa demokrasi, meski lahir dari Barat, sejalan dengan prinsip syura dalam Islam.

Warisan pemikiran Buya Ahmad Syafii Maarif adalah ajakan untuk berpikir jernih, beragama dengan hati yang lapang, dan berbangsa dengan akal sehat. Ia ingin umat Islam keluar dari jebakan romantisme masa lalu, berhenti memuja kotak-kotak sejarah, dan kembali pada pesan utama Al-Qur’an: membangun persaudaraan universal.

Jika umat Islam terus terjebak pada masa lalu, maka wajah Islam akan tetap buram, penuh konflik, dan kehilangan daya tarik moral. Tetapi jika berani membebaskan diri, Islam akan kembali menjadi cahaya yang menerangi, garam yang memberi rasa, dan rahmat bagi semesta.

Inilah tantangan kita hari ini apakah kita mau tetap menjadi umat mayoritas tunakualitas, atau memilih jalan menjadi Muslim otentik yang mewarisi semangat Buya Syafii Maarif.

0

Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Hukum, Universitas Islam Malang

Post Lainnya

Arrahim.id merupakan portal keislaman yang dihadirkan untuk mendiseminasikan ide, gagasan dan informasi keislaman untuk menyemai moderasi berislam dan beragama.