Ahmad Khoiruddin Mahasiswa pascasarjana Universitas Sunan Giri Surabaya

Perempuan dalam Keluarga Islam

2 min read

Fitrah perempuan yang diposisikan sebagai orang yang dipimpin dinilai lemah dan cenderung lebih mengedepankan emosional (rasa).  Tidak bisa dipungkiri, sejarah telah menuliskan bahwa perempuan merupakan makhluk yang biasa di posisikan di bawah. Bahkan sebelum Islam masuk, masyarakat Arab menjadikan perempuan tidak lebih seperti barang yang bisa dibuat taruhan, diwariskan dan sebagai alat pemuas seksualitas laki-laki semata.

Terlebih lagi dalam lingkup kerajaan, di mana seorang raja memiliki permaisuri dan puluhan, ratusan hingga ribuan selir yang dijadikan sebagai pemuas seksual sang kaisar dalam memenuhi hasrat seksualnya. Begitupun dalam memperlakukannya jauh dari kata “sopan, lembut” sebagaimana bersikap kepada sesama manusia. Jika tidak bisa memenuhi keinginan kerajaan akan mendapat hukuman.

Islam hadir sebagai pembawa rahmat tidak luput memberikan perhatian kepada kaum perempuan. Islam mengangkat derajat perempuan dari posisi sebelumnya yang hanya dijadikan sebagai pemuas nafsu belaka. Penghargaan kepada perempuan juga disematkan dalam salah satu surat dalam al Quran yaitu surat an Nisa dan beberapa lagi juga menjadi sub-tema dalam surat al-Thalaq membicarakan tentang sikap kepada perempuan.

Kehadiran Islam di bumi ini sebagai rahmat salah satunya tujuan adalah memberikan bimbingan kepada para laki-laki (suami khususnya) untuk berperilaku baik, lemah-lembut, sopan santun kepada perempuan (istri). Dalam riwayat Muslim, Fathimah binti Qais sedang ditalak tiga oleh suaminya, lalu Rasulullah mengatakan nafkah dari mantan suaminya dan meminta kepadanya untuk member kabar jika masa iddahnya sudah habis.

Setelah masa iddah habis, Muawiyyah, Abu Jahn dan Usamah datang untuk melamarnya. Maka Rasul bersabda “Muawiyah adalah orang miskin, Abu Jahn adalah laki-laki yang sering memukul perempuan, Usamah bin Zaid saja”. Fathima bertanya, “kalau Usamah bagaimana?”, Rasul menjawab, “taat kepada Allah dan Rasul-Nya adalah baik bagimu”. Menurut Syekh Nada Abu Ahmad konteks hadits tersebut juga member peringatan Fathimah agar tidak menikah dengan Abu Jahn yang kasar dicirikan dengan suka memukul istri atau perempuan.

Baca Juga  Semai Persatuan dan Kesatuan Bangsa Sejak Lama, Nyai Sinta Nuriyah Dianugerahi Gelar Doktor

Dalam riwayat Bukhari dan Muslim pula disebutkan bahwa seorang lelaki yang memiliki iman sempurna adalah yang bersikap lemah lembut terhadap keluarganya. Riwayat tersebut jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia yaitu “orang yang imannya paling sempurna adalah orang yang paling baik akhlaknya, dan paling lembut (bergaul terhadap) keluarganya”.

Sangat sikron sekali jika akhlak terhadap keluarga sangat ditekankan dalam ajaran Islam. Manifesasi ajaran Islam sendiri memang berfokus pada akhlak al-karimah atau akhlak mulia. Sebagaimana ketika ‘Aisyah ditanya oleh Abu Bakar mengenai akhlak Nabi Saw lalu ia menjawab akhlak nabi adalah al-Qur’an. Sedangkan dalam al-Qur’an juga sangat jelas digambarkan bahwa nabi adalah seorang yang memiliki akhlak yang agung (khuluqil adhim).

Seorang yang beriman pasti akan memahami bahwa segala yang ia lakukan akan mendapatkan konsekuensi, secara langsung maupun selang waktu. Laki-laki yang beriman niscaya di dalam dirinya mempunyai rasa tanggung jawab untuk memperlakukan istri yang dicintainya dengan cara yang baik. Rasul telah menjelaskan mengenai tarbiyah kepada keluarganya yang langsung beliau gambarkan melalui dirinya, sebagaimana sabda beliau, “orang yang paling baik di antara kamu adalah orang yang paling baik terhadap pasangannya (istrinya). Dan aku adalah orang yang paling baik terhadap istriku”.

Begitu juga dalam sabda Nabi yang lain yang familiar di telinga kita, yaitu “orang yang paling baik di antara kamu adalah orang yang paling baik terhadap pasangannya (istrinya). Dan aku adalah orang yang paling baik terhadap istriku”. Dihikayatkan oleh an-Nu’man bin Basyir r.a, ia menuturkan bahwa Abu Bakar untuk bertemu dengan Nabi SAW, lalu dia mendengar ‘Aisyah r.a meninggikan suaranya di hadapan Nabi.

Baca Juga  Soekarno, Feminisme dan Kecerdasan Perempuan yang Diremehkan

Ketika telah diizinkan masuk, ia pun langsung mengatakan, “wahai putri Ummu Rumman, apakah engkau meninggikan suaramu di hadapan Rasulullah Saw?”. Ia lalu mengambilnya (dalam riwayat lain untuk menamparnya), tetapi Nabi SAW memisahkan antara Abu Bakar dan putrinya. Ketika Abu Bakar keluar, Nabi SAW mengatakan kepada ‘Aisyah untuk mengambil hatinya, “bukanlah kamu melihat bahwa aku telah memisahkan antara seseorang denganmu.”

Dari hikayat ini nampak sekali bahwa Rasul telah memberikan teladan bagaimana bersikap kepada istrinya. Padahal sebelumnya ‘Aisyah telah meningginkan suara di hadapannya (yang padahal di al-Qur’an telah terdapat larangan).  Namun Nabi malah bersikap lemah lembut dengan menenangnkannya dengan penuh cinta kasih.

Dalam hikayat yang lain, Rasul Saw juga pernah ditanya oleh seorang sahabat, “wahai rasulullah, bagaimanakah suami dan istri yang paling baik itu?, Rasul menjawab, “suami yang paling baik adalah suami yang sikap dan ucapannya selalu lembut terhadap istrinya, tidak pernah berbicara kasar, tidak pernah bersikap kasar, tidak pernah menyakiti perasaan istrinya, tetap menghormati dan menghargai istrinya.”

Dalam sebuah potongan video yang di bagikan oleh nitizen, K.H Anwar Mansyur pengasuh PP. Lirboyo Kediri dawuh yang dalam bahasa Indonesia redaksinya, “kalau orang baik itu pasti memuliakan perempuan, kalau tidak memuliakan perempuan pasti dia bukan orang baik”.

Dari sini kita mengetahui bagaimana rasul dan penerusnya (ulama) memberikan teladan dalam menggauli perempuan (istri). Karena perempuan bagaikan tulang rusuk yang bengkok, jika tidak lembut dalam memperlakukannya maka ia akan bisa patah, artinya rumah tangga bisa jadi rusak. Terlebih perempuan adalah madrasah pertama bagi anak, sehingga segala yang akan terjadi pada anak di mas depan dipengaruhi oleh keadaan diri istri. (MMSM)

Ahmad Khoiruddin Mahasiswa pascasarjana Universitas Sunan Giri Surabaya