Karimatus Solehah Mahasiswi Tasawuf dan Psikoterapi UIN Sunan Ampel Surabaya

Mengenang Tuan Guru Zuhdi: Figur Alim Karismatik nan Santun Asal Banjarmasin

3 min read

(Foto KH. Ahmad Zuhdiannor kerap disapa Guru Zuhdi. [Kanal Kalimantan] gambar diambil dari sumber suara.com)
(Foto KH. Ahmad Zuhdiannor kerap disapa Guru Zuhdi. [Kanal Kalimantan] gambar diambil dari sumber suara.com)

Kalimantan Selatan merupakan provinsi yang dihuni oleh orang suku Banjar, di mana mayoritas mereka pemeluk agama Islam. Banjar telah mengalami perkembangan cukup dinamis disebabkan oleh perubahan sosial, politik, dan budaya yang terjadi di sepanjang sejarah. Perubahan ini menyangkut kedudukan dan peran sosial seorang ulama menyangkut persepsi masyarakat tentang berbagai kriteria yang harus dimiliki seseorang yang dianggap sebagai ulama.

Baru-baru ini, jagad media sosial diramaikan dengan kabar meninggalnya seorang tokoh karismatik. Guru Zuhdi, begitulah ia lebih akrap disapa ia adalah tokoh Banjarmasin, kota yang semakin padat dan metropolis. Dalam sekejap, berita itu tersebar luas. Melihat popularitas Guru Zuhdi yang mungkin tidak hanya di bumi Nusantara, tapi juga di manca negara, tak heran jika kepergian figur alim nan santun ini segera terdengar oleh khalayak luas.

Guru Zuhdi memiliki nama lengkap KH. Ahmad Zuhdiannor yang lahir Banjarmasin, 10 Februari 1972. Keluarga besar Guru Zuhdi tergolong keluarga agamis. Ia adalah putra dari pasangan K.H. Muhammad bin Jafri dan Hj. Zahidah binti KH. Asli. Sang ayah sendiri tidak lain merupakan tokoh dan ulama besar yang di senggani di Banjarmasin. Sama seperti KH. Asli (kakek Guru Zuhdi dari jalur ibu) yang juga termasuk ulama tersohor di Labio.

Guru Zuhdi sendiri memiliki sembilan orang bersaudara. Dua orang di antaranya sudah meninggal, sehingga ada tujuh orang yang masih hidup. Nama-nama saudara beliau, Hj. Naqiah, Sa‟aduddin, Jahratul Mahbubah, As‟aduddin, Zulkifli, Najiah, Nashihah, dan Nafisah dan mereka semua juga tekun dalam agama.

Kepribadian Guru Zuhdi dengan sifat tawadu dan santun membuat siapa saja tidak akan lupa dengannya.  Ia selalu berbaik sangka pada orang lain dan lemah lembut dalam bertutur kata. Guru Zuhdi amat konsisten berdakwah, mengisi pengajian dari satu majelis ke majelis lain. Selain itu, ia juga rutin memimpin majelis malam Jumat di Masjid Sabilal Muhtadin, Banjarmasin.

Baca Juga  Sumbangsih Islam Seputar Isu Korupsi

Guru Zuhdi adalah salah satu ulama yang dicintai dan dihormati bukan hanya oleh para jemaahnya. Selain menjadi guru spiritual dan panutan, ia juga sering pula dimintai pendapatnya mengenai hal-ihwal keagamaan maupun problematika kemasyarakatan. Mengenai riwayat pendidikannya, tercatat bahwa Guru Zuhdi hanya mengenyam pendidikan formal di tingkat SD atau sekolah dasar.

Setelah itu ia melanjutkan pendidikan di pondok pesantren Al-Falah dan itu berlangsung tidak lama hanya sekitar dua bulan saja. Karena sakit akirnya ia pun berhenti. Tidak hanya berhenti disitu saja, Guru Zuhdi kemudian belajar kembali pada sang Kakek yang berdomisili di Alabio kurang lebih selama satu tahun lamanya.

Di sana ia mendalami bermacam-macam ilmu keagamaan seperti Ilmu Tajwid, Fikih, Tashrif, Tauhid, dan Tasawuf. Kecintaanya pada ilmu membuatnya terus belajar dan tak pernah berhenti mengisi dimensi pengetahuannya. Sepulang dari Alabio, Guru Zuhdi kembali ke Banjarmasin dan belajar pada sang ayah. Selama di Banjarmasin, ia juga belajar kepada KH. Abd. Syukur Teluk Tiram.

Kitab-kitab yang ia pelajari selama nyantri: Bidang tauhid, Syarah Hud Hudi, Syarah Dasuqi, Matan Sanusiah, dan Kifayatul Awal. Bidang tasawuf, Bidayatul Hidayah, Minhajul Abidin, Ihya Ulumuddin, dan Taqribul Ushul. Bidang fikih, Syarah Sitin, Syarah Bajuri karya Syekh, dan Syarah Ianat al-Thalibin. Sedangkan pada ilmu nahwu, Matan Jurumiah, Mukhtasar Jidan, Syarah Syekh Khalid, Alfiah Ibnu Malik dan masih banyak kitab lainnya.

Guru Zuhdi pernah mengajar selama sekitar dua tahun di Pondok Pesantren Al Falah. Aktivitas ia sendiri membuka pengajian di Mesjid Jami setiap Malam Ahad, pengajian di rumah Guru Zuhdi Malam Sabtu, pengajian di Teluk Dalam, Langgar Darul Iman malam selasa, dan pengajian di Sabilal Muhtadin malam Jumat. Ia biasanya tidak bersedia di undang pada peringatan hari-hari besar Islam, dan hanya memfokuskan diri pada pengajian saja.

Baca Juga  Melihat Kembali Hadis-Hadis Populer tentang Ramadan Yang (Ternyata) Lemah

Mengenai beragam kisah kewalian Guru Zuhdi, ia dikenal dengan sebutan Kiai Nyentrik dalam artian membela kebenaran dengan jalan damai. Selain mengaji dan berdakwah, ia juga sangat dekat dengan beberapa klub sepak bola di Kalimantan Selatan seperti Barito Putra. Ia juga aktif menjadi anggota relawan pemadam kebakaran di Banjarmasin.

Keistimewaan dari tokoh masyarakat ini terletak pada konsistensi yang dikagumi oleh para pengikutnya. Guru Zuhdi, sering mengajarkan tauhid dan tasawuf, ia menekankan betapa pentingnya membersihkan hati, tampil sebagai tokoh rendah hati yang tulus. Ia juga konsisten di jalur agama, tidak mau ikut dalam permainan politik, seperti mendukung politisi tertentu dalam pemilu.

Guru Zuhdi sering disebut-sebut sebagai murid kesayangan dan penerus Guru Sekumpul. Pengaruh Syekh Muhammad Zaini bin Abdul Ghani atau Abah Guru Sekumpul sangat membekas dalam kepribadian Guru Zuhdi. Jalan dakwah Abah Guru Sekumpul diteruskan salah satunya oleh Guru Zuhdi.

Ini terlihat jelas dalam pengajian yang ia gelar dan bacaan-bacaannya berasal dari catatan tangan Majelis Guru Sekumpul. Karismanya melekat dan khas sekali. Tak heran jika seolah kehadiran Guru Zuhdi menjadi obat kerinduan masyarakat pada Abah Guru Sekumpul. Sebagai ulama ternama, ilmu yang dimiliki Guru Zuhdi sangat luas. Ia menguasi Fikih, Tashrif, Tauhid, Tasawuf, Nahwu, Tajwid dan beragam keilmuan lainnya.

Merujuk teori Weber, maka kita akan menemukan kesulitan perihal karisma yang diwariskan ini. Weber memang mengakui bahwa karisma itu ada yang bersifat kekeluargaan, tetapi menurutnya, karisma yang diwariskan akan mudah redup. Namun jika kita melihat fenomena Guru Zuhdi, maka kita tak bisa menolak bahwa faktor keturunan bisa menjadi dasar bagi terciptanya karisma.

Karisma mungkin tidak akan bertahan. Dilihat dari kemampuan beliau merespons kebutuhan masyarakat, mungkin lebih menentukan ketimbang faktor keturunan. Hal ini mungkin pula dapat menjelaskan, mengapa Guru Zuhdi yang secara garis keluarga tidak berhubungan langsung dengan al-Banjari, tetapi sedikit banyak “mewarisi” karisma Guru Sekumpul. Ia dianggap demikian karena penampilan dan sikapnya amat mirip dengan sang Guru.

Baca Juga  Tentang Hidayah Tuhan yang Selalu Menjadi Misteri

Guru Zuhdi meninggal pada Sabtu, 2 Mei 2020 tepat pada Ramadhan ke-8 1441 H di rumah sakit Medistra Jakarta pukul 06.43 WIB. Kepergiannya menyisakan isak tangis dan duka mendalam. Masyarakat muslim Nusantara dan lebih khusus para jemaahnya merasa kehilangan. Namun setiap ajaran yang telah ia wariskan akan membuatnya selalu dikenang.

Al-Fatihah untuk Guru Zuhdi, semoga amal jariyah beliau diterima dan ditempatkan di sisi Allah SWT. [MZ]

Karimatus Solehah Mahasiswi Tasawuf dan Psikoterapi UIN Sunan Ampel Surabaya

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *