Hani Pratiwi Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya

Bagaimana Logika Memandu Kita Menuju Keputusan yang Tepat?

2 min read

Di tengah hiruk pikuk kehidupan, kita sering dihadapkan pada berbagai pilihan. Dari hal kecil seperti memilih menu sarapan, memilih pakaian yang ingin dipakai, hingga keputusan besar yang menentukan masa depan.

Kemampuan kita untuk mengambil keputusan yang tepat bisa menjadi kunci untuk mencapai kebahagiaan dan kesuksesan bagi diri kita sendiri. Namun, keraguan dan kebingungan sering kali menghambat kita dalam mengambil keputusan tersebut.

Ada beberapa dasar pengambilan keputusan menurut Brinckloe dan George R.Terry yang bisa digunakan dalam mengambil suatu keputusan (Hayati, 2019: 1-2), yaitu instuisi (kemampuan memahami tanpa penalaran), pengalaman, fakta, wewenang, dan logika/rasional.

Dari beberapa teori pengambilan keputusan tersebut, artikel ini akan membahas mengenai bagaimana kita mengambil keputusan yang tepat dengan menggunakan teori logika atau rasional.

Logika adalah sebuah ilmu yang mempelajari mengenai aturan-aturan pemikiran yang benar, serta juga dijadikan sebagai jembatan untuk mencapai kesimpulan yang valid (Puling et al., 2024).

Sebuah analisis menyatakan pada dasarnya logika tidak bisa mengambil keputusan apa pun, karena apa yang ingin dicapai dan apa yang tidak ingin ditoleransi tidak dapat ditentukan oleh logika.

Logika abstrak tidak memiliki tujuan ataupun keinginan apa pun (Decision Making: Between Emotions and Logic – Eli Schragenheim, n.d.). Lantas, apa peran logika kita dalam pengambilan keputusan yang tepat?

Logika merupakan suatu kerangka berpikir yang sistematis dan rasional, serta yang memungkinkan kita untuk mengevaluasi pilihan kita secara objektif. Dalam pengambilan suatu keputusan, logika yang kita miliki akan membantu kita untuk melihat masalah tersebut lewat beberapa sudut pandang.

Logika juga akan membantu kita untuk mengevaluasi secara alternatif pengalaman pengambilan keputusan yang pernah diri kita lakukan pada masa yang sudah terlewat. Nantinya logika juga akan membantu kita dalam memilih solusi terbaik untuk mengambil keputusan tersebut.

Baca Juga  Ketika Muslim Turki Melihat Islam di Indonesia

Namun, dalam pengambilan sebuah keputusan, logika hanya menjadi pemandu kita untuk mendapatkan kesimpulan, yang mana keputusan akhirnya akan ditentukan oleh emosi dari diri kita sendiri.

Contohnya, seperti saat kita sedang sangat marah kepada seseorang, logika kita akan memunculkan dua pilihan untuk kita pilih salah satunya. Anggap saja pilihan pertamanya adalah ‘haruskah kita memukul orang tersebut’ atau pilihan lainnya yang justru ‘memperingatkan kita untuk tidak memukul orang tersebut’ karena menimbang kemungkinan yang akan terjadi setelahnya.

Pada fase ini, sebuah keputusan akhir akan ditentukan oleh emosi pada diri kita sendiri. Dan pada akhirnya, emosi dari diri kitalah yang akan menentukan akhir dari keputusan yang kita pilih, karena setiap keputusan bersifat emosional. Setelah keputusan tersebut kita ambil, logika kita akan digunakan untuk membenarkan keputusan tersebut kepada orang lain.

Di sisi lain, logika juga memegang peran paling penting dalam mengambil sebuah keputusan itu sendiri. Dan setiap keputusan akan melibatkan pilihan. Dalam konteks ini, logika akan membantu memastikan jika premis yang digunakan dalam membuat keputusan tersebut sudah berdasarkan pada fakta yang benar dan argumen yang valid.

Tanpa penggunaan logika yang kuat dalam membuat keputusan, nantinya akan menimbulkan risiko kesalahan dalam penalaran yang berakibat terhadap pengambilan keputusan yang kurang tepat (Puling et al., 2024).

Sedangkan dengan menggunakan logika yang baik dalam pengambilan suatu keputusan, akan memungkinkan kita untuk lebih memahami tentang situasi yang terjadi, menganalisis informasi dengan cara yang sistematis, serta bisa menghindari kesalahan dalam penalaran.

Selain itu, kita harus menyadari fakta bahwasanya emosi diri kita adalah efek yang menimbulkan efek lain seperti perilaku, respons, pandangan, dan tentunya juga keputusan.

Baca Juga  Membangun Spirit Literasi Qur’ani di Era Digital

Dampak yang disebabkan oleh emosi tidak boleh kita anggap tidak rasional, karena sering kali hal-hal tersebut mencerminkan rasionalitas sempurna ketika kita berhasil memahami emosi diri kita. Ada dua kategori emosi yang berperan terhadap logika kita dalam pengambilan suatu keputusan, yakni emosi integral dan emosi insidental (Decision Making: Between Emotions and Logic – Eli Schragenheim, n.d.).

Pertama, emosi integral. Emosi jenis ini biasa muncul secara langsung saat kita sedang menghadapi suatu situasi atau tugas (Emotion – Wikipedia, n.d.). Seperti contoh saat kita sedang merasa cemas ketika menghadapi soal-soal ujian, saat kita merasa senang karena berhasil mencapai tujuan yang kita inginkan, dan saat kita merasa marah terhadap sesuatu yang membuat kita merasa diperlakukan tidak adil.

Kedua, emosi insidental. Emosi insidental berkebalikan dengan emosi integral. Emosi jenis ini tidak terkait langsung dengan situasi atau tugas yang sedang kita hadapi (Emotion – Wikipedia, n.d.).

Contohnya seperti suasana hati yang buruk. Kita akan mudah merasa tersinggung saat suasana hati kita buruk. Contoh lainnya adalah perasaan sedih ketika kita kehilangan orang tersayang yang bisa membuat kita merasa sedih dan depresi. Hal itu juga bisa memengaruhi kita dalam mengambil keputusan.

Rasa takut adalah sumber utama dari berbagai emosi yang nantinya akan berdampak besar terhadap keputusan yang kita pilih. Logika kita tidak memaksa kita untuk menjadi berani ataupun pengecut. Pola perilaku menentukan keputusan ini ditentukan oleh emosi kita, dan kemudian logika akan dapat mengambil tujuan dan mencari cara terbaik untuk menanganinya. [AR]

Hani Pratiwi Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya