



Tatkala setelah merasa cukup menimba ilmu di Makkah, Kholil pun memutuskan untuk pulang ke Pulau Jawa. Sebagai seorang pencari ilmu dan mengemban misi keulamaan, ia merasa menanggung kewajiban untuk membagikan ilmu yang telah didapatkannya dari berbagai wilayah. Namun, Sepulang dari Makkah, ia tidak langsung mendirikan pesantren terlebih dahulu, tetapi ia berusaha berpikir guna mencari cara untuk mengamalkan ilmunya bahkan ia sempat bekerja sebagai penjaga malam di Kabupaten Bangkalan.
Mulanya Syaikh Kholil mulai berpikir bagaimana caranya agar dapat mengajarkan ilmunya pada masyarakat. Saat itu ia masih tinggal bersama kakaknya, yaitu Nyai Maryam di Keramat, yang notebenenya sebagai kakak yang dititipi oleh Kyai Abdul Lathif untuk mengasuhnya selama ditinggal berdakwah. Sambil mencari peluang untuk mengamalkan ilmunya, Syekh Kholil mengisi waktu dengan bekerja di kantor pejabat Adipati Bangkalan. Selain untuk mencari nafkah, sepertinya ia juga bermaksud untuk mencari banyak teman dan kenalan karena hanya dengan begitulah ia dapat bergaul.
Di kantor pejabat Adipati Bangkalan itu, Syekh Kholil diterima sebagai penjaga dan bertugas menjadi penjaga malam. Maka, setiap bertugas saat malam hari, Syekh Kholil selalu membawa kitab. Beliau rajin membaca di sela-sela tugas beliau. Akhirnya ia pun oleh para pegawai Adipati dikenal sebagai ahli baca kitab dan berita itu pun sampai kepada Kanjeng Adipati. Kebetulan, leluhur Adipati sebenarnya adalah orang-orang alim.
Mereka memang keturunan Syarifah Ambani Ratu Ibu yang nasabnya bersambung pada Sunan Giri. Maka, tidak aneh jika di rumah Adipati banyak terdapat kitab-kitab berbahasa Arab warisan leluhur walupun Adipati sendiri tidak dapat membaca kitab berbahasa Arab. Adipati pun mengizinkan Syekh Kholil untuk membaca kitab-kitab itu di perpustakaan yang ia miliki. Syekh Kholil merasa girang bukan main karena pada zaman itu tidak mudah untuk mendapatkan kitab, apalagi sebanyak itu.
Setelah Adipati Bangkalan yakin bahwa Syekh Kholil betul-betul ahli dalam ilmu keIslaman dan bahasa Arab, maka Kanjeng Adipati mengganti tugas Syekh Kholil dari tugas menjaga kantor berubah menjadi tugas mengajar keluarga Adipati. Pucuk dicinta ulam pun tiba, demikianlah yang dirasakan oleh Syekih Kholil. Ia pun memanfaatkan kesempatan itu untuk mengembangkan ilmunya dengan mengajar keluarga bangsawan. Akhirnya Ia pun memiliki profesi baru sebagai pengajar ilmu agama.
Sejak saat itu, Syekh Kholil memiliki tempat terhormat di hati Kanjeng Adipati dan keluarga bangsawan lainnya. Mereka mulai menghormati dan mencintai Syekh Kholil sebagai ulama. Maka tertariklah seorang kerabat Adipati untuk mengangkat Syekh Kholil sebagai menantu, ia adalah Raden Ludrapati yang memiliki anak gadis yang bernama Nyai Asyik. Setelah proses pendekatan, maka diputuskan sebuah kesepakatan untuk menikahkan Syekh Kholil dengan Nyai Asyik. Akad pernikahan pun berlangsung pada 30 Rajab 1278 H/ sekitar 1861 M.
Setekah menikah dengan Nyai Asyik, Syekh Kholil mendapatkan hadiah dari sang mertua, Raden Ludrapati, berupa sebidang tanah di desa Jangkibuan. Ia pun membangun rumah dan pesantren di tanah itu. Ia mulai menerima santri sambil masih mengajar di Keraton Adipati. Tidak ada riwayat yang menerangkan sampai kapan Syekh Kholil mengajar di Keraton Adipati. Namun yang pasti, Pesantren Jangkibuan (Cengkubuan) semakin hari semakin ramai. Banyak santri berdatangan dari berbagai penjuru, baik dari sekitar Bangkalan maupun daerah lain di Madura dan Jawa.
Di sisi lain, setelah kepulangan Syekh Kholil dari Arab, ia dikenal sebagai ahli fiqih dan tarekat. Bahkan pada akhirnya dia pun dikenal sebagai salah seorang Kyai yang dapat memadukan kedua hal tersebut dengan serasi. Keahlian ini tentunya menjadi daya tarik bagi murid atau santri untuk berguru padanya di pondok pesantren tersebut. Maka dari hari kehari semakin banyak santri yang berdatangan dari desa-desa sekitarnya.
Namun setelah putrinya, Siti Khatimah menikah dengan Kyai Muntaha yang merupakan keponakannya sendiri, pesantren tersebut kemudian diserahkan kepada menantunya. Syekh Kholil sendiri kemudian mendirikan pesantren lagi di daerah Kademangan, hampir di pusat kota, sekitar dua ratus meter sebelah barat alun-alun kota Kabupaten Bangkalan.
Letak pesantren yang baru ini hanya berselang satu kilometer dari pesantren lama dan desa kelahirannya. Karena kealiman dan keilmuan agama sudah melekat pada dirinya dan sudah masyhur di Madura dan Jawa, maka di tempat yang baru ini, Syekh Kholil juga cepat memperoleh santri lagi. Bahkan santrinya tidak saja berasal dari daerah sekitar kampungnya saja, tetapi juga banyak dari tanah seberang pulau Jawa.
Maka tak heran apabila banyak ulama generasi 1900-an murid dari Syekh Kholil. Nama-nama besar para pendiri Nahdlatul Ulama sebagian besar merupakan murid dari Syekh Kholil. Prof. Abdurrahman Mas’ud, mengatakan bahwa Syekh Kholil merupakan salah satu arsitek pesantren di Madura dan Jawa. Namanya akan selalu dikenang oleh umat Islam Indonesia karena peran serta kontribusinya dalam segi pendidikan begitu besar. (MMSM)
Mahasiswa pascasarjana Universitas Sunan Giri Surabaya