Mengapa Kesehatan Mental Gen Z Bermula dari Keluarga?

Istilah mental health ()bukan lagi hal asing, terutama di kalangan Generasi Z. Sering kita lihat Media sosial penuh dengan cerita tentang depresi, kecemasan, rasa kesepian, hingga keinginan untuk menyerah pada hidup. Di sisi lain, kita juga sering mendengar berita tentang anak muda yang terjerumus ke narkoba, minuman keras, tawuran, begal, dan berbagai bentuk kenakalan remaja lainnya.

Fenomena ini sering kali dipandang sebagai kesalahan anak semata sehingga anak terebut selalu dicap sebagai “anak nakal”, padahal jika ditelusuri lebih dalam, banyak luka itu justru bermula dari rumah. Walaupun tidak bisa kita pungkiri, tidak sedikit pula anak yang rusak karena faktor lingkungan dan pergaulan.

Rumah seharusnya menjadi tempat paling aman bagi seorang anak. Tempat pulang, tempat bercerita, dan tempat menerima kasih sayang tanpa syarat. Namun, realitanya tidak selalu demikian.

Tidak sedikit anak yang tumbuh dalam keluarga broken home, pertengkaran orang tua, atau bahkan rumah yang dingin tanpa komunikasi. Anak mungkin tetap tinggal serumah dengan ayah dan ibu, tetapi secara emosional merasa sendirian dan diabaikan. Luka-luka inilah yang kemudian terbawa hingga remaja, bahkan dewasa.

Generasi Z hidup di zaman yang serba cepat dan penuh tekanan. Tuntutan akademik, perbandingan hidup di media sosial, dan ekspektasi lingkungan membuat mereka rentan secara mental.

Ketika anak tidak memiliki tempat aman di rumah untuk mengeluh dan didengar, mereka akan mencari pelarian di luar. Sebagian menemukan pelarian dalam pergaulan bebas, alkohol, narkoba, atau perilaku menyimpang lainnya. Bukan karena mereka ingin menjadi “anak nakal”, tetapi karena ada kekosongan kasih sayang yang tidak terpenuhi.

Banyak kasus menunjukkan bahwa anak yang terlibat narkoba atau kekerasan berasal dari latar belakang keluarga yang bermasalah. Kurangnya perhatian orang tua, komunikasi yang kaku, atau pola asuh yang terlalu keras membuat anak merasa tidak berharga. Menurut laporan World Health Organization (WHO), kesehatan mental remaja sangat dipengaruhi oleh lingkungan keluarga, terutama dukungan emosional dari orang tua (2021). Artinya, keluarga memiliki peran besar dalam membentuk ketahanan mental anak.

Hal ini bukan sekadar cerita atau asumsi belaka. Realitas seperti ini benar-benar terjadi di sekitar kita. Saya sendiri pernah mengalaminya ketika masih menempuh pendidikan di sebuah pesantren yang banyak menerima santri dengan latar belakang keluarga broken home.

Dari pengalaman tersebut, saya melihat secara langsung adanya perbedaan sikap dan perilaku antara anak-anak yang tumbuh dengan kasih sayang orang tua dan mereka yang berasal dari keluarga yang kurang harmonis. Anak yang mendapat perhatian dan dukungan emosional cenderung lebih tenang, percaya diri, dan mudah diarahkan.

Sementara itu, anak dengan latar belakang broken home sering menunjukkan sikap tertutup, mudah marah, atau kesulitan mengontrol emosi. Pengalaman ini membuat saya sadar bahwa kondisi keluarga sangat berpengaruh terhadap pembentukan kepribadian dan kesehatan mental seorang anak.

Dalam perspektif agama, peran orang tua sebenarnya sudah sangat jelas dan mulia. Islam memandang keluarga sebagai madrasah pertama bagi anak. Ungkapan terkenal “al-ummu madrasatul ūlā” (ibu adalah sekolah pertama) bukan sekadar slogan, tetapi pesan mendalam tentang tanggung jawab orang tua.

Seorang ibu, dan tentu juga ayah, bukan hanya memberi makan dan pendidikan formal, tetapi juga menanamkan nilai, kasih sayang, dan keteladanan.

Rasulullah SAW bersabda:

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ، أَوْ يُنَصِّرَانِهِ، أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci). Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menegaskan bahwa baik buruknya anak tidak bisa dilepaskan dari peran orang tua. Jika rumah dipenuhi cinta, dialog, dan keteladanan, anak akan tumbuh dengan jiwa yang kuat. Sebaliknya, jika rumah dipenuhi amarah, kekerasan, dan pengabaian, luka itu akan dibawa anak ke mana pun ia pergi.

Menyelamatkan Generasi Z tidak cukup hanya dengan sekolah, konselor, atau aturan hukum. Semua itu penting, tetapi fondasinya tetap peran keluarga. Orang tua perlu hadir secara emosional, bukan hanya secara fisik. Mendengarkan cerita anak, memahami dunianya, dan memberikan rasa aman adalah bentuk kasih sayang yang paling sederhana, tetapi sering dilupakan.

Pada akhirnya, generasi yang kuat lahir dari rumah yang sehat. Jika hari ini banyak anak muda yang terluka, mungkin sudah saatnya kita bertanya, apakah rumah benar-benar sudah menjadi tempat pulang bagi mereka.

Luka dari rumah tidak selalu terlihat, tetapi dampaknya sangat nyata; dan dari rumah pula, penyembuhan itu seharusnya dimulai.

10

Mahasiswa UIN Raden Mas Said Surakarta

Post Lainnya

Arrahim.id merupakan portal keislaman yang dihadirkan untuk mendiseminasikan ide, gagasan dan informasi keislaman untuk menyemai moderasi berislam dan beragama.